Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #72


__ADS_3

"Lea, kak Lea." ujar Lina dan Gladys bersamaan.


"Kamu kok bisa ada di sini?" Tanya Lina yang terkejut melihat keberadaan anaknya.


"Ma, please berhenti morotin Gladys dan mengatas namakan Leon. Padahal uang itu Mama gunakan untuk membeli perhiasan mewah dan tas branded mama lalu di pamerin ke teman-teman arisan Mama." jelas Lea.


"Memangnya kamu tau darimana? kamu jangan asal bicara yah." Ujar Lina yang merasa kesal dengan tuduhan anak sulungnya.


"Saya sebelumnya minta maaf Ma, saya ngikutin mama. Ini buktinya." Ujar Lea lalu memperlihatkan video dari hpnya. "Saya udah ngerakam apa aja yang Mama lakuin setelah bertemu dengan Gladys, Mama pergi ke toko tas branded dan perhiasan. Setelah itu Mama pergi bersama teman-teman arisan Mama."


"Nggak, itu gak benar. Kamu jangan asal bicara. Kamu ini anak Mama jangan buat Mama malu di depan wanita pembawa sial ini" Bentak Lina pada Lea.


"Ma C'mon. Mama minta maaf ke Gladys dan berhenti ngatain Gladys wanita pembawa sial." Ujar Lea.


Sementara Gladys terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia menutup mulutnya dengan tangan. Dia sudah berkorban banyak untuk mendapatkan uang sesuai dengan permintaan Lina bahkan dia rela menjadi pacar bohongan laki-laki lain.


"Gak perlu Kak Lea, Mama gak perlu minta maaf ke Gladys." Ujar Leon yang baru saja menghampiri mereka.


"Leon, Leon Leon kamu jangan percaya Sayang dengan apa yang dikatakan oleh Kakak kamu. Semua yang dikatakannya itu bohong." kelit Lina, dia tidak ingin anak laki-lakinya menjadi membencinya dan semua rencananya untuk menjadi orang kaya gagal.


"Mama tenang aja saya percaya kok sama Mama." Ujar Leon lalu tersenyum ke arah Mamanya. "Lagian saya dan Gladys sudah...." Leon menghentikan kalimatnya, dia seakan tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. "PUTUS." Lanjutnya lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"APA!! Leon kamu kenapa ngomong gitu?" Tanya Gladys terkejut. Sepasang mata Gladys mendadak dipenuhi dengan cairan bening bahkan bibir Gladys bergetar. Dia mencoba mendekati Leon yang masih duduk di kursi roda. Namun Lina sudah terlebih dulu menahan Gladys.


"Kamu dengar kan apa kata anak saya. Kalian sudah putus." Tegas Lina sambil memegang lengan Gladys kuat.


"Enggak Tante, saya dan Leon gak putus. Kami bahkan sudah berencana untuk traveling berdua setelah dia keluar dari rumah sakit." Jelas Gladys dengan bibir bergetar dan cairan bening yang begitu lancar membasahi pipi putihnya.


"Leon kamu gak salah omong kan? mana mungkin kamu mau putus dari Gladys. Kakak tau kamu sangat menyayangi Gladys." Ujar Lea mencoba menasehati adiknya atas keputusan yang diambilnya.


"Saya udah capek, saya ingin ke ruang rawat istirahat." Ujar Leon dia berpura-pura seakan tidak ingin melihat wanita yang di cintainya itu.


Lina dengan sigap mendorong anaknya.

__ADS_1


"Kamu mau tinggal di sini?"Tanya Lina dingin yang masig melihat Lea berdiri di tempatnya.


Lea merasa kasihan melihat Gladys lalu melangkah meninggalkan wanita itu.


Sementara Leon yang sudah tidak dapat menahan air matanya untuk mengalir ke pipinya, laki-laki itu menangis dalam diam.


"Leon." Panggil Gladys yang melangkah mendekati Leon. Lina yang melihatnya langsung mendorong Gladys hingga wanita itu terhuyung ke lantai.


"Leon." Panggil Gladys yang meninggikan suaranya. Dia sudah tidak memperdulikan dengan tatapan puluhan pasang mata padanya. Gladys hanya terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.


"Rasakan, itu untuk wanita pembawa sial seperti kamu. Akhirnya Leon sadar kalau kamu itu tidak baik untuknya." Batin Lina yang melihat sesaat ke arah Gladys lalu melanjutkan mendorong kursi roda Leon.


"Apa Mama gak kelewatan?" Tanya Lea yang masih merasa kasihan pada Gladys.


"Kamu gak usah melihat dia. Sekarang kamu dorong adik kamu. Kita bawa dia ke ruang rawatnya." Titah Lina sinis.


Leon tau kalau apa yang dilakukan mamanya pada Gladys memang sudah kelewatan, tapi dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan untuk berbalik dan melihat Gladys pun dia sudah tidak sanggup. Leon terus menangis dalam diam, hatinya sangat sakit karena telah menyakiti orang yang paling di cintainya.


***


"Kira-kira sekarang dia sedang apa." Batin Mikael sambil melihat keluar jendela besar yang terdapat di cafe rumah sakit. Mikael sedang menunggu Teddy selesai rapat lalu menjemputnya di rumah sakit karena kedua sahabatnya juga sedang sibuk di kantor.


Kini pandangannya teralihkan pada tablet di atas meja, dia mulai merasa bosan dan memutuskan untuk memainkan tabletnya yang ganggur sambil menyeruput cappucino pesanannya.


Baru sebentar Mikael memainkam tabletnya untuk mengusir kebosanan, matanya teralihkan pada wanita yang baru saja masuk ke dalam cafe. Ternyata Tuhan telah menjawab pertanyaannya, dia melihat Gladys bersama dengan wanita parubaya.


"Siapa wanita paru baya itu?" Gumam Mikael.


Pandangannya terus melihat ke arah kedua wanita itu dan menguping pembicaraan mereka hingga Mikael melihat seorang wanita lainnya menghampiri dua wanita tadi.


"Video apa yang diperlihatkan wanita itu?" Gumam Mikael yang tidak dapat melihat videonya. Posisi Mikael yang duduk 2 meja dari mereka sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tablet berukuran 9,7 inch membuatnya hanya dapat mendengar percakapan mereka.


Tidak menunggu lama wanita yang memperlihatkan video itu menjelaskan isi dari rekaman videonya.

__ADS_1


"Apa ini alasan Gladys setuju mau menjadi pacar pura-pura?" Tanya Mikael dalam hati.


Suasana semakin menegang tatkala seorang laki-laki yang tidak asing bagi Mikael menghampiri ketiga wanita itu.


Tanpa di sadari oleh mereka, sepasang mata tajam terus memperhatikan mereka, melihat apa yang telah terjadi. Ingin rasanya Mikael keluar dari persembunyiannya saat melihat wanita yang disayangnya tersakiti, melihat Gladys yang menangis karena Leon yang mengatakan hubungan mereka telah berakhir. Namun jika dia keluar sekarang dan membela Gladys di depan keluarga Leon itu akan memperburuk keadaan Gladys. pikir Mikael.


"Gladys." Panggil Mikael terkejut saat melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita parubaya itu mendorong Gladys hingga terhuyung ke lantai.


"Sialan, bahkan laki-laki brengsek itu tidak menoleh sama sekali setelah mamanya menyakiti Gladys." Maki Mikael yang segera menghampiri Gladys.


"Kamu gak papa Gladys? Wajah kamu..." Ujar Mikael panik saat melihat wajah Gladys yang pucat.


"Kak Mika, perut saya sakit." Rintih Gladys sambil memegang perutnya yang teramat sakit hingga semua yang di lihatnya tiba-tiba menjadi gelap dan seketika itu juga Gladys kehilangan kesadarannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣

__ADS_1


__ADS_2