
Winjaya Development.
Gladys telah mengantongi flashdisk yang berisikan video rekaman Cctv yang di katakan Gilang sebelumnya.
"Kamu darimana? lama banget." Tanya Mira negitu melihat Gladys yang keluar dari lift.
"Memangnya kenapa?" Tanya Gladys balik.
"Sepertinya Pak Mika curiga kalau kita tidak makan siang bersama." Jawab Mira panik.
"Kok bisa?" Gladys menjadi tercekam mendengar ucapan Mira tadi.
"Kamu sih kelamaan. Waktu saya tiba di kantor Pak Mika tanya ke saya, kamu dimana? Kenapa tidak balik sama-sama.?"
"Terus kamu jawabnya apa?"
"Saya bilang kalau kamu lagi ke toilet. Saya tidak tau harus bilang apa lagi."
"Yah sudah, untuk selanjutnya biar saya yang urus. Kamu tenang saja."
Gladys melanjutkan langkahnya menuju ke meja kerjanya.
Belum sempat Gladys memperbaiki posisi duduknya, dia telah di panggil oleh Bossnya.
Gladys berusaha terlihat santai. Dia membuka pintu ruang CEO dan melangkah menghampiri Mikael di meja kerjanya.
"Kamu darimana?" Tanya Mikael dingin.
"Saya dari toilet." Jawab Gladys bohong.
"Kamu tidak lagi bohong kan?"
"Tidak Kak."
"Bagus kalau begitu. Saya ingin menangih utang sama kamu."
"Utang?" Gladys merasa heran, pasalnya dia tidak merasa memiliki utang pada Bossnya.
"Iya. Kamu gak ingat perjanjian kita?" Tanya Mikael yang mengingatkan Gladys dengan isi perjanjian pacar kontrak.
Gladys menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. "Saya harus bayar berapa?" Pikiran Gladys mendadak kacau, dia tidak bisa membayangkan jika dia harus bekerja seumur hidup di perusahaan Winjaya Development untuk membayar utangnya, mengingat bayaran yang di terimanya menjadi pacar kontrak Mikael.
"Kamu tenang saja, saya tidak ingin kamu membayarnya dengan uang."
"Terus saya harus membayarnya dengan apa?" Tanya Gladys ragu.
"Dengan ketulusan"
"Apa?" Gladys sama sekali tidak mengerti apa maksud Bossnya.
"Saya ingin kamu menuruti tiga permintaan saya."
Gladys menghembuskan napas berat. "Ok. Saya akan menuruti permintaan Kak Mika, sekarang sebutin permintaan Kak Mika."
"Sebenarnya saya ingin kamu menerima tawaran Teddy untuk tinggal di apertemenan. Tapi jika saya mengatakannya kamu pasti akan menolak tawaran Teddy, kamu akan curiga jika saya yang menyuruh Teddy. Ujung-ujungnya kamu tolak karena tidak ingin menerima bantuan dari saya. Dasar kepala batu." Batin Mikael.
"Tok tok tok, ada orang nggak. Kak Mika kok malah ngelamun." Ujar Gladys, menyadarkan Bossnya yang hanya diam saja.
__ADS_1
"Berisik."
"Siapa suruh diam aja." Gerutu Gladys.
"Saya masih belum memikirkan permintaan saya apa. Kamu bisa kembali bekerja."
Gladys menuruti perintah Bossnya dia berbalik dan melangkah menuju ke pintu keluar ruangan.
"Dasar aneh." Gumam Gladys.
"Kamu bilang apa?" Ujar Mikael yang tidak mendengar dengan jelas ucapan Gladys.
"Saya bilang Kak Mika orangnya baik." Ujar Gladys bohong dan dengan cepat meninggalkan ruangan Mikael.
"Dasar tukang bohong." Walau dirinya tidak mendengar dengan jelas apa yang do kataka Gladys tapi dia yakin kalau bukan itu yang di katakakan wanita itu tadi.
***
Gladys kembali ke meja kerjanya.
Dia hendak melanjutkan kerjaannya, namun baru saja Gladya membuka map folder di atas mejanya Teddy sudah lebih dulu berbicara.
"Gimana kamu maukan sewa unit apertemen Di Sky Grand?" Tanya Teddy.
"Yah Tuhan, apertemennya aja saya belum lihat gimana mutusinnya. Lagian kamu ngebet banget saya sewa apertemen teman kamu itu." Celoteh Gladys.
Teddy tersenyum malu. "Saya hanya ingin kamu cepet-cepet dapat tempat tinggal baru." Ujar Teddy.
"Kamu gak suka Gladys tinggal bersama saya?" Celetuk Mira yang tiba-tiba udah berada di samping Teddy.
"Sialan kamu, memang saya jalangkung apa."
"Sebelas dua belas lah."
"Kamu...."
"Udah-udah kalian ini, malah berdebat." Ujar Gladys.
"Saya minta dokumen operasional perusahaan." Ujar Mira dengan nada jutek.
"Ini Miss Jutek." Ledek Teddy.
"Terimakasih." Ujar Mira masih dengan nada juteknya lalu kembali ke meja kerjanya.
"Kamu kok mau sih tinggal sama orang gitu?"
Gladys tersenyuman mendengarnya. "Hati-hati jodoh loh."
"Amit amit jabang bayi." Ujar Teddy sambil mengetuk meja lalu mengetuk kepalanya yang tidak ingin menjadi pasangan Mira.
Teddy kembali fokus pada kerjaannya, sementara Gladys tiba-tiba teringat dengan Leon. Saat laki-laki itu berkata ingin menikahinya suatu hari nanti.
"Apa dia masih mengingat janji itu?" Tanya Gladys dalam hati. Kini pandangan Gladys mulai terasa kabur karena genangan air mata yang mulai membanjiri kedua matanya.
Gladys ingin segera ke toilet namun air matanya sudah keburu mengalir.
Dia hanya bisa menundukkan wajahnya agar tidak ada orang yang melihatnya sedang menangis. Wanita itu menangis dalam diam tanpa mengekuarkan suara agar tidak mengundang perhatian orang lain. Namun sepertinya itu tidak berlaku dengan Mikael.
__ADS_1
Mikael memperhatikannya dari dalam ruang CEO.
"Gladys kenapa menundukkan kepalanya? Apa dia sedang sakit kepala?" Tanya Mikael.
Mikael melihat Gladys yang sedang menghapus air matanya.
"Dia menangis. Apa dia teringat dengan Laki-laki brengsek itu?" Tebak Mikael yang tidak ingin Gladys bersedih lagi karena mengingat Leon.
Dengan cepat Mikael melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Sayang. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu" Ujar Mikael yang langsung merangkul Gladys masuk ke dalam ruangannya. Sebenarnya itu hanya menjadi alasan untuknya agar tidak ada yang curiga saat dirinya membawa Gladys ke ruangannya.
Sementara Teddy yang melihat adengan romantis yang pas berada di depan matanya berdecak senang sekaligus malu-malu melihat Bossnya yang merangkul erat wanita pujaannya hatinya, begitu pikir Teddy yang senyum-senyum sendiri.
Mikael takut jika nanti Gladys menangis histeris seperti saat di apertemennya dan orang-krang akan beranggapan jika Gladys adakah wanita gila.
Ruang CEO
"Sayang, look at me. Please." Pinta Mikael lembut setelah mendudukkan Gladys di sofa empuk di dalam ruangannya.
Gladys hanya menundukkan kepalanya.
"Sayang." Panggil Mikael lalu memegag kedua pipi Gladys, pelan-pelan dia mengangkat kepala Gladys agar pandangan mereka saling bertemu.
Mikael melihat mata Gladys yang sembab dan kemerahan karena menangis.
"Kamu udah minum obat kamu?" Tanya Mikael lembut.
Gladys meresponnya dengan anggukan kepala tanda mengiyakan pertanyaan Mikael.
"Baguslah kalau begitu." Mikael menyandarkan kepala Gladys ke pundaknya. Dia memeluk wanita itu, mencoba menenangkannya dengan memberi pelukannya.
"Kamu gak usah mengingat laki-laki itu lagi, belum tentu juga dia ingat dengan kamu." Lirih Mikael. Hatinya ikut sakit melihat wanita yang di sayang menangisi laki-laki lain di hadapannya.
"Kak Mika." Panggil Gladys yang masih berada di dalam pelukkan Mikael. "Saya tau, Leon pasti memiliki alasan yang kuat kenapa dia ninggalin saya dan saya ingin tau alasannya." Lanjut Gladys dengan suara seraknya lalu melepaskan dirinya dari pelukan Mikael.
"Untuk apa kamu mencari tau alasannya? Apa dengan kamu tau alasannya kalian bisa balikan lagi?" Tanya Mikael yang tidak ada respon dari Gladys.
"Dia udah ninggalin kamu, udah bilang putus sama kamu. Itu berarti dia udah gak ingin ada hubungan atau di sangkutpautkan lagi sama kamu. Apapun alasannya dia seharusnya membicarakannya dengan kamu tapi mana, gak ada kan? Sudahlah laki-laki seperti itu tidak pantas kamu tangisi, lagian laki-laki tidak hanya dia seorang di dunia ini." Jelas Mikael mencoba membuat Gladys lebih tenang.
"Contohnya saya Dys, apa kamu tidak bisa melihat ketulusan hati saya?" Lirih Mikael dalam hati.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1