Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #38


__ADS_3

"Kak Gilang." Ujar Gladys kaget. Segera dia membalikkan badannya dan menghapus sisa air mata di pipinya.


Sementara Gilang mengambil gantungan kunci yang di jatuhkan Gladys tadi.


"Kamu gak papakan?" Tanya Gilang lagi.


Gladys kembali membalikkan badannya menghadap Gilang.


"Gak kok Kak Saya gak papa." Jawab Gladys.


"Kita duduk dulu." Ujar Gilang membawa Gladys duduk di gazebo.


Walaupun Gladys berusaha menyembunyikan air matanya tapi tetap saja Gilang bisa mengetahui kalau tadi Gladys menangis. Gilang melihat dari mata Gladys yang sembab dan sedikit berwarna merah muda.


Kini mereka telah duduk dan saling berhadapan, hanya di pisahkan oleh meja batu.


"Ini gantungan kunci kamu." Ujar Gilang sembari memberikan gantungan kunci milik Gladys.


"Kalau kamu lagi ada masalah dan butuh seseorang untuk mendengarkannya saya bersedia kok. Siapa tau saya bisa bantu." Ujar Gilang yang khawatir dengan Gladys.


"Gantungan Kunci ini pemberian mama sebelum dia pergi ninggalin saya dan Papa." Ujar Gladys sambil menundukkan kepalanya melihat gantungan kunci di tangannya.


"Mama kamu pergi kemana?" Tanya Gilang ragu.


"Entahlah Kak." Ujar Gladys lalu menghembuskan napas beratnya. "Dulu ketika saya bertanya ke papa, dia hanya bilang kalau mama sedang mencari kebahagiaannya di luar sana tanpa kita dan setiap kali papa bilang gitu hati saya terasa sakit. Saya merasa tidak berguna karena tidak dapat membahagiakan mama hingga dia harus pergi mencari kebahagiaannya di luar." Jelas Gladys sambil menggusap setiap butiran bening yang membasahi pipinya walau dia berusaha untuk tidak menangis di depan Gilang.


"Gladys, hei." Ujar Gilang lembut. " Saya yakin mama kamu pasti punya alasan lain dan bukan karena kamu yang tidak bisa membahagiakannya. Mungkin saja mama kamu sekarang sedang mencari keberadaan kamu dan Papa kamu." Lanjut Gilang yang berusaha menenangkan Gladys.


Entah kenapa setelah mendengar perkataan Gilang membuat hati Gladys sedikit lebih tenang, dia mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Gilang


"Sekarang kamu gak usah nangis lagi. Entar cantiknya jadi hilang loh." Ujar Gilang yang membuat Gladys tersenyum.


"Ternyata kak Gilang bisa gombal juga." Ujar Gladys.


"Memangnya kamu pikir hanya Aaron yang bisa gombal, saya juga bisa." Ujar Gilang bangga.


"Terimakasih yah Kak Gilang."


"Sama-sama. Kalau nanti kamu butuh bantuan saya siap selalu bantu kamu." Ujar Gilang.


"Gomong-gomong kak Gilang kok bisa ada disini. Kak Gilang juga lagi ada masalah yah?" Tebak Gladys.


"Gak kok. Saya lagi pengen hirup udara segar aja, kepala saya lagi mumet dengan kerjaan." Jawab Gilang. "Oh iya, Mika gak tau kan kalau kamu kesini?" Tanya Gilang.


"Kak Mika pergi ke kantor Gubernur untuk rapat bersama Kak Aaron dan Teddy." Jawab Gladys.


"Kak Gilang mau?" Tanya Gladys sembari memberikan roti dan susu yang di bawanya.


"Memangnya kamu gak makan?" Tanya Gilang.


"Kak Mika pilih aja salah satunya."


"Kalau gitu saya pilih roti aja, kebetulan juga belum makan siang. Terimakasih yah." Ujar Gilang lalu membuka bungkusan rotinya sementara Gladys menusuk sedotan ke kotak susu yang ada di gengganman tangannya.

__ADS_1


"Kamu lagi diet?" Tanya Gilang.


"Gak Kak. Kalau lagi ribet atau pengen nenangin diri saya suka minum susu bersama roti."


"Aneh. Orang-orang biasanya makan cokelat, ini kamu malah pilih susu dan roti."


Gladys mengangkat kedua bahunya "begitulah" ujarnya. "Oh iya kak Gilang, kata Kak Mika waktu kuliah dulu kak Gilang suka yah dengan Mbak Marsha?"


"Aduh, kamu ungkit si kepala dua itu lagi."


"Kepala dua?" Tanya Gladys bingung.


"Iya. Dia itu si kepala dua, dia itu wanita dengan seribu hal picik di kepalanya dan kita tuh gak bisa nebak isi kepalanya. Bisa aja dia sekarang misalnya lagi senyum ramah ke kamu tapi di kepalanya itu udah ngerencanain sesuatu buat kamu."


"Kak Gilang sepertinya kenal banget dengan Mbak Marsha."


Gilang tersenyum mendengarnya.


"Penyesalan terbesar saya saat kuliah itu suka dengan wanita seperti Marsha. Saat kuliah dulu saya menjadi ketua UKM Basket cowok di kampus, sialnya Marsha yang mengetahui kalau saya menyukainya dan memanfaatkannya untuk menjadi asisten saya."


"Loh bukannya bagus yah Kak, itu berartikan kesempatan buat kak Gilang dekat dengan mbak Marsha."


"Awalnya saya berpikir seperti itu, tapi ternyata dia ada maksud dan tujuannya mau menjadi asisten saya. Wanita itu ingin mendekati Mika, dia menyukai Mika dan sepertinya hingga sekarang. Seperti yang kamu lihat kan kemarin."


Gladys meresponnya dengan anggukan kepala tanda menyetujui perkataan Gilang.


"Saat dia menjadi asisten saya dia mulai mengatur semuanya, mulai dari jadwal latihan kami, kegiatan di luar kampus, hingga pelatih kami pun dia ingin atur, teman-teman yang lain juga gak begitu suka dengan dia tapi perlu saya akui laporan-laporan dan acara-acara UKM kami dia kerjakan dengan sangat baik. Marsha juga terus mendekati Mika sampai sepertinya Mika merasa risih setiap kali dekat dengan dia." Jelas Gilang sambil mengingatnya.


"Kalau sampai ngatur pelatih sih sepertinya udah kelewat."


"Ternyata ada juga orang seperti itu."


Hp di saku celana Gladys tiba-tiba berbunyi. Gladys lalu mengambil hpnya ternyata chat WA yang masuk.


Gladys segera menekan notifikasi pada layar hpnya.


💬From: si Mr. Sok Perfect


Sayang, Kamu udah makan siang?


💬To : si Mr. Sok Perfect


Sudah.


💬From : Si Mr. Sok Perfect


Kamu gak ingin makan siang lagi?


💬To : si Mr. Sok Perfect


Gak.


💬From : Si Mr. Sok Perfect

__ADS_1


Balasan kamu kok singkat banget sih sayang.


💬To : si Mr. Sok Perfect


Terus saya harus balas apa?


Hp Gladys sudah tidak berbunyi lagi.


"Dys kita balik yuk." Ajak Gilang.


Gladys menyetujui ajakan Gilang.


Kini mereka menurunin tangga dan masuk kedalam lift, Gilang menekan tombol bertuliskan angka 25.


"Dys perut kamu benar-benar udah kenyang? kalau gak masih ada waktu kok buat makan siang. Biar saya yang traktir." Ujar Gilang sembari melihat jam tangan yang dipakainya.


Gladys sebenarnya belum merasa kenyang, dia hanya meminum sekotak susu tanpa roti. Tapi dia tidak ingin orang salah sangka lagi antara dirinya dan Gilang kalau hanya makan siang berdua saja, begitu pikir Gladys.


"Kamu gak usah mikirin perkataan orang-orang. Cuek aja lagi." Ujar Gilang seakan mengetahui isi pikiran Gladys.


"Iya Kak saya mau."


Gilang kembali menekan tombol di samping pintu lift untuk menuju ke lantai paling bawah gedung.


Pintu lift terbuka.


Mereka lalu menuju ke kantin kantor.


"Kamu ingin makan apa?" tanya Gilang saat mereka berada di depan kasir kantin.


"Bakso aja Kak." Jawab Gladys.


"Minumnya?" Tanya Gilang lagi


"Air mineral aja."


"Bakso 1, nasi goreng 1, air mineral 2." Ujar Gilang pada Mbak Ani, pemilik kantin.


Selesai membayar, Mbak Ani memberikan nomor meja kepada Gilang untuk mempermudahkannya mengantarkan pesanan pelanggannya.


"Kak Kita duduk di sana aja." Ujar Gladys sembari menunjuk ke meja kosong dekat pintu masuk kantin.


"Yah udah yuk." Ujar Gilang


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2