Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #51


__ADS_3

Dengan telaten Gladys terus mengayunkan pisaunya sambil sesekali mengaduk masakannya di dalam wajan panas.


Mikael yang entah datang dari mana tiba-tiba saja sudah berada di samping Gladys.


"Ya Tuhan." Ujar Gladys yang terkejut dengan keberadaan Mikael lalu mengelus dadanya.


"Kamu terlalu serius sih masaknya sampai gak sadar kalau saya datang." Ujar Mikael.


"Kak Mika aja yang jalan gendap-gendap gitu, gak ada suara langkah kakinya." Ujar Gladys yang membela dirinya.


Mikael sudah tidak memperdulikan pembelaan diri Gladys, dia hanya fokus pada chicken katsu yang tertata rapi di atas piring saji.


"Ini apaan?" Tanya Mikael lalu mencoba memotong chicken katsu di piring saji. Namun belum sempat Mikael menyentuh chicken katsu tangannya sudah keburu di tahan oleh Gladys.


"Kak Mika jangan di ambil dulu." tmTegur Gladys.


"Dikit doang. Pelit amat sih." Protes Mikael.


"Gak boleh, nanti aja. Sekarang Kak Mika mendingan keluar dari dapur." Ujar Gladys lalu mendorong pelan pundak Mikael ke arah pintu dapur.


"Eits kamu menyentuh pundak saya. Sekarang kamu harus bayar lima ratus ribu, sesuai perjanjian." Canda Mikael yang di tanggapi serius oleh Gladys yang lalu langsung menjauhkan tangannya dari pundak Mikael.


"Bercanda kali sayang. Mukanya serius amat." Ujar Mikael lalu keuar dari dapur dengan cepat.


Gladys yang melihat tingkah Mikael membuatnya tanpa sadar tersenyum dengan kejailan Mikael padanya.


Gladys melanjutkan aktivitasnya di dapur ketika Mikael sudah tidak terlihat lagi.


30 menit kemudian masakan Gladys telah tertata rapi di atas meja makan di bantu oleh Bi Yuyun.


"Bi Yun posisinya udah cocok kan?" Tanya Gladys memastikan.


"Iya Non." Sahut Yuyun.


"Terimakasih yah Bi udah bantuin."


"Sama-sama Non."


"Bibi tau gak Paman, Tante Nana dan Kak Mika dimana?" Tanya Gladys.


"Kalau Tuan besar dan Tuan Mika tadi bibi lihat ada di taman belalang Non bersana Non Yulin, tapi kalau Nyonya ada di ruang kerja Tuan besar Non. Mau Bibi panggilin?"


"Gak usah Bi biar saya aja. Bibi kasih tau aja jalannya kemana."


Yuyun pun menunjukkan kepada Gladys arah menuju taman belakang.


Taman Belakang


Ini kali pertama bagi Gladys berada di taman belakang rumah Winjaya yang begitu luas.


Taman yang bergaya modern yang dipenuhi dengan berbagai tanaman-tanaman. Tidak hanya di penuhi dengan bunga-bunga nan cantik tapi juga terdapat berbagai buah-buahan. Bahkan ada sungai mini lengkap dengan jembatan diatasnya yang menambahkan kecantikan taman itu. Pikir Gladys.


"Sayang." Panggil Mikael ketika melihat Gladys yang hanya terdiam di dekat pintu. Yah Gladys sekarang benar-benar terpukau dengan taman yang dilihatnya dan tanpa sadar dia terus mengamati sekeliling taman.

__ADS_1


"Iya. "Sahut Gladys lalu menghampiri mereka bertiga yang berada di kursi taman.


"Hai Paman Winjaya." Sapa Gladys.


"Hai... kamu pasti Yulin yah?" Tanya Gladys.


Gadis yang berusia 4 tahun itu hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Gladys.


"Tante benar-benar cantik, seperti yang dikatakan Paman." Ujar Yulin.


"Memangnya Paman kamu cerita apa tentang Tante?" Tanya Gladys yang kini duduk di dekat Yulin.


"Paman bilang kalau Tante Gladys itu cantik, suka nolong orang, dan..." Yulin menghentikan kalimatnya. "Tante boleh pangku saya?" Tanya Yulin.


"Tentu boleh dong cantik." Ujar Gladys lalu membuat Yulin kini berada di pangkuannya.


Yulin melihat kearah kepala Gladys.


"Kamu kenapa lihatin kepala Tante? Ada sesuatu yang menempel yah?" Tanya Gladys bingung.


"Gak ada." Jawab Yulin.


"Paman bohong katanya kepala Tante Gladys itu terbuat dari batu." Ujar Yulin yang kini melihat kearah Pamannya.


Winjaya yang mendengarnya dibuat tertawa dengan kepolosan cucu kesayangannya.


Gladys langsung melirik ke arah Mikael.


"Sayang, maksud Paman kamu ini bukan kepala Tante Gladys yang terbuat dari batu." Ujar Winjaya.


"Tanya ke Paman kamu." Ujar Winjaya yang emlimpahkan oertanyaan cucunya kepada Mikael.


Yulin mengalihkan pandangannya kepada Mikael untuk mendapatkan jawaban.


"Kepala batu itu istilah untuk orang yang tidak mau mendengar nasehat orang lain, maunya selalu membangkang. Seperti saat mami melarang Yulin untuk tidak makan permen tapi Yulin tetap memakannya." Jelas Mikael.


"Berarti Tante Gladys juga di larang sama maminya untuk makan permen?" Tanya Yulin pada Gladys.


"Dulu iya Tante dilarang untuk makan permen tapi setelah Tante besar seperti sekarang Tante sudah tidak dilarang lagi karena tante udah tau kalau makan permen banyak gak baik untuk gigi. Tapi Yulin tau gak kenapa Yulin di larang makan permen?"


"Karena permen itu enak dan kita tidak boleh makan makanan yang terlalu enak." Jawab Yulin dengan polos.


Mereka tersenyum mendengar jawaban polos Yulin.


"Bukan karena itu. Tapi kalau anak-anak makan permen yang terus-terusan nanti di dalam gigi kita bisa muncul makhluk kecil yang mengigit-gigit gigi kita hingga rusak dan makhluk kecil itu sangat suka dengan sisa-sisa permen yang tertinggal di gigi." jelas Gladys.


Yulin yang mendengarnya langsung menutup mulutmya rapat-rapat dengan kedua tangannya mungilnya.


"Yulin gak mau makan permen lagi. Yulin gak mau ada makhluk kecil di gigi Yulin." Ujarnya.


"Yah udah sekarang kita makan dulu yuk." Ajak Gladys.


Yulin menjawabnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Paman Winjaya, Kak Mika makanannya udah siap kita makan siang dulu." Ajak Gladys.


Yulin sudah terlebih dulu pergi meniggalkan mereka bertiga.


"Yulin jalannya pelan-pelan, hati-hati jatuh." Teriak Winjaya.


"Kamu hebat bisa membuat Yulin sampai tidak ingin memakan permen lagi." Ujar Winjaya lalu mengacungkan jempolnya kearah Gladys.


Merek bertiga melangkah menuju ke ruang makan.


"Gladys masakannya udah jadi?" Tanya Nana yang baru saja keluar dari ruang kerja Winjaya.


"Iya Tante."


Mereka telah berada di ruang makan.


Mikael hendak duduk di samping Gladys, namun di larang oleh Yulin.


"Paman itu kursi Yulin." Ujar Yulin.


"Sejak kapan kursi ini jadi kursi kamu? biasanya juga kamu duduk di samping Oma Nana." Ujar Mikael heran.


"Sejaaaaaakkk, sejak tante Gladys duduk di kursi itu." Jawab Yulin lalu menunjuk ke kursi yang di duduki Gladys.


"Yah udah silahkan Tuan Putri." Ujar Mikael lalu menarik kursi kosong di sampingnya lagi.


Alhasil Yulin duduk di antara Gladys dan Mikael.


"Gladys maaf yah sepertinya Tante ninggalin kamu kelamaan sampai-sampai masakannya udah jadi semua." Ujar Nana sambil memotong chicken katsu miliknya.


"Gak papa tante. Tapi saya gak tau apa masakan saya bisa seenak masakan Tante atau tidak." Ujar Gladys.


"Enak, Yulin suka masakan Tante Gladys seperti masakan Oma Nana dan juga mbak Pia." Ujar Yulin.


"Mbak Pia siapa Yulin?" tanya Gladys.


"Mbak Pia itu orang yang bekerja di rumah orang tuanya atau bisa di bilang tangan kanan mamanya. Mbak pia juga yang mengantar Yulin ke Ibu Kota." Jawab Nana lalu memasukkan potongan chicken katsu ke mulutnya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai guys


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2