
"Makan siang bareng yuk." Ajak Mira yang baru saja menghampiri Gladys.
"Saya gak di ajak?" Tanya Teddy.
"Yah udah. Kamu mau makan siang bareng gak?" tMTanya Mira pada Teddy dengan suara terpaksa. Dia seperti tidak rela mengajak teman satu kantornya itu makan siang bersama.
"Gak. Masih ada yang harus saya kerjakan. Terimakasih." Canda Teddy dengan suara di buat sinis.
Mira di buat geram dengan ucapan Teddy, dia menghembuskan napas kesal kepada Teddy. Sementara Gladys yang menjadi penonton tertawa kecil melihat mereka.
"Saya masih belum tau mau makan siang apa. Lagian kerjaan saya masih banyak." Ujar Gladys lalu tersenyum pada Mira. Dia melanjutkan kerjaannya.
"Ok lah kalau gitu." Ujar Mira.
"Bye bye resek." Ledek Mira pada Teddy lalu melangkah pergi.
"Bye bye cewek tukang marah." Balas Teddy.
***
Gladys melihat jam tangan yang dipakainya menunjukkan pukul 12.00. Dia lalu beranjak dari kursinya menuju ke ruang CEO.
Tok tok tok
Setelah dipersilahkan masuk Gladys melangkah menghampiri Bossnya yang kini melihat ke arahnya.
"Kak Mika ingin makan siang apa?" Tanya Gladys.
"Kamu ingin makan siang apa?" Tanya Mikael balik.
"Saya masih belum tau" Jawab Gladys.
"Gimana kalau kita makan siang di luar?" Tanya Mikael.
"Maaf Kak Mika. Pekerjaan saya masih banyak dan saya harus segera selesaikan. Jika nanti Kak Mika sudah mengetahui ingin makan siang apa segera beritahu saya " Ujar Gladys lalu berbalik dan hendak melangkah menuju ke pintu ruang CEO.
"Tunggu "
Langkah Gladys terhenti, dia lalu berbalik menghadap Bossnya.
"Kamu kenapa? Kamu sepertinya sedang menghindari saya " Ujar Mikael yang sedari tadi memperhatikan Gladys.
"Maaf Kak Mika. Saya hanya tidak ingin orang lain menilai saya yang tidak-tidak karena dekat dengan Kak Mika." Jawab Gladys.
Mikael yang mendengarnya langsung merasa kesal karena itu berarti Gladys ingin menghindar darinya.
"Kamu lupa dengan perjanjian kita?" Tanya Mikael kesal.
"Saya tidak lupa. Tapi saya hanya ingin bekerja dengan tenang di kantor ini."
"Kamu akan bekerja dengan tenang di kantor ini. Saya akan mengumumkan kalau kamu tunangan saya dan tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menghina kamu."
Gladys kaget mendengarnya. "Tidak Kak Mika, jangan lakukan itu. Itu hanya akan memperburuk keadaan." Ujar Gladys.
"Tapi saya tidak setuju dengan keinginan kamu untuk menghindari saya. Papa saya punya banyak mata-mata bagaimana kalau sampai mereka tau kalau kamu adalah pacar bohongan saya?"
__ADS_1
Mikael lalu mengambil hpnya dan mengetikkan sesuatu ke layar hpnya.
"Lihat ini? Foto kita berdua saja sudah sampai ke papa." Ujar Mikael sembari memperlihatkan foto yang sebelumnya telah di perlihatkan Aaron padanya.
"Terus saya harus bagaimana?" Keluh Gladys.
"Kamu tenang saja. Saya sudah mengatur semuanya mereka gak akan menghina kamu lagi." Ujar Mikael yang kini mengalihkan pandangannya dari Gladys.
"Semoga saja apa yang Kak Mika lakukan tidak memperburuk keadaan."
"Pesankan saya menu makanan sama seperti menu makan siang kamu."
"Baik Kak"
Gladys pamit dan keluar dari ruang CEO.
Dia duduk di kursinya.
"Lebih baik saya pesan makanan di kantin saja. Jadi saya tidak perlu mendengar perkataan mereka." Gumam Gladys, dia lalu menekan tombol pada telepon di atas meja kerjanya.
"Halo Mbak Ani saya mau pesan 2 porsi gado-gadonya yah."
"Bu Yun tambah 2 porsi gado-gadonya." Terdengar suara Mbak Ani yang menyuruh karyawannya si seberang sana
"Mbak Ani tolong di antar ke lantai 25 yah." Ijar Gladys.
"Maaf Bu, 2 karyawan saya lagi gak masuk dan saya juga di sini lagi kerepotan. Jadi saya gak bisa antar." Ujar Mbak Ani.
"Yah sudah Mbak Ani saya ambil sendiri aja." Ujar Gladys terpaksa.
Sambungan telepon terputus.
Gladys menuju ke lift, dia lalu menekan tombol di samping lift. Tidak menunggu lama pintu lift terbuka. Dia melihat Teddy di dalam lift.
"Kamu kok udah balik?" Tanya Gladys heran.
"Sa.. ssa...ya... sa...ya"
Teddy baru saja melaksanakan perintah Mikael tapi dia tidak ingin memberitahukan pada Gladys dan membuatnya menjadi gugup.
"Saya apa? Kamu kenapa jadi gagap gini?"
"Saya mau ambil sesuatu yang tertinggal." Ujarnya bohong lalu buru-buru meninggalkan Gladys menuju ke ruangan Mikael untuk melapor.
"Nih anak kenapa lagi?" Gumam Gladys lalu masuk ke dalam lift.
sesampainya di kantin, Gladys berusaha tenang dan sebisa mungkin dia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.
Dia berjalan di antara para karyawan yang sedang makan siang. Dia tidak lagi mendengar perkataan para karyawan seperti saat di ruang marketing sebelumnya. Beberapa di antara mereka hanya melihat Gladys sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka.
"Gladys" panggil Vicky yang melihat Gladys terlebih dulu.
Gladys yang mendengar namanya di panggil segera mencari sumber suara dan melihat Vicky, Mira, Kirana dan Anton yang sedang melihat ke arahnya. Dia lalu menghampiri mereka.
"Tadi saya ajak kamu makan siang bareng katanya sibuk." Ujar Mira.
__ADS_1
"Saya sebenarnya gak ingin datang ke kantin kantor tapi apa boleh buat, karyawan mbak ani katanya gak masuk jadi gak bisa ngantar." Jelas Gladys.
"Kamu tenang aja. Mereka gak akan ngomongin kamu lagi kok." Ujar Kirana.
"Iya sedari tadi juga saya gak dengar mereka membicarakan kamu dan Pak Mika." Ujar Anton.
"Tapi kalau boleh tau nih yah. Sebenarnya apa yang terjadi sih antara kamu dan Boss?" Tanya Mira.
"Gak terjadi apa-apa kok. Waktu itu kesalahpahaman aja. Saya ke Mbak Ani dulu yah mau ambil pesanan. Bye." Ujar Gladys dan segera pergi dari hadapan mereka.
Gladys tidak ingin mereka bertanya lebih jauh lagi tentang dirinya dan Mikael.
Dia sebenarnya tidak ingin mereka atau karyawan kantor lainnya tau kalau dia adalah pacar Mikael baik itu bohongan ataupun tidak karena akan banyak berita-berita yang tidak benar tentangnya seperti sekarang. pikir Gladys
Gladys telah mengambil pesanannya, dia segera menuju ke lift.
Setelah sampai di lantai 25, Gladys menuju ke ruang CEO.
Gladys membuka pintu ruang CEO.
"Permisi Kak Mika, saya ingin mengantar menu makan siang." Ujar Gladys lalu meletakkan satu kotak sterofoam berisikan gado-gado di atas meja ruang tamu.
"Saya pesankan Gado-gado. Semoga saja Kak Mika suka." Ujar Gladys lagi.
"Duduk. Kita makan siang sama-sama" perintah Mikael.
"Tapi Kak..."
"Saya bilang duduk yah duduk"
Dengan terpaksa Gladys menuruti perintah Bossnya. Dia meletakkan 1 porsi gado-gado lagi di atas meja ruang tamu.
Mikael duduk tepat di hadapan Gladys. Dia melipat lengan kemeja putihnya sampai sesiku agar lebih leluasa menikmati menu makan siangnya.
Gladys melihat Mikael yang menyingkirkan sayuran yang terdapat di gado-gado ke penutup sterofoam.
"Kak Mika gak makan sayurnya?" Tanya Gladys.
"Sayurnya kebanyak. Saya gak suka." Ujar Mikael.
"Boleh buat saya?"
"Ambil aja."
Gladys mengambil sayuran di penutup sterofoam dan memindahkannya di gado-gado miliknya.
"Menurut buku kesehatan yang saya baca makan sayur itu bagus loh." Ledek Gladys.
"Saya juga tau, makanya saya makan sayur tapi sayur di gado-gado ini kebanyakan."
"ngeles aja terus. Bilang aja kalau gak begitu suka sayur" batin Gladys lalu tersenyum mengejek.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung