
"Ada apa Dion?" Tanya Gladys begitu melihat Dion berdiri tepat di depannya saat ini sambil memegang piring.
Gladys masih menempelkan hpnya ke telinga.
"Boleh minta nasi gak? Pulang dari kantor tadi saya lupa beli nasi di jalan." Ujar Dion.
"Sayang." Panggil Mikael di seberang.
"Kak Mika tunggu bentar dulu." Ujar Gladys.
"Kamu masuk aja, atau mau sekalian makan malam bersama saja." Tawar Gladys.
"Apa boleh sama Mira?" Tanya Dion.
"Gak boleh." Sahut Mira yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gladys kamu dengerin apa kata yang punya rumah, kamu gak boleh membawa masuk laki-laki ke dalam rumah. Apalagi kalian 2 orang wanita, gimana kalau di apa-apain?" Ujar Mikael geram, dia memang tidak menyukai Dion sejak pertama kali mereka bertemu di teras rumah kontrakan Mira kemarin.
"Dion orangnya baik kok Kak Mika, dia gak mungkin macem-macem. Kak udah dulu yah, Mira udah selesai mandi. Kita mau makan malam dulu. Selamat malam." Ujar Gladys yang mengecilkan suaranya agar tidak dengar oleh orang lain.
Sambungan telepon terputus.
Apertemen Sky Garden.
"Ini anak kepala batu yah." Maki Mikael pada Gladys, namun yang terlihat dia seperti memaki hpnya sendiri.
"Apa Gladys juga mengambilkan nasi untuk Dion?" Tidak, gak mungkin. Gladys hanya boleh melayani saya saat makan." Gumam Mikael yang membayangkan Gladys mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Dion.
"Gladys harus segera pindah dari rumah kontrakan Mira, tempat itu tidak aman." Mikael merasa geram.
Mikael mengambil hpnya dan menekan nama seseorang di layar hpnya.
"Halo." Terdengar suara dari seberang.
"Besok saya mau Gladys setuju untuk menyewa unit apertemen SKY 2002, di depan unit apertemen saya." Perintah Mikael pada orang di seberang.
"Tapi Pak Mika, bujuk Gladys kan butuh waktu." Keluh Teddy.
"Kamu ikutsertakan Mira saat kamu bawa Gladys melihat apertemen besok, sepertinya wanita itu bisa di andalkan untuk urusan membujuk Gladys. Atau kamu pikirkan sendiri caranya. Saya hanya mau Gladys setuju tinggal di apertemen SKY 2002, kamu mengerti?" Tegas Mikael.
"Baik Pak Mika." Sahut Teddy.
"Saya tunggu kabar baiknya."
Mikael memutuskan sambungan telepon.
Terdengar suara bell berbunyi.
Cepet juga di anternya. Pikir Mikael yang melangkah menuju ke pintu apertemennya.
***
Rumah Kontrakan Mira.
__ADS_1
Gladys membawa sewakul nasi dari dapur dan di taruhnya di atas meja makan.
"Tumben di rumah kamu makanan banyak Ra? Ada hajatan yah?" Canda Dion yang baru saja duduk.
"Ini semua karena saya punya Emak." Jawab Mira yang juga baru saja duduk di seberang Dion.
"Emak? Mama kamu datang dari kampung?" Tanya Dion sambil celingak-celinguk mencari keberadaan mamanya Mira.
Dion tidak tau jika mamanya Mira telah tiada.
"Kamu kenapa Dion?" Tanya Gladys yang memperhatikan Dion seperti sedang mencari sesuatu.
"Mana mama kamu?" Tanya Dion yang tidak mendapati mamanya Mira.
"Tuh di samping saya, duduk." Mira mengarahkan matanya pada Gladys.
"Yah ellah, kalau emaknya kek gini buat saya aja." Canda Dion.
"Ngawur kamu." Ujar Mira.
Sementara Gladys hanya tersenyum mendengar candaan Dion sambil mengambil nasi untuk dipindahkan ke piringnya lalu di berikannya wakul pada Mira.
"Kalau gitu boleh dong saya setiap malam makan di sini?" Tanya Dion yang tidak serius dengan ucapannya, sambil menunggu Mira menuangkan nasi ke piring makannya.
"Sayangnya Emak saya udah mau pindah. Jadi kamu nikmati aja makanan malam ini."
"Belum tentu juga. Lagian besok saya baru melihat apertemennya." Ujar Gladys sambil mengambil perkedel jagung buatannya.
"Dion hasil makanan Gladys, enakkan?" Tanya Mira di sela makannya.
"He.. Kambing congek bilang aja kalau kamu suka semuanya, pake di sebut atu-atu lagi." Gerutu Mira dengan mulut penuh makanan.
Gladys memang memyempatkan diri untuk berbelanja di pasar dekat komplek mereka tinggal di temani Mira
"Telen dulu tuh makanan baru ngerocos, keselek aja baru tau rasa."
"Kalian ini udah kek Tom & Jerry." Gladys hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar percakapan dua orang di depannya yang bawaannya selalu berdebat setiap ketemu.
"Tadi saya belum selesai bicara. Kamu kan bilang kalau masakan Gladys enak dan kamu mau Gladys lebih lama tinggal disini. Saya mau tanya kamu lebih pilih Ella yang hanya tau masak mie instan atau Gladys?" Tanya Mira yang telah menelan makanannya.
"Milih Ella lah. Pujaan hati Dion seorang." Ujar Dion lalu tersenyum-senyum membayangkan ketika dia berjalan berdua bersama Ella.
"Maaf yah Dys, saya hanya di suruh burung Beo untuk milih." Ujar Dion setelah tersadar dari lamunannya.
"Iya gak papa kok." Sahut Gladys yng telah selesia dengan makan malamnya dan mengangkat piring kotornya ke dapur.
"Dys piring kamu gak usah di cuci biar saya aja." Ujar Mira yang meninggikan nada suaranya agar di dengar oleh Gladys.
"Iya." Sahut Gladys.
"Sekalian yah di cuciin." Ujar Dion yang mengangkat piringnya.
"Dasar udah numpang makan, bawa piring sendiri, minta di cuciin lagi."
__ADS_1
"Bodoh amat." Ujar Dion lalu melangkah menuju ke dapur.
"Kalian gak papakan saya tinggal?" Tanya Gladys.
"Kamu mau ngapain? cepet banget masuk kamarnya." Ujar Mira yang tekah selesai makan.
"Ada yang mau saya kerjain di kamar."
"Saya masuk yah, Ra Dion."
"Iya Dys, terimakasih yah untuk makan malamnya yang enak." Ujar Dion sebelum Gladys masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Gladys mengambil sesuatu dari dalam tas kantornya dan menyolokkannya ke laptop miliknya yang telah menyala.
Gladys terus mengotak-atik dan mengamati video yang di putarnya. Yah Gladys memang sedang melihat rekaman Cctv di pintu masuk butik Hallo Fashion milik Nana.
"Dys saya pamit yah" Terdengar suara Dion dari luar pintu.
"Iya." Sahut Gladys.
Gladys masih tetap fokus pada layar laptopnya, matanya hampir tidak berkedip mengamati setiap orang yang masuk dan keluar dari butik.
"Ini yang mana sih, pegel juga udah 1 jam tapi belum nemu orangnya yang mana." Keluh Gladys lalu memutuskan untuk keluar dari kamar.
Dia membuat segeles susu hangat di dapur.
"Apa Mira udah tidur yah?" Tanya Gladys dalam hati saat melihat ke kamar Mira yang sudah gelap.
Kini matanya teralihkan pada kucing persia berwarna abu-abu yang juga melihat ke arah Gladys.
"Good night Moci."
Gladys kembali masuk ke kamarnya dan meletak susu hangatnya di samping laptop.
Dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Gladys memutuskan melompati file rekaman Cctv di saat dia telah tiba di butik karena sebelumnya dia melihat rekamana Cctv yang di rekaman dari pagi saat butik baru buka.
"Tunggu jadi orang yang memakai tas dan pakaian yang di matchingkan itu..... Bodoh kenapa saya gak ingat sebelumnya sih." Gumam Gladya saat melihat wanita parubaya memasuki butik dengan pakaian sewarna dengan tasnya.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣