
Ruang CEO
Gladys dan Mikael duduk bersampingan di sofa panjang, Winjaya duduk dia sofa tunggal sementara Teddy telah kembali ke meja kerjanya.
"Kamu harus ingat umur kamu itu sudah tidak muda lagi, sudah sepantasnya kamu itu menikah." Ujar Winjaya.
"Bagaimana menurut kamu Gladys?" Lanjut Winjaya
Gladys hanya meresponnya dengan senyuman yang terlihat jelas jika Gladys sedang merasa canggung.
"Yah sudah Papa gak mau bahas pernikahan lagi. Sekarang Papa akan bahas pekerjaan. Bagaimana dengan proyek infrastruktur, kemarin kamu habis rapatkan dengan pak Gubernur?" Tanya Winjaya.
"Maaf saya permisi dulu paman, mau buatkan minum." Ujar Gladys lalu meninggalkan Mikael dan papanya.
Begitu keluar dari ruang CEO. Dia di sambut oleh Teddy.
"Dys kita harus menyiapkan ruang rapat. 30 menit lagi rapat akan di mulai." Ujar Teddy.
"Tunggu bentar. Saya buatkan pak Winjaya dan kak Mikael kopi dulu. Kamu duluan saja." Ujar Gladys.
"Ok." Sahut Teddy lalu mengambil flashdisk yang akan digunakan saat rapat nanti.
Setelah Teddy pergi Gladys langsung menuju ke pantry.
"Cie cie yang calon mertuanya dateng ke kantor." Ledek Mira yang sudah lebih dulu berada di pantry.
"Apaan sih. Jelas aja pak Winjaya datang ke kantor dia kan ketua komisaris dan sebagai ketua dia harus hadir dong dalam rapat direksi." Jelas Gladys sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisikan bubuk kopi dan gula.
"Kata Teddy sewaktu di lift tadi Pak Winjaya nanyain kapan nikah. Sepertinya lampu ijo terang menderang udah on dari calon mertua." Gombal Mira. "Jadi kapan?" Tanyanya
"Tanggal 32 bulan 13." Jawab Gladys asal sambil membawa baki berisikan dua cangkir kopi menuju ke ruang CEO.
Gladys menanggapi Mira dengan santai karena itu tidak mungkin terjadi. Gladys hanya akan menikah dengan Leon. pikir Gladys.
"Permisi Paman." Ujar Gladys sembari menaruh secangkir kopi di atas meja dan mendekatkannya pada Mikael dan Winjaya.
Gladys lalu melangkah menuju ke pintu ruang CEO.
"Kamu mau kemana Gladys?" Tanya Winjaya yang membuat Gladys langsung berbalik.
"Saya harus ke ruang rapat sekarang Paman. Teddy sudah menunggu saya." Jawab Gladys.
"Masa kamu nyuruh calon mantu papa untuk nyiapain ruang rapat." Ujar Winjaya pada anaknya.
"Memang sudah tugas saya paman. Kalau begitu saya permisi dulu, mau keruang rapat." Pamit Gladys lalu dengan cepat dia melangkah keluar dari ruang CEO. Dia merasa sedikit tidak nyaman jika berada di antara Winjaya dan Mikael sementara dia sendiri tidak mengerti dengan percakapan mereka.
"Kamu kok biarin Gladys nyiapin ruang rapat? Sama laki-laki lain lagi, kalau diambil orang aja baru nyesal." Ujar Winjaya yang memperingati anaknya.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok pah. Lagian dia bersama Teddy, tenang aja." Ujar Mikael. "Kalau bersama Aaron baru saya harus was-was." Canda Mikael yang di sambut tawa oleh Winjaya.
Winjaya mengenal sahabat-sahabat anak pertamanya itu dengan sangat baik. Bahkan terkadang ketika mereka ada masalah, Winjayalah tempat mereka mendapat solusi. Kecuali masalah tentang Zhoy, mereka sengaja menyembunyikannya dari winjaya sebab Winjaya sangat membenci yang namanya pengkhianat, mereka takut akan terjadi masalah lebih besar. Winjaya hanya mengetahui kalau bisnis mereka berhenti karena mereka harus fokus pada perusahaan.
***
Ruang HRD
Gilang baru saja merapikan meja kerjanya, dia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang empuk.
Gilang sebenarnya tidak begitu yakin jika Yoyo tidak bersalah tapi tidak ada salahnya juga mengikuti keinginan Gladys. pikirnya.
Hp yang berada di tangannya berbunyi, dia lalu melihat notifikasi hpnya yang ternyata chat WA dari Gladys.
💬 From : Gladys
Saya sudah di depan ruang Cctv.
💬 To : Gladys
Saya ke sana sekarang.
***
Ruang Cctv
"Selamat siang Pak Ijong." Balas Gilang. "Saya ingin melihat rekaman Cctv di ruang satpam 2 hari lalu sebelum terjadi pemadaman listrik pada malam hari." Perintah Gilang.
"Baik Pak." Sahut Ijong.
Ijong segera mencari rekaman Cctv yang di minta Gilang.
Tidak menunggu lama Ijong telah memutarkan rekaman Cctv yang di minta Gilang.
"Stop Pak" Ujar Gladys yang mengamati rekaman Cctv. "Itu Pak Yoyo kan?"
"Iya benar." Jawab Gilang yang juga melihatnya.
"Dia sedang berbicara dengan seseorang." Ujar Gladys.
"Lanjut Pak Ijong." Perintah Gilang.
Ijong yang mendengarnya melanjutkan rekaman Cctv.
"Pak Ijong rekaman Cctvnya bisa di pindahkan ke flashdisk ini?" Ujar Gladys lalu memberikan flashdisk yang telah di bawanya.
"Baik Bu."
__ADS_1
"Terimakasih." Ujar Gladys.
Gilang dan Gladys pun keluar dari ruang Cctv.
Gladys terus memainkan gantungan flashdisk di tangannya sambil tersenyum.
"Sekarang kamu sudah merasa puas?" Tanya Gilang.
"Iya. Tapi Tunggu dulu Kak Gilangm" Ujar Gladys yang memikirkan sesuatu.
"Ada apa lagi?" Tanya Gilang heran.
"Berarti saya juga bisa tahu siapa orang yang menjatuhkan gantubgan kunci kayu puzzle yang jatuh di butik Tante Nana. Iyakan?" Ujar Gladys yang terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Maksud kamu gantungan kunci kayu pemberian Mama kamu?" Tanya Gilang memastikan.
"Iya Kak Gilang. Gantungan kunci itu saya temukan di lantai butik Hello Fashion." Jawab Gladys.
"Kalau begitu kamu bisa minta bantuan ke Mika."
"Gak mau." Ujar Gladys singkat.
"Kenapa? Dia pasti mau bantuin kamu."
"Saya pernah bilang ke dia untuk tidak ikut campur urusan pribadi saya." uUar Gladys yang sedikit menyesali perkataannya waktu itu pada Mikael.
Gilang tersenyum mendengarnya. "Gaya pacaran kalian aneh yah. Masa kamu melarang Mika pacar kamu sendiri untuk ikut campur urusan pribadi kamu. Kalian beneran pacaran atau nggak sih? aneh."
Mendengar perkataan Gilang membuat Gladys ingin mengatakan yang sebenarnya pada Gilang tapi urung di lakukannya, dia mengingat perjanjiannya bersama Mikael.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣