Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #59


__ADS_3

"Permisi Kak Mika." Ujar Gladys ketika dia telah berada di dalam ruangan Mikael.


Tidak ada respon dari Mikael, laki-laki itu hanya fokus pada layar laptopnya, tanpa melirik sedikitpun kearah Gladys.


Berasa masuk ke kandang macan. Pikir Gladys.


"Permisi Kak Mika, saya ingin memberitahukan jadwal Kak Mika hari ini, jam 09.00 bertemu dengan klien, jam 11.00 rapat dengan pihak Hotel V terkait pembangunan cabang Hotel V, jam 01.00..."


"Kamu tidak berniat meminta maaf?" Potong Mikael.


"Saya.... saya... saya minta maaf Kak Mika, saya memang sudah berencana untuk datang lebih awal mengingat banyaknya kerjaan yang harus saya kerjakan tapi saya lupa kalau Kak Mika akan datang menjemput saya." Jelas Gladys dengan suara lirih, dia menjelaskan pada Bossnya sambil menundukkan kepalanya.


"Saya tidak menerima maaf kamu." Ujar Mikael dingin masih dengan posisi sebelumnya, laki-laki itu masih fokus pada layar laptopnya.


Gladys mengangkat kepalanya untuk melihat Bossnya.


"Terus saya harus gimana Kak Mika?" Tanya Gladys.


Mikael mengalihkan pandangannya pada Gladys yang membuat Gladys semakin panik dan langsung kembali menundukkan kepalanya.


"Lihat saya." Pinta Mikael.


Gladys hanya menggelengkan kepalanya.


"Lihat saya."


Gladys kembali menggelengkan kepalanya.


Mikael yang merasa geram karena Gladys yang tidak menuruti keinginannya, berdiri lalu memegang pipi Gladys dengan kedua tangannya dan mengangkat kepala Gladys pelan hingga dia dapat melihat wajah wanita cantik itu.


Mikael mendekatkan wajahnya ke telinga Gladys.


"Kamu jangan takut hukuman kamu gak berat kok, saya hanya ingin kamu menemani saya makan siang dan malam selama seminggu. Simple kan?" Mikael mengakhiri kalimatnya dengan senyuman manis.


Mikael sengaja memberikan Gladys hukuman seperti itu karena di saat mereka makanlah Mikael merasa Gladys memperhatikan dan peduli padanya.


"Gak, saya gak mau." Tolak Gladys.


"Saya tidak meminta persetujuan kamu." Ujar Mikael yang kini telah kembali duduk di kursi kekuasaannya.


Kini Gladys hanya bisa pasrah dan menerima hukumannya.


"Jadwal Kak Mika jam 01.00 rapat dengan departemen marketing, jam 03.00 kunjungan pembangunan, jam 04.00 bertemu dengan pihak asuransi terkait dengan proyek pembangunan perumahan." Gladys melanjutkan membaca jadwal Bossnya hari ini yang sempat terpotong tadi.


"Semua jadwal saya hari ini kamu temani saya." Perintah Mikael.


"Kamu kembali ke meja kerja kamu." Lanjut Mikael ketika melihat Gladys yang hendak berbicara.


"Baik Pak." Ujar Gladys.


"Kamu panggil saya apa?" Tanya Mikael.


"Saya pamit dulu."


Dengan cepat Gladys meniggalkan ruangan Bossnya, dia tidak memperdulikan Mikael yang terus memanggilnya.


"Awas aja kamu." Gumam Mikael.


***


Gladys yang telah kembali ke meja kerjanya langsung di sambut dengan pertanyaan dari Teddy. Dia terlihat tidak bersemangat. Pikir Gladys saat pertama kali melihat wajah Gladya setelah keluar sari ruangan Bossnya.


"Gimana? Pak Mika marah banget yah sama kamu? Tapi kamu gak papa kan?"


Gladys menarik napas dalam lalu menghembuskannya melalui mulut. "Saya di suruh menemaninya makan selama seminggu." Jawab Gladys.


"APA?"


"Yah Tuhan, Teddy.... volume suara kamu bisa di kecilin gak sih?" Gerutu Gladys.


"Ada apa?" Tanya Mira dan Vicky bersamaan. Mereka langsung menghampiri Gladys dan Teddy ketika mendengar suara Teddy tadi.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, kita lagi bahas proposal aja." Kelit Gladys cepat. Dia tidak ingin teman kerjanya yang lain sampai tau hukuman yang diberikan Mikael padanya.


"Mengecewakan kirain ada gosip heboh gitu." Ujar Vicky.


"Balik yuk." Ajak Mira. Mereka kembali dengan kekecewaan.


"Kamu beruntung banget hukuman yang diberikan Pak Mika segampang itu." Ujar Teddy yang melanjutkan pembahasan mereka sebelumnya.


"Menurut kamu gampang tapi menurut saya enggak, malas banget harus ketemu si Mr. Sok Perfect setiap kali makan selama seminggu. Bay the way memang Kak Mika biasa memberikan hukuman kek gimana?"


"Saya ingat waktu awal-awal kerja jadi sekretaris Pak Mika, saya pernah terlambat ikut rapat. Alhasil Pak Mika menyuruh saya keluar dari ruang rapat di depan banyaknya karyawan di tambah saya harus mengerjakan setumpuk dokumen-dokumen dalam sehari." Jelas Teddy mengenang masa hukumannya.


***


Tok tok tok...


Setelah di persilahkan masuk Gladys membuka pintu dan melangkahkan kakinya menghampiri Mikael yang berada di balik meja kerjanya.


"Permisi Kak Mika, sudah waktunya Kak Mika bertemu dengan klien." ujar Gladys.


"Pertemuannya dimana?" Tanya Mikael yang kini pandangannya beralih ke Gladys.


"Kebetulan klien ingin bertemu di kantor, saya sudah menyiapkan ruang rapat dan dokumen yang diperlukan."


Mikael berdiri dari kursinya lalu menuju ke pintu keluar diikuti oleh Gladys.


Sebelum ke lift Gladys menyempatkan mengambil dokumen-dokumen yang telah di siapkannya sebelum masuk ke ruang CEO tadi


Lift terbuka


Ketika mereka telah memasuki lift, Gladys langsung menekan tombol bertuliskan 26.


"Mana dokumennya?" Pinta Mikael.


Gladys dengan sigap langsung memberikan dokumen yang dimaksud oleh Mikael.


Sementara Mikael membaca dokumen, lift kembali terbuka.


"Kak Aaron." Panggil Gladys ketika melihat Aaron yang hendak melewatinya dan Mikael.


"Iya Kak Aaron." Jawab Gladys.


"Nice, rapat kali ini lebih berwarna."


"Kok bisa?" Tanya Gladys bingung.


Mereka bertiga melangkah menuju ke ruang rapat.


"Karena pelanginya ikut rapat yaitu kamu." Gombal Aaron.


Wajah Gladys berubah merona.


"Kamu tetap berada di samping saya." Perintah Mikael yang langsung memegang telapak tangan Gladys. Dia tidak menyukai Aaron yang menggombal Gladys apalagi di depannya.


"Kak Mika kita sekarang lagi ada di kantor." Bisik Gladys tapi di dengar oleh Aaron.


Aaron yang berada tepat di samping Gladys tersenyum geli melihat Bossnya yang sedang cemburu.


Aaron memang sengaja menjaili Bossnya, dia ingin melihat tampang Bossnya kalau lagi cemburu.


***


Selesai bertemu dengan klien, Mikael dan Gladys lansung menuju ke Cafe Sun tempat mereka janjian dengan pihak Hotel V.


Kini mereka tengah berada di jalan raya menuju ke cafe Sun.


"Saya minta kamu jangan dekat-dekat dengan Aaron lagi."


"Kenapa Kak Mika?"


"Saya gak suka." Jawab Mikael singkat.

__ADS_1


Mikael tidak ingin jika nanti Gladys termakan dengan rayuan gombal dari Aaron.


Cafe Sun.


"Selamat siang Bu Cika." Sapa Mikael.


"Selamat siang Pak Mikael, bagaimana dengan permintaan kami mengenai pembangunan cabang Hotel V?" tanya Bu Cika.


Mereka duduk saling berhadapan sementara Gladys duduk tepat di samping Mikael.


"Bu Cika tenang saja, kami telah mendiskusikannya dan saya juga membawa beberapa dokumen yang perlu kita bahas."


Setelah 1 jam berlalu, Bu Cika berpamitan pada Mikael dan Gladys.


"Kamu catat semuanya kan?" Tanya Mikael.


"Iya Kak Mika."


"Bagus. Sekarang saya mau makan siang tapi biar saya saja yang pesan, kamu mau makan apa?"


"Soto ayam dan green tea gak usah pakai es Kak, kalau gitu saya ke toilet dulu." Ujar Gladys lalu meninggalkan Mikael menuju ke toilet.


"Mbak" panggil Mikael kepada salah satu pelayan.


***


"Kamu lama banget ke toiletnya." Protes Mikael.


"Lama gimana Kak Mika? Makanan dan minumannya aja belum di anter." Ujar Gladys lalu duduk di hadapan Mikael.


"Saya udah nunggu daritadi, seharusnya kamu bisa datang lebih cepat."


Gladys yang hendak membalas Mikael menghentikan niatnya ketika melihat pelayan yang datang membawa menu pesanan mereka.


"Permisi, ini pesanannya." Ujar pelayan sopan sambil menyajikan menu pesanan mereka.


"Terimakasih yah Mbak."


"Sama-sama, selamat menikmati."


Gladys melihat menu makanan yang di pesan Mikael.


"Sejak kapan Kak Mika makan sayur?" Tanya Gladys heran. Dia melihat mie goreng pesanan Mikael yang berisikan sayur.


"Pilih sayurnya." Perintah Mikael sambil mendorong sepiring mie goreng ke hadapan Gladys.


"Kenapa Kak Mika gak pesen tanpa sayur aja?" Tanya Gladys heran.


"Gak usah protes. Lakukan saja." Ujar Mikael dingin.


"Kak Mika aja yang pilih sendiri, siapa suruh gak pesan tanpa sayur." Protes Gladys lalu mengembalikan piring milik Mikael.


"Pilih sekarang juga." Mikael kembali mendorong piringnya ke Gladys.


Terpaksa Gladys memilih sayur-sayur yang yang ada dalam mie goreng dan memindahkannya ke piring kosong yang telah dimintanya pada pelayan cafe.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2