Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #81


__ADS_3

Flashback On


Ruang CEO


"Saya ingin kamu melakukan sesuatu."


"Apa Pak?"


"Kamu taukan kalau unit apertemen yang selantai dengan unit apertemen saya belum ada yang tinggalin?"


"Iya, karena Pak Mika tidak ingin selantai dengan orang lain." Jawab Teddy yang masih belum mengerti arah pembicaraan Bossnya.


"Saya ingin kamu bujuk Gladys untuk mau tinggal di unit apertemen itu." Perintah Mikael.


"Kenapa bukan Pak Mika aja? lagian Gladys kan pacar Pak Mika."


"Kalau saya yang menyuruh dia tinggal di sana, pasti seratus persen dia nolak. Alasannya inilah itulah." Ujar Mikael. "Pokoknya saya gak mau tau gimana caranya kamu agar Gladys mau tinggal di apertemen itu dan kalau sampai kamu gagal, kamu harus menulis dengan tangan biodata seluruh karyawan di perusahaan ini."


"Keriting dong jari-jari saya. Karyawan di perusahaan ini kan lebih dari seribu orang." Ujar Teddy sambil melihat jari-jarinya.


"Saya tidak peduli." Ujar Mikael dengan menekan setiap kata uanh di ucapkannya.


"Kalau wanita itu tinggal selaintai dengan saya, maka akan dengan mudah untuk saya menjaganya." Batin Mikael.


Flashback Off


"Gladys kamu harus mau, demi jari-jari saya please." Ujar Teddy dalam hati.


"Kamu kenapa sih? Tampang kamu kek orang kasihan gitu."


"Kamu gak usah perdulin wajah saya, intinya kamu harus mau sewa apertemen teman saya itu"


"Kenapa jadi maksa sih?" Tanya Gladys heran.


"Karena saya gak enak sama teman saya. Saya udah bilang kalau kamu mau sewa apertemennya dan dia senang banget dengernya." Ujar Teddy bohong, dia memasang wajah memelas pada Gladys.


"Yah udah."


"Kamu mau?" Tanya Teddy kegirangan.


"Saya cuman bilang yah udah, tidak bilang mau."


Mendengar ucapan Gladys ekspresi Teddy berubah seratus delapan puluh derajat.


"Jangan sedih gitu dong. Besok jam makan siang kita ke sana saya mau lihat dulu. Bolehkan?"Ujar Gladys yang merasa gak enak dengan Teddy.


"Ok dan setelah itu kamu harus mau."


"Idih maksa banget." Canda Gladys. "Udah ah saya mau lanjut kerja."


***


Sesuai dengan permintaan Gladys saat jam makan siang Mira pergi ke rumah makan dekat kantor, dia mengajak Vicky bersamanya.

__ADS_1


Sementara Gladys menunggu Gilang di House Cafe setelah meminta bantuan dari Teddy untuk menyiapkan makan siang Bossnya.


"Hai Dys, sorry saya telat." Ujar Gilang sambil menarik kursi kosong di depan Gladys yang memisahkan mereka hanyalah meja cafe. Gilang menaruh laptopnya pelan ke atas meja.


"Gak papa, kamu pesan dulu. Tadi saya udah pesan."


Gilang memanggil pelayan cafe dengan mengangkat tangannya.


"Mau pesan apa Pak?" Tanya pelayan cafe ramah.


"Nasi ayam tanpa tulang satu dan es jeruk manis." Ujar Gilang.


"Mohon di tunggu."


Setelah mencatat pesanan Gilang oelayan tadi pergi meninggal mereka.


"Saya dengar dari Teddy katanya kamu lagi cari tempat tinggal baru?" Tanya Gilang.


"Iya saya memang lagi cari tempat tinggal baru."


"Memangnya apertemen kamu sebelumnya kenapa?"


"Ada sedikit masalah."


"Dengan teman se-apertemen kamu?"


Gladys mengangguk mendengarnya. "Bisa di bilang seperti itu." Jawab Gladys.


"Permisi." Ujar pelayan yang tengah menyajikan memu pesanan Gladys.


Gladys melihat ke laptop di depannya.


"Kak Gilang ngapain bawa laptop?" Tanya Gladys sambil mengaduk mie goreng kecap pesanannya.


"Ada yang mau saya tunjukin ke kamu, tapi setelah kita selesai makan siang." Jawab Gilang.


Tidak berselang lama pesanan Gilang telah tersaji di atas meja.


"Kata Teddy kamu pingsan di cafe rumah sakit, tapi kenapa Mikael malah membawa kamu ke apertemennya?"


"Kata Kak Mika kalau di apertemennya lebih aman karena dia bisa menjaga saya." Jawab Gladys setelah menelan makanan di mulutnya.


"Memangnya kalian beneran pacaran?"


"Kak Gilang kok tanyanya gitu?"


"Karena saya merasa kalau kalian gak bener-bener pacaran."


"Kenapa Kak Mika bisa bilang begitu?"


"Mikael itu udah lama menjomblo dan dia selalu di jodoh-jodohkan oleh orang tuanya dengan wanita dari anak teman-teman orang tuanya."


Gladys tersenyum mendengar jawaban laki-laki di hadapannya. "Mungkin hubungan saya dan Kak Mika tidak benar-benar serius dan saya hanya menjadi tameng."

__ADS_1


"Bukan begitu maksud saya. Saya hanya...."


Gladys mengangkat kedua alisnya. "Saya mengerti kok maksud Kak Gilang."Potong Gladys.


"Saya kok jadi merasa bersalah gini." Ujar Gilang yang memegang leher belakangnya.


"Gak papa kok. I'm fine."


"Karena hubungan saya dan Kak Mika memang hubungan palsu, hanya sandiwara di depan orang-orang." Batin Gladys.


Selesai makan siang Gilang membuka laptopnya.


"Memangnya apa yang Kak Gilang ingin tunjukkin ke saya? Sampai-sampai Kak Mika tidak boleh tau kalau kita ketemuan di jam makan siang." Tanya Gladys.


"Karena kamu pernah bilang kalau kamu tidak ingin Mikael ikut campur urusan kamu dan saya telah berhasil mendapatkan video rekaman Cctv di butik Tante Nana." Jawab Gilang yang mengotak atik laptopnya.


"Beneran?" Tanya Gladys membulatkan matanya karena terkejut.


"Iya, tapi sayangnya kata petugas di sana saat kamu di butik waktu itu Cctv di depan ruang ganti lagi bermasalah. Jadinya videonya tidak begitu jelas." Jelas Gilang lalu menekan enter di keyboard laptopnyanuntuk memulai video dan mengarahkan laptopnya oada Gladys.


Benar saja, Gladys hanya dapat melihat samar-samar dua orang yang sedang berdiri di depan ruang ganti sebelum dia masuk ke dalam ruang ganti.


"Sepertinya wanita yang satunya itu Tante Hani karena saat itu Tante Hani sedang memakai syal


"Wanita itu sepertinya sedang berbicara dengan Tante Hani." Ujar Gladys sambil mengamati vidoe dari laptop Gilang.


"Iya, tapi sepertinyabyang menjatuhkan gantungan kunci itu bukan tante Hani karena syal leher berwarna hitam tapi wanita yang satunya saya tidak mengingatnya." Jelas Glasya yang mencoba mengingatnya.


"Kalau dari pengamatan saya sepertinya wanita yang satunya di rekaman Cctv itu adalah wanita parubaya yang umurnya lebih tua dari Tante Hani. Apa kamu ingat saat kamu di butik ada wanita parubaya yang menggunakan tas dan pakaian yang di matchingkan?" Tanya Gilang.


Gladys mecoba mengingat pengunjung butik saat itu.


"Kalau dari yang saya ingat pengunjung butik saat itu wanita-wanita muda tapi itu pun tidak ada dari mereka yang mematchingkan tas dan pakaian mereka."


"Apa mungkin Tante Hani yang menjatuhkan gantungan kunci itu?" Terka Gilang.


"Tapi juga bisa jadi wanita yang mematchingkan pakaian dan tasnya ini Kak."


"Berarti salah sati dari mereka. Tapi bagaimana caranya kita mencari tau tentang itu?" Tanya Gilang.


"Apa Kak Gilang punya video rekaman yang bukan di depan ruang ganti?" Tanya Gladys.


"Ada, saya sempat meminta ke petugas penjaga butik rekaman Cctv dari pintu masuk butik. Tapi seoertinya kita tidak punya cukuo waktu untuk melihatnya." Jelas Gilang setelah melihat jam tangan yang di pakainya.


"Benar juga, jam istirahat sudah lewat."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2