Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #61


__ADS_3

"Selamat sore Pak Mikael." Sapa kepala proyek yang sedang berjalan melangkah mendekati Mikael dan Gladys.


"Selamat sore Pak Budi." Balas Mikael.


"Aduh perutku, kenapa mesti kambuh sekarang sih. Nanti aja dong." Keluh Gladys dalam hati.


Wanita cantik itu berusaha menahan sakit di perutnya akibat penyakit bulanannya. Dia berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlihat seperti seseorang yang sedang kesakitan.


"Gimana dengan perkembangannya?" Tanya Mikael.


"Sejauh ini semuanya lancar-lancar aja Pak, gak ada yang perlu di khawatirkan." Jawab Pak Budi.


"Kalau begitu saya ingin melihat keseluruhan pembangunan."


"Baik Pak. Saya akan mwmbawa Pak Mikael."


Mereka terus berjalan menelusuri setiap pembangunan mall terbesar di Indonesia. Sementara Gladys terus menahan sakit perutnya hingga akhirnya dia sudah tidak dapat menahannya dan meminta izin ke Mikael ke toilet yang biasa di pakai oleh para tukang pekerja.


Untungnya toilet di proyek pembangunan tidak begitu jauh dari tempat mereka tadi. Jadi Gladys bisa lebih cepat untuk masuk ke toilet.


Di dalam toilet Gladys duduk berjongkok sambil menekan perutnya untuk mengurangi rasa sakitnya karena ketika oerutnya tertekan mengurangi sesikit rasa sakitnya.


Sebenarnya Gladys ingin sekali untuk berbaring sambil mengompres air hangat bagian perut bawahnya tapi rasanya itu tidak mungkin di tempat seperti ini.


Setelah merasa agak baikan Gladys berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat berjongkok dan menekan-menekan perutnya tadi.


🎵 you, you love it how i move


Hp di dalam tas Gladys tiba-tiba berbunyi, segera dia mengambil hpnya yang selalu di taruhnya di kantong belakang tas kantornya.


Kak Lea


Dua kata itu tertera di layar hpnya, dia langsung menggeser tombol hijau di layar hpnya.


"Halo Kak Lea." Sapa Gladys.


"Halo Gladys, kamu bisa gak ke rumah sakit sekarang?" Tanya Lea di seberang dengan suara seperti orang menangis.


Gladys yang mendengar suara Lea menjadi panik dan khawatir mengenai kondisi Leon.


"Leon baik-baik saja kan Kak?" Tanya Gladys.


"Leon udah sadar Dys, dia udah sadar dan sekarang dia lagi cari kamu, dia ingin bertemu dengan kamu." Jawab Lea.


"Beneran Kak Lea." Ujar Gladys yang tanpa sadar menitihkan air mata, dia merasa senang sekali dan legah mendengarnya seakan dunianya yang hilang telah kembali.


"Iya. Kamu cepetan kesini."


"Iya Kak saya segera kesana."

__ADS_1


Sambungan telepon terputus.


Dengan terburu-buru Gladys menghampiri Bossnya yang sedang serius berbicara dengan Pak Budi.


"Kak Mika, saya harus segera pergi sekarang." Pamit Gladys dan tanpa menunggu respon dari Mikael, dia langsung pergi dengan sedikit berlari menuju ke jalan raya.


Mikael yang melihatnya merasa heran dan bingung.


"Itu anak kenapa lagi? Main pergi aja." Gumam Mikael dengan suara kecil sambil melihat kepergian Gladys.


"Ya Pak Mikael. Maaf saya tadi tidak mendengar dengan jelas yang pak Mikael ucapkan."


"Bukan apa-apa kok. Tadi kita bicara sampai mana yah?" Tanya Mikael.


***


Tanpa menunggu taksi berhenti dengan sempurna, Gladys langsung membayar argo taksi dan keluar dengan terburu-buru.


Sedikt berlari Gladys menuju ke reseptionis untuk menanyakan alamat ruang rawat Leon.


"Ruang cempaka sebelah mana yah Sus?" Tanya Gladys.


"Ibu silahkan kesebelah kanan, nanti kelihatan kok papan tulisannya."


"Terimakasih Sus." Ujar Gladys dan langsung menuju ke arah yang di tunjukkkan oleh suster tadi.


Sebelum masuk Gladys menarik napas dalam lalu menghembuskannya lewat mulut untuk menenangkan perasaannya sedikit, dia benar-benar merasa bahagia saat ini.


"Adys, Sayang." Panggil Leon yang hendak berdiri dari tempat tidurnya. Namun di tahan oleh Lea yang duduk di kursi tepat samping tempat tidur Leon.


Sementara Gladys langsung menghampiri Leon dan memeluknya.


"Saya senang banget kamu sudah sadar Leon, saya benar-benar khawatir dan takut kamu kenapa-kenapa." Ujar Gladys yang berada di dalam dekapan Leon sambil meneteskan air mata bahagia.


"Maaf Sayang, saya sudah membuat kamu khawatir dan takut. Sekarang kamu tenang aja, seperti janji kita sebelumnya kita akan selalu bersama baik suka maupun duka." Ujar Leon yang memeluk Gladys sambil mengusap lembut rambut wanita yang di sayangnya. Mereka saling melepas rindu satu sama lain.


Lea yang melihatnya tersenyum senang melihat senyuman adiknya yang terlihat sangat bahagia, akhirnya dia bisa melihat senyuman itu lagi, senyuman yang paling manis di seluruh dunia.Pikir Lea.


"Saya pergi dulu yah." Pamit Lea yang tidak ingin menganggu dua sejoli itu, namun perkataannya tidak mendapat respon dari Leon dan Gladys.


Mereka hanyut dalam kebahagiaan dan melepas rindu mereka tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Dasar, udah ketemu dambatan hatinya aja kakaknya sendiri dilupain." Gerutu Lea lalu keluar dari ruang rawat Leon dan seketika itu juga Lea melihat mamanya yang sedang menuju ke ruang rawat adiknya.


Dengan cepat Lea menghampiri mamanya untuk mencegah Lina masuk ke dalam ruangan Leon.


"Ma temenin Lea ke cafe rumah sakit yuk." Ajak Lea sambil mencekal pergelangan tangan Mamanya.


"Ngapain Mama temenin kamu sih, biasanya juga pergi sendiri." Ujar Lina heran melihat Lea.

__ADS_1


"Lea lagi pengen aja sama Mama. Udah lama juga kita gak berdua santai di cafe." Rayu Lea, dia bergelanyut manja di tangan Mamanya.


Lina melirik heran dengan putri pertamanya yang tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan berubah menjadi manja padanya.


Dengan terpaksa Lina menyetujui permintaan anak gadisnya itu.


***


"Kamu tau, selama kamu koma. Saya sering bermimpi buruk." Ujar Gladys yang kini tengah berbaring berdua bersama dengan Leon di tempat tidur pasien, wajah dan tubuh mereka saling berhadapan.


Leon menyelipkan anak rambut yang menutupi pipi Gladys ke belakang telinga dengan lembut.


"Sekarang kamu gak usah khawatir karena penangkal mimpi buruk kamu sudah ada." Ujar Leon.


Gladys masih merasa seperti mimpi melihat wajah orang yang selalu di nanti-nantinya, wajah yang selalu membuatnya merasa tenang ketika ada masalah, wajah yang selalu melindungiku bahkan nyawanya sekalipun dia korbankan.


Gladys tersenyum dan menatap mata Leon begitupun dengan Leon, dia mengelus lembut pipi putih dan tirus milik Leon.


Saya benar-benar beruntung memiliki kamu. Kamu yang selalu menghapus duka ku dengan suka yang selalu kamu bawa padaku. I love you Honey.


Gladys memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya pada Leon, berlahan dia merapatkan bibir merahnya pada bibir Leon dan menutup matanya untuk menikmati kecupan yang di ciptakannya. Sementara Leon yang menerima kecupan mendadak dari Gladys merasa terkejut. Pasalnya selama 3 tahun mereka menjalin kasih ini kali pertama Gladys yang berinisiatif duluan.


Leon adalah orang pertama yang memberikan Gladys pengalaman dalam hal berpacaran. Sekaligus cinta pertama Gladys.


"Kamu sekarang udah mulai nakal yah." Canda Leon ketika Gladys melepas bibir merahnya dari bibir Leon.


"Untuk meyakinkan diri saja kalau wajah yang saya lihat ini adalah wajah Leonard Hartanto." Ujar Gladys lirih.


"Sayang dimana-mana kalau mau ngetes itu di cubit, kayak gini nih." Leon mencubit pipi tembem Gladys.


"Auwwhh sakit dong."Protes Gladys yang mengelus pipinya.


Leon mendekatkan tubuhnya pada tubuh Gladys, dia membawa seluruh tubuh mungil wanita itu ke dakan dekapannya hingga tubuh Gladys tenggelam dalam pelukannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2