
Winjaya Development
Gladys telah sampai di ruangannya, dia menyimpan tas dan cup cake buatannya di atas meja kerjanya lalu ke pantry membuatkan kopi untuk Mikael.
Setelah selesai Gladys membawa kopi dan beberapa biskuit ke ruang CEO lalu kembali ke meja kerjanya.
"Selamat pagi Dys." Sapa Teddy yang baru saja tiba.
"Selamat pagi." Balas Gladys.
Gladys melihat ke ruang manajer untuk melihat karyawan yang telah datang.
"Teddy kamu mau gak?" Tanya Gladys sambil memberikan cup cake kepada Teddy.
Tanpa menjawab Teddy langsung mengambil cup cake dari tangan Gladys lalu memasukkan segigit ke dalam mulutnya.
"Kamu buat sendiri?" Tanya Teddy dengan mulut berisikan cup cake.
Gladys menjawabnya dengan anggukan.
"Saya mencium aroma-aroma kenikmatan nih." Canda Vicky yang menghampiri mereka.
"Cup cake. Mau gak?" Tanya Gladys.
"Mau dong." Jawab Vicky singkat.
"Yah udah, kamu bawa semuanya. Berikan pada yang lain." Ujar Gladys.
"Terimakasih. Kamu memang yang terbaik." Puji Vicky sambil mengacungkan jempolnya pada Gladys.
Vicky lalu membawa sekotak Cup cake yang berisikan 4 buah.
"Terus yang satu kotak itu apaan?" Tanya Teddy sambil melihat ke kantongan putih di atas meja kerja Gladys.
"Yang ini untuk Kak Gilang dan Kak Aaron." Jawab Gladys.
Tiba-tiba Mikael muncul dan sempat melirik ke arah mereka.
"Selamat pagi Pak." Sapa Gladys dan Teddy bersamaan.
Gladys lalu mengikuti Bossnya masuk ke dalam ruang CEO.
"Pak Mika ini dokumen-dokumen yang harus bapak tanda tangan." Ujar Gladys sambil menaruh beberapa map folder plastik diatas meja kerja Mikael. Dia lalu membuka buku jadwal Mikael hari ini untuk memberitahukan jadwalnya.
"Apa yang mau kamu berikan pada Gilang dan Aaron?" Tanya Mikael dingin.
"Apa Pak?" Tanya Gladys. Bukannya Gladys tidak mendengar pertanyaan Bossnya tapi dia merasa heran saja dengan pertanyaan Mikael. Pasalnya Gladys sedang membahas pekerjaan.
"Kamu ini. Saya yakin kamu mendengar pertanyaan saya jadi saya tidak akan mengulangnya." Ujar Mikael tanpa melihat ke arah Gladys.
"Saya berikan mereka cup cake." Jawab Gladys.
"Terus cup cake untuk saya mana?" Tanya Mikael.
__ADS_1
"Gak ada." Jawab Gladys ragu.
Mikael langsung melihat ke arah Gladys, dia merasa geram pada wanita di depannya.
Gladys yang melihatnya menjadi sedikit panik.
"Bukannya Bapak bilang tidak menyukai cup cake buatan saya." Jawab Gladys.
"Memangnya saya pernah bilang kalau saya tidak suka?" Tanya Mikael kesal.
Gladys tidak begitu yakin dengan ingatannya dan dia hanya diam saja.
"Gimana kamu mau menjadi asisten saya? Ingat hal kecil gini aja gak bisa." Ujar Mikael kesal.
Gladys di buat kesal dengan perkataan Mikael yang sebenarnya hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Secara tidak langsung Mikael meragukan kinerja Gladys sebagai asistennya, sementara dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
"Waktu saya bertemu dengan orang tua Bapak, saya benar-benar gugup. Jadi wajar saja kalau saya tidak ingat hal sekecil ini." Ujar Gladys yang berusaha menahan amarahnya.
"ini jadwal Bapak hari ini." Gladys memberikan buku jadwal Mikael lalu melangkah keluar ruangan
"Berhenti." Teriak Mikael.
Gladys langsung menghentikan langkahnya tepat di saat Gladys hendak membuka pintu. Namun tiba-tiba saja seseorang membuka pintu dari arah berlawanan. Alhasil kepala Gladys terbentur dengan daun pintu.
"Auhh." Teriak Gladys kesakitan sambil memegang jidatnya dan melangkah beberapa langkah kebelakang.
Orang di balik pintu langsung masuk begitu mendengar teriakan Gladys.
"Kamu gak papa?" Tanya orang itu.
Mikael ingin menghampiri Gladys untuk melihat keadaannya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Gilang yang memegang kepala Gladys dengan kedua tangannya hingga terlihat seperti mereka sedang saling pandang dari arah Mikael berdiri.
"Luka di jidat kamu ini harus segera di kompres loh, kalau gak nanti jadi bengkak." Ujar Gilang lembut.
"Iya Kak Gilang. Terimakasih." Ujar Gladys lalu tersenyum pada Gilang.
"Yah udah kamu pergi kompres gih."
Gladys lalu keluar dari ruangan Mikael.
Mikael yang melihatnya di buat kesal, tanpa sadar dia mengepal telapak tangan kanannya.
"Ada apa kamu ke sini?" Tanya Mikael ketus.
"Kamu kenapa sih, pagi-pagi bicaranya udah ketus gitu." Ujar Gilang lalu duduk di sofa diikuti oleh Mikael.
"Jawab saja pertanyaan saya." Ujar Mikael datar.
"Teman-teman alumni UKM basket ajak reunian kecil-kecilan."
"Kamu kan tau sendiri kalau saya gak suka pergi ke acara gituan."
"Tapi ini cuman para-para kita yang hadir paling 3 atau 4 orang plus pasangan masing-masing. Yakin gak mau?"
__ADS_1
"Gak." Jawab Mikael singkat.
"Yah udah kalau gitu." Ujar Gilang lalu pandangannya beralih pada Gladys yang sedang sibuk pada laptopnya, dia melihat dari jendela besar diruangan Mikael
Gilang sedang memikirkan orang yang ingin diajaknya ke reunian karena Gilang yakin teman-temannya membawa pasangan mereka masing-masing. Sementara yang jomblo hanya dirinya dan Mikael. Setidaknya kalau Mikael ikut dia tidak sendirian menjadi jomblo. pikirnya
Mikael yang menyadari kalau Gilang sejak tadi memperhatikan Gladys kembali menjadi kesal.
"Jangan pernah kamu berpikir untuk mengajak Gladys menjadi pasangan kamu di reunian." Ujar Mikael datar.
"Kenapa gak? dia cantik, manis, smart lagi dan..."
"Karena saya akan pergi bersama Gladys." Potong Mikael yang merasa kesal mendengar perkataan Gilang terus memuji Gladys. Sebenarnya dia memang tidak ada niat untuk pergi, dia hanya ingin agar Gilang tifak mengajak Gladya ke acara reunian itu dan teman-teman akan berpikir kalau Gladya adalah pacar Gilang.
Memikirkannya saja sudah membuat hati Mikael menjadi panas, dia menggigit kecil bibir bagian bawahnya.
"Kamu gak salah ngomong kan?" Tanya Gilang untuk memastikan kalau yang didengarnya tidak salah.
"Pergilah mencari wanita lain yang ingin kamu ajak agar kamu tidak jomblo sendiri." Ujar Mikael yang tidak memperdulikan pertanyaan Gilang.
"Saya gak yakin kalau Gladys bakal mau kamu ajak." Ujar Gilang lalu berdiri dari sofa dan melangkah keluar ruangan Mikael.
***
Gladys keluar dari ruangan CEO sambil memegang jidatnya.
Teddy yang sedaritadi mendengar percakapan Gladys dan Gilang di balik pintu langsung memberikan Gladys salep.
"Otak kamu gak papa kan? karena keseringan kejedot." Ledek Teddy.
"Otak saya ini otak baja jadi aman." Balas Gladys sambil mengoleskan salep pemberian Teddy.
Teddy tertawa mendengar perkataan Gladys.
Mereka kembali fokus pada kerjaan mereka.
Gilang keluar dari ruang CEO dan langkahnya berhenti di depan meja kerja Gladys.
"Luka kamu udah di obatin?" Tanya Gilang.
"Udah kok kak. Oh iya saya ada buat cup cake ini buat kak Gilang dan kak Aaron. Semoga kalian suka" Ujar Gladys sembari memberikan sekotak berisi cup cake.
"Ternyata kamu tipe orang yang menepati janji. Bay the way terimakasih yah, kalau cup cakenya enak Aaron gak akan memakan cup cake kamu ini." Ujar Gilang.
Gladys tersenyum mendengarnya. "Semoga di suka." Ujar Gladys.
"Berarti kamu gak berharap saya berikan pada Aaron." Canda Gilang lalu pergi meninggalkan Gladys dan kembali ke ruangannya.
"Bukan itu maksud saya." Ujar Gladys tapi Gilang sudah tidak mendengarnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...