Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #71


__ADS_3

Melihat Mikael yang semakin dekat dengan posisinya berdiri, membuat Gladys semakin panik dan khawatir. Dia sudah seperti orang yang sedang kepergok selingkuh oleh pasangannya.


Gladys takut jika Mikael sampai tau kalau Leon adalah pacarnya maka dia harus membayar denda sesuai dengan perjanjian kontrak. Tapi jika Leon sampai tau kalau dia menjadi pacar bohongan laki-laki lain tentunya Leon akan merasa kecewa padanya terlebih lagi itu karena untuk membiayai biaya rumah sakitnya.


"Tuhan, tolong Gladys." Batin Gladys.


"Kamu sedang apa di taman?" Tanya Mikael yang sudah berdiri tepat di hadapan Gladys.


BOooommm


Gladys hanya bisa mematung di tempat. Di kepalanya sudah seperti ada bom yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.


"Hei, kamu kok diam?" Tanya Mikael sambil mengusal pucuk rambut Gladys.


"Maaf anda siapa yah?" tanya Leon yang terkejut melihat perlakuan laki-laki yang tidak di kenalnya pada pacarnya.


"Perkenalkan saya Mikael Winjaya, saya adalah..."


"CEO di kantor saya." Potong Gladys cepat.


Leon menyunggingkan senyum terpaksa yang Gladys tau kalau pacar sungguhannya ini merasa tidak nyaman dengan keberadaan Mikael.


"Saya Leonard Hartanto, pacar Gladys." Ujar Leon tidak ramah.


Mikael megepalkan tangannya mendengar perkataan laki-laki yang sedang duduk di kursi roda di hadapannya ini. Walaupun dia sendiri tau kalau Leon memang laki-laki spesial Gladys tapi mendengar ucapan itu keluar dari mulut Leon membuat Mikael marah, ingin rasanya dia menyobek mulut Leon karena telah berani menyebut Gladys sebagai pacarnya.


Mikael menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar, mencoba menenangkan dirinya.


"Melihat dari pakaian anda, sepertinya anda juga sedang di rawat di rumah sakit ini." ujar Leon dingin.


"Benar saya juga pasien di rumah sakit ini."


"Anda sedang sakit apa?"


"Saya habis mengalami kecelakaan."


"Dan ini karena kamu." Batin Mikael kesal.


"Saya turut prihatin. Tapi saya minta tolong dengan anda untuk menjaga Gladys selama dia masih bekerja untuk anda." Ujar Leon terpaksa.


"Tentu saja, tanpa anda minta pun saya akan menjaganya dengan tulus. Kalau begitu saya pamit dulu." Ujar Mikael, dia sudah benar-benar tidak tahan melihat wajah Leon.


Flashback On


Begitu mendapat laporan dari Teddy tentang nama rumah sakit teman Gladys di rawat, Mikael langsung menuju ke rumah sakit yang di maksud. Betapa terkejutnya Mikael dengan apa yang dilihatnya saat dia telah tiba di rumah sakit. Dia brnar-benar sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilihatnya dan memutuskan untuk pergi.


Pikiran Mikael sangat kacau setelah melihat Gladys bersama laki-laki lain, terlihat sangat dekat dan... romantis hingga dia lepas kendali dan menabrak trotoar jalan dan setengah badan mobilnya telah jatuh ke dalam selokan. Untungnya warga di sekitar kejadian dengan cepat membantunya keluar dari mobil.


Flashback Off


Sepeninggalnya Mikael, Leon meminta kembali ke ruang rawatnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke ruang rawat, tidak ada pembicaraan di antara mereka yang ada hanya suara orang-orang yang lalu lalang melewati mereka.


Diamnya Leon membuat Gladys semakin panik, dia tidak tau apa yang sedang dipikirkan Leon sekarang. Apa laki-laki itu sedang marah padanya? ya sepertinya itu sudah pasti,tidak oeelu Gladya oertanyakan lagi, begitu pikir Gladys.

__ADS_1


Sesampainya di ruang rawat Leon. Gladys langsung membantu Leon untuk kembali ke tempat tidur.


"Apa dia baik pada sama kamu?" Tanya Leon.


"Aa... oh Pak Mika maksud kamu? dia cukup baik." Jawab Gladys terkejut.


Leon sangat tidak menyukai Mikael saat dia melihat laki-laki itu sedang mengusap kepala Gladys, rasanya dia ingin segera memberi pelajaran pada Mikael karena telah berani menyentuh miliknya.


"Sepertinya laki-laki tadi menyukai kamu." Ujar Leon tiba-tiba.


"Yah gak mungkinlah." Sangkal Gladys, lalu memaksakan seulas senyum di bibir mungilnya.


tapi dari sikap dan tatapan Mikael yang di lihatnya tadi, Leon sadar kalau laki-laki itu memang menyukai wanitanya.


Setelah kejadian di taman, Leon lebih banyak diam. Laki-laki itu hanya asyik menonton Tv dan sesekali memainkan hp barunya. Sementara Gladys benar-benar merasa tidak nyaman apalagi dengan sikap Leon yang hanya diam padanya.


Tiba-tiba saja muncul notif di layar hp Gladys.


"WA dari Kak Mika." Batin Gladys lalu menekan layar hpnya untuk membaca keseluruhan isi chat dari Mikael.


💬 From : Si Mr. Sok Perfect


Kamu masih bersama teman LAKI-LAKI kamu itu?


"Apa maksud Kak Mika dengan menghurup besarkan kata laki-laki di chat nya?" batin Gladys.


💬 To : Si Mr. Sok Perfect


Iya Kak Mika. Saya memang harus menjaganya.


💬 From : Si Mr. Sok Perfect


"Mampus, saya harus mrmbayar sanksi karena telah melanggar kontrak perjanjian." Batin Gladys.


💬 To : Si Mr. Sok Perfect


Iya, Kak Mika tenang saja, saya ingat kok.


Tanpa di sadari Gladys ternyata Leon sejak tadi diam-diam melirik ke layar hp miliknya.


"Dia berhutang banyak? hutang apa dan untuk apa?" Batin Leon.


"Ini udah sore, kamu belum mau pulang?" Tanya Leon tiba-tiba yang membuat Gladys menjelengar mendengarnga. Dia hanya menatap laki-laki di hadapannya.


"Kamu jangan salah paham, saya gak bermaksud mengusir kamu. Tapi kamu lihat ini udah sore." Jelas Leon yag tidak ingin di salahpahami.


"Kamu kenapa? Masih marah? Kamu tuh dari tadi diam aja."


"Saya gak marah."


Gladys menggenggam telapak tangan Leon.


"Sekarang saya ingin tanya kamu serius. Kita ini udah pacaran lama, saya tau kamu gimana. Saya hanya ingin kamu lebih terbuka sama saya, kamu punya masalah apa? Aiapa tau saya punya solusinya dan kita bisa hadapain masalah itu sana-sama. Please kamu cerita yah sama saya." Bujuk Gladys.


Leon melepaskan tangannya dari genggaman Gladys.

__ADS_1


"Saya gak punya masalah apa-apa dan sebaiknya sekarang kamu pulang. Biar gak kemalaman sampai di apertemen."


"Ok saya pulang sekarang. Tapi kamu harus ingat kalau saya akan selalu ada untuk kamu, saya akan mendukung setiap keputusan kamu." Ujar Gladys lalu mengambil rantang dan tasnya.


"Bye honey." Pamit Gladys.


Entah kenapa melihat tatapan Leon saat dia akan melangkah keluar ruang rawat berasa sangat berat bagi Gladys meninggalkannya.


"Saya kenapa sih? Seperti tidak rela berpisah dengan Leon. Leon juga biasanya dia nahan saya untuk balik, ini kok malah di suruh pulang." Batin Gladys sambil melangkah menuju ke lobby rumah sakit


Keesokannya


Hari ini hari terakhir Gladys membuatkan Leon makan siang. Seperti biasa selesai membuat masakannya, dia menuju ke rumah sakit.


Saat Gladys melewati lobby rumah sakit.


"Gladys." Panggil seseorang yang membuat Gladys langsung berbalik ke sumber suara.


Betapa terkejutnya wanita cantik itu saat melihat siapa orang yang memanggilnya.


"Kita ke cafe rumah sakit sekarang, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu." Ujar orang itu lalu menoleh ke kanan dan kiri, orang itu seakan sedang merasa was-was, melihat jika ada orang lain yang sedang mengawasinya.


Tanpa berkata apa-apa, Gladys mengikuti langkah orang itu menuju ke cafe rumah sakit lalu duduk di salah satu meja kosong di cafe.


"Apa yang ingin Tante Lina bicarakan?" Tanya Gladys, kali ini bertemu dengan Lina hati Gladys sudah lebih tenang di bandingkan saat pertama dia bertemu dengan Lina di ruang rawat Leon tempo hari.


"Saya minta uang untuk biaya rumah sakit Leon, 30 juta." Ujar Lina dingin.


"Tapi sekarang saya lagi gak punya uang, Tante Lina bisa kasih saya waktu?" Ujar Gladys.


"Saya kasih kamu waktu sampai besok." Ujar Lina.


"Lagian ini juga terakhir kalinya saya minta uang sama kamu, bentar lagi kan saya akan kembali jadi orang kaya jadi saya gak butuh uang kamu lagi." Batin Lina.


"Jangan kasih Dys." Ujar seseorang yang bau saja datang menghampiri mereka berdua.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣

__ADS_1


__ADS_2