
Gilang langsung menggendong Gladys. Dia menuruni tangga untuk menuju ke lift.
Belum selesai Gilang menuruni tangga, Mikael muncul di hadapannya dan langsung mengambil Gladys dari gendongan Gilang.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Mikael panik.
Tanpa menuggu jawaban dari Gilang, dia menyuruh sahabatnya itu menelpon dokter.
"Telepon Dokter Nano sekarang." Perintah Mikael sambil menggendong Gladys sembari menunggu pintu lift terbuka.
Nano adalah anak dari Dokter Hans, sahabat Winjaya sekaligus dokter yang menangani Yuan saat kecelakaan. Dokter Hans kini telah pensiun dan di gantikan oleh anaknya.
Sesampainya di ruangannya dengan pelan Mikael membaringkan Gladys ke sofa empuk di ruangannya.
"Gladys saya minta maaf, karena saya kamu menjadi seperti ini." Ujar Mikael yang merasa bersalah sambil terus meratapi Gladys yang belum sadarkan diri.
"Kenapa Dokter Nano belum juga datang?" Tanya Mikael kesal.
Dia takut jika terjadi sesuatu terhadap Gladys.
"Butuh waktu 30 menit untuk Dokter Nano sampai di kantor. Kamu tenang dulu." Jawab Gilang.
Benar saja, 20 menit kemudian Nano telah masuk ke dalam ruang CEO.
"Dokter cepat Dok." Ujar Mikael.
Selesai memeriksa Gladys.
"Gimana keadaan Gladys dokter? Dia baik-baik sajakan? Jenapa dia belum sadar Dok?" Tanya Mikael tidak sabar.
Flashback off
"Gladys kenapa bisa sampai ke rooftop?" Tanya Mikael pada Gilang.
"Saya yang memberitahunya." Jawab Gilang.
"Kita bicara di ruang rapat." Ujar Mikael dingin.
"Gladys kamu istirahat saja disini. Saya segera kembali." Ujar Mikael lembut.
Mereka berdua menuju ke ruang rapat.
Selepas mereka pergi, Teddy bersama Aaron masuk ke ruang CEO.
"Mereka mau kemana?" Tanya Aaron yang hanya berpapasan dengan mereka sbeelum masuk ke ruang CEO
"Mereka akan pergi ke ruang rapat. Tapi Mikael seperti nya sedang marah setelah tau kalau Gilang memberitahu saya tentang rooftop kantor." Jawab Gladys.
"Apa?" Ujar Aaron terkejut, dia segera keluar dari ruang CEO dengan terburu-buru.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih Teddy?" Tanya Gladys penasaran, dia lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya pada sofa setelah merasa sakit kepalanya mulai menghilang.
__ADS_1
"Dulu Pak Mika bersama Pak Aaron, Pak Gilang dan Pak Zhoy mereka berempat sering ke rooftop untuk membangun bisnis game mereka. Di saat bisnis mereka sudah bagus tiba-tiba Pak Zhoy ketahuan menghianati mereka. Semua kejadiannya terjadi di rooftop tempat mereka membuat janji dan tempat mereka mengingkari janji. Mereka bertengkar hebat saat itu dan sejak saat itu Pak Mika menyuruh orang untuk menghancurkan semua yang ada di rooftop seperti gazebo, taman-taman. Begitu yang saya dengar."
"Pantas saja Kak Gilang seperti tidak ingin memberitahukan pada Kak Mika ketika kita dari Rooftop." Ujar Gladys.
"Memangnya kamu dan pak Gilang sering ke rooftop?" Tanya Teddy.
Ruang Rapat
"Kami baru dua kali bertemu di rooftop." Ujar Gilang.
"Kamukan tau kalau tempat itu tempat pengkhianatan. Tapi kenapa kamu membawa Gladys ke sana? Apa kamu dan Gladys mengkhianti saya?" Ujar Mikael dengan penuh amarah.
Sebenarnya bukan itu maksud Mikael, dia hanya ingin agar kenangan menyakitkan itu tidak dia ingat lagi. Begitupun untuk dua sahabatnya, Gilang dan Aaron. Penghianatan yang dilakukan sahabatnya Zhoy sangat berbekas di hati Mikael. Pasalnya Zhoy sudah seperti saudara baginya begitupun dengan Gilang dan Aaron.
"TIDAK! Saya bawa Gladys ke rooftop hanya untuk membuatnya merasa tenang." Ujar Gilang yang geram dengan tuduhan tanpa bukti sahabatnya itu.
"Tenang? Memangnya Gladys pernah bilang apa sama kamu?"
"Sepertinya Gladys tidak menceritakan masalahnya kepada Mikael tentang mamanya." Batin Mikael.
"Dia gak cerita apa-apa." Jawab Gilang bohong, dia tidak ingin tambah memperkeru suasana. "Kamu ingatkan dia pernah di katain oleh para karyawan sebagai wanita penggodalah, wanita tidak benarlah. Saya hanya ingin dia merasa tenang dan tidak memikirkan perkataan mereka, kamu tau sendirikan kalau Gladys paling perduli dengan kata orang-orang tentang dirinya." Jelas Gilang.
Pintu ruang rapat terbuka.
Aaron masuk dan menghampiri mereka.
Terlihat dengan jelas jika Mikael sedang kesal sedang Gilang terlihat lebih tenang walau dia mulai geram ddngan Mikael. Yah Gilang memang memang selalu terlihat tenang ketika mnghadapai masalah.
"Saya minta sama kamu jangan pernah membawa Gladys ke sana lagi. Dia pacar saya dan dia menjadi urusan saya." Ujar Mikael lalu melangkah keluar dari ruang rapat.
"Mika saya tau tempat itu adalah tempat pengkhianatan bagi kamu. Tapi bagi saya tempat itu penuh kenangan tentang kita berempat dan rooftop membuat saya merasa lebih tenang. Saya minta maaf." Ujar Mikael dalam hati sambil memandangi punggung Mikael yang telah menghilang dari balik pintu.
Ruang CEO
Mikael membuka pintu ruangannya dan mendapati Gladys yang sedang membaca dokumen di sofa.
Entah kenapa ketika melihat Gladys yang selalu berada di sisinya dia selalu merasa lebih tenang sekaligus takut jika nanti dia tidak melihat Gladys berada disisinya lagi. pikir Mikael
"Kamu sudah merasa baikan?" Tanya Mikael.
Gladys tersenyum ke arah Mikael. "Saya sudah merasa baikan" jawab Gladys. "Kamu gak habis bertengkarkan dengan Kak Gilang?" Tanya Gladys.
"Tidak. Saya hanya memperingatinya untuk tidak lagi membawa kamu ke rooftop." Jawab Mikael yang sudah merasa lebih tenang.
"Apa saya benar-benar tidak bisa ke rooftop lagi? Saya hanya merasa rooftop adalah tempat saya melarikan diri sementara dari masalah saya."
"Saya akan membawa kamu ke tempat yang bisa membuat kamu merasa tenang. Jadi kamu bisa katakan pada saya kapanpun kamu ingin pergi saya akan membawa kamu."
Gladys hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Oh iya ini uang ganti rugi karena tadi saya lancang mencium kamu." Ujar Mikael sembari memberikan 5 lembar uang pecahan seratus ribu pada Gladys.
__ADS_1
Gladys yang melihatnya membuatnya merasa tidak nyaman dan kesal. Dia menjadi merasa kalau dia sedang memeras Mikael sekaligus membuatnya seakan dia menjual dirinya sendiri tapi Gladys juga sadar kalau dia sendirilah yang telah mengatakannya saat membuat perjanjian dengan Mikael. Pikir Gladys.
"Kak Mika simpen aja dulu uangnya." Ujar Gladys tidak bersemanagat.
"Are you sure?" Tanya Mikael meyakinkan.
Gladys menjawabnya dengan anggukan kepala.
Pembicaraan mereka berakhir tapi Mikael terus melihat Gladys yang fokus dengan dokumen di tangannya.
"Gladys." Panggil Mikael.
"Mh..."
"Saya ingin kamu menjadi pacar sungguhan saya bukan pacar diatas kertas seperti yang kamu katakan. Saya ingin kamu tau isi hati saya tapi saya juga takut. Jika nanti kamu tau perasaan saya kamu malah pergi, pergi meninggalkan saya karena sepertinya hanya saya yang merasakannya." Ujar Mikael dalam hati sambil memandangi Gladys yang kembali fokus pada map folder di tangannya.
"Gak usah baca ini lagi." Ujar Mikael sembari mengambil map folder dari tangan Gladys.
"Kembalikan dokumen itu. Saya harus mengerjakannya." Ujar Gladys.
"Gak. Kamu harus istirahat. Saya antar kamu pulang."
"Kalau gitu kamu juga harus pulang untuk istirahat."
"Gak usah kepala batu."
Mikael mengambil jasnya yang tergantung lalu melihat Gladys yang masih duduk di sofa.
"Kamu ingin jalan sendiri atau di gendong?" Tanya Mikael.
Gladys langsung berdiri. "Jalan sendiri." Jawabnya.
Mikael langsung tersenyum melihat tingkah Gladys.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣