
Mereka duduk di kursi panjang depan ruang ICU.
"Apa Mama pernah mengajak kamu bertemu?" Tanya Lea.
"Iya Kak Lea. Sudah dua kali Tante Lina ajak saya ketemuan." Jawab GladysM
"Mama minta uang sama kamu?"
"Iya, sudah dua kali juga saya memberikan uang ke Tante Lina. Kata Tante Lina pihak rumah sakit sudah memberikannya tagihan biaya rumah sakit Leon. Tapi Tante Lina melarang saya menstransfer uangnya. Dia ingin saya memberikannya langsung." jelas Gladys.
"Kamu benar-benar polos." Batin Lea.
Melihat Lea yang hanya diam saja tanpa memberi respon, Gladys menjadi heran.
"Memangnya ada apa Kak Lea?" Tanya Gladys yang membuat Lea tersadar dari lamunannya.
Lea tersenyum pada Gladys. "Gak kok gak papa. Itu memang untuk biaya rumah sakit Leon. Saya minta maaf tidak bisa membantu meringankan beban kamu. Kamu tau sendirikan kalau papa sekarang sedang sakit dan butuh biaya."
"Gak papa kok Kak Lea saya mengerti. Lagian saya sudah berjanji dengan Tante Lina untuk menanggung biaya rumah sakit Leon." Ujar Gladys.
***
"Bagaimana keadaan kamu?" Ujar Gladys sambil membaca chat WA dari Mikael.
Dia menggantungkan tasnya lalu berbaring tubuhnya di atas tempat tidurnya sambil membalas chat WA dari Mikael
💬 To : Si Mr. sok Perfect
Udah baikan.
Selesai membalas Chat WA dari Mikael dia menaruh hpnya di tempat tidur lalu bangun dan menuju ke kamar mandi.
***
"Balasannya kok singkat banget." Gumam Mikael geram setelah membaca balasan chat WA dari Gladys.
Mikael sebenarnya ingin menelpon Gladys hanya sekedar ingin mendengar suara wanita itu, dia rindu dengan Gladys. Tapi dia juga tidak tau akan menanyakan apa pada Gladys. Alhasil dia menjadi gelisah sendiri.
"Apa dia gak ingin bertanya tentang keadaan saya, saya kan baru keluar dari rumah sakit." ujar Mikael dalam hati sambil memutar-mutar hp di tangannya bak sedang memainkan spinner.
🎵 You might think I'm crazy...
Dengan cepat Mikael melihat ke layar hpnya, dia berharap yang menelpon adalah Gladys.
"Gapain nih anak nelpon." Gumam Mikael kesal setelah membaca nama yang tertera di layar hpnya, Aaron
"Ada apa?" Tanya Mikael ketus.
"Santai bro." Ujar orang di seberang.
__ADS_1
"Kamu gak suntuk apa di rumah mulu?" Tanya orang di seberang yang di yakini Mikael bukan suara Aaron maupun Gilang.
"Kalian bersenang-senang saja. Gak usah ganggu." ujar Mikael.
"Apakan saya bilang. Nih anak sebelas duabelas dengan Gilang, susah banget di ajak keluar malam." Ujar Aaron pada orang yang bersamanya yang terdengar jelas oleh Mikael.
"Kalau udah tau gapain nelpon." Lanjut Mikael lalu mematikan sambungan telepon.
"Ganggu aja." Gumam Mikael kesal lalu melempar hpnya ke sofa di sampingnya.
***
Winjaya Development
"Terimakasih yah Pak" Ujar Gladys lalu turun dari ojol yang di tumpanginya.
Dia langsung melangkah menuju ke lift.
Saat menunggu pintu lift terbuka, dia mendengar percakapan dua orang cleaning servis yang baru saja lewat di belakangnya.
"Kasihan yah Pak Yoyo." Ujar cleaning service satunya.
"Iya yah. Dia di pecat, padahal sebenarnyakan bukan kesalahan Pak Yoyo sepenuhnya." Jawab cleaning service lainnya.
Gladys lalu berbalik ke arah kedua cleaning service tadi.
"Permisi Mbak, tadi saya gak sengaja dengar percakapan kalian. Memangnya Pak Yoyo di pecat karena apa?" Tanya Gladys penasaran.
"Iya Bu. Padahal waktu itu Pak Yoyo minta tolong ke temannya menggantikan shiftnya karena istrinya mau melahirkan. Tapi sayangnya temannya itu gak mau ngaku kalau dia menggantikan shiftnya Pak Yoyo. Kasihan banget kan Bu? Mana dia lagi butuh biaya banyak untuk istri dan anaknya yang baru lahir." Lanjut cleaning service lainnya.
Gladys ikut merasa kasihan dengan apa yang di alami Pak Yoyo.
"Iya sih. Kasihan banget. Terimakasih yah Mbak untuk informasinya." Ujar Gladys.
"Kalau begitu kami permisi Bu." Ujar mereka lalu meninggalkan Gladys.
Pintu lift terbuka
Gladys lalu melangkah masuk dan terus memikirkan perkataan dua orang cleaning service tadi.
Dia ingin membuktikan kalau orang yang bernama Yoyo itu tidak bersalah tapi Gladys sendiri masih belum mengetahui caranya. pikir Gladys.
Setelah pintu lift kembali terbuka dia melangkah menuju ke meja kerjanya lau ke pantry untuk mengerjakan rutinitas paginya di kantor.
Baru saja Gladys keluar dari pantry, dia melihat Mikael yang baru saja keluar dari lift.
"Kak Mika." Panggil Gladys.
Mikael yang mendengar namanya di panggil berbalik ke sumber suara.
__ADS_1
Dia tersenyum senang melihat keberadaan Gladys.
"Hari ini gak ada kerjaan deadline." Ujar Gladys sambil membawa secangkir kopi panas dan beberapa keping biskuit.
"Memangnya saya ga boleh datang cepat?" Tanya Mikael.
Kini mereka telah memasuki ruang CEO.
"Bukan gitu kak Mika. Aneh aja." Jawab Gladys sembari menaruh kopi dan biskuit diatas meja kerja Mikael.
Tanpa sadar Mikael yang telah duduk di kursi kerjanya terus melihat kearah Gladys.
"Kak Mika saya ambil buku jadwal kak Mika dulu." Ujar Gladys lalu keluar dari ruang CEO.
"Alasan saya datang cepat itu karena kamu." Gumam Mikael sambil melihat Gladys yang telah menghilang dari balik pintu.
Mikael yang sedari malam memang sudah merindukan Gladys memutuskan lebih cepat datang ke kantor untuk melihat wanita itu.
Tidak menunggu lama Gladys telah kembali ke ruang CEO.
"Hari ini jadwal Kak Mika jam 10.00 nanti ada rapat dengan dewan direksi, jam 14.00 kunjungan ke proyek perumahan, jam 15.00 rapat dengan departemen marketing." Ujar Gladys sembari membawa buku jadwal Mikael.
Bagus berarti hari ini papa datang. pikir Mikael lalu tersenyum.
"Ada apa kak Mika?" Tanya Gladys yang melihat Mikael senyum-senyum gak jelas.
"Kamu bisa kembali bekerja." Ujar Mikael.
"Kak Mika ada yang igin saya tanyakan?" Tanya Glady ragu.
"Ada apa?"
"Ini mengenai Pak Yoyo yang dipecat."
"Siapa pak Yoyo?" Tanya Mikael heran.
"Pak Yoyo itu salah satu satpam di perusahaan. Dia yang Kak Mika pecat karena..."
"Oh jadi namanya Yoyo. Si satpam lalai itu. Kamu mau tanya apa tentang dia?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....