
Teddy yang sedari tadi memperhatikan Gladys yang terlihat kesal merasa lucu melihatnya.
"Baru juga hari pertama kerja tampangnya udah kesal gitu." Ledek Teddy.
Kini Gladys telah kembali ke meja kerjanya.
"Pak Mika emang nyebelin yah orangnya?" Tanya Gladys sembari membuka roti isi cokelat yang tadi di belinya di minimarket.
"Gak kok, aslinya dia baik. Kamu kan baru mengenal dia. Nanti saat kamu sudah mengenal Boss lebih lama, kamu akan tau kalau dia aslinya baik." Ujar Teddy lalu menyendokkan sesendok soto ayam ke dalam mulutnya.
"Kamu udah berapa lama kerja disini?" Tanya Gladys
"Sekitar 6 atau 7 tahun."
"Lumayan lama juga. Bay the way terimakasih berkat buku catatan yang kamu berikan saya jadi tau selera si Boss perfect saat pesan menu makanannya tadi." Ujar Gladys.
"Sama-sama. Kamu kok cuman makan roti sih?" Tanya Teddy penasaran.
"Karena roti simple dan mengenyangkan, yang terpenting sih enak."
"Saya pikir kamu lagi diet."
Telepon di atas meja kerja Gladys berbunyi, segera dia mengangkatnya.
"Ada apa Pak?"
"Keruangan saya sekarang."
Sambungan telepon terputus.
Gladys meminum segelas air yang telah disiapkannya tadi lalu membersihkan bibirnya dari sisa roti yang menempel.
Tok tok tok
"Masuk."
Gladys membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan CEO.
"Kamu bereskan peralatan makan saya dan fotocopy dokumen ini jumlahnya sesuai dengan orang yang akan ikut rapat sore nanti." Perintah Mikael sambil memberikan Gladys berkas tersebut.
"Baik Pak." Ujar Gladys lalu membereskan peralatan makan Mikael.
"Satu lagi, kalau saya panggil kamu masuk ke ruangan saya gak usah ketuk pintu langsung aja masuk." Ujar Mikael yang masih saja tetap fokus pada kerjaannya.
"Iya Pak, saya akan mengingatnya. Saya pamit dulu Pak." Ujar Gladys lalu melangkah keluar ruangan sambil membawa peralatan makan.
Gladys menaruh dokumen itu diatas mejanya.
"Peralatan makan Pak Mika kamu taruh aja di pantry nanti biar OB yang bereskan." Ujar Teddy yang melihat Gladys masih memegang peralatan makan.
"Ok"
Gladys menuruti perkataan Teddy lalu kembali ke meja kerjanya.
"Teddy rapat sore nanti akan di hadiri berapa orang? Saya di suruh fotocopy dokumen ini." Tanya Gladys sambil menunjuk berkas yang ada diatas mejanya.
__ADS_1
"Kamu fotocopy aja 8 rangkap." Jawab Teddy.
Gladys menuju keruang peralatan dekat dengan ruang manjer umum.
Setiba di ruang peralatan, Gladys tidak tau cara menggunakan mesin fotocopy."Cara pakai mesin fotocopy gimana yah?" Tanya Gladys dalam hati sambil memperhatikan sekeliling mesin untuk mencari petunjuk.
"Gladys" Panggil seseorang yang membuat Gladys melihat ke sumber suara.
"Mira, kamu kerja disini juga?"Tanya Gladys yang terkejut melihat keberadaan Mira.
"Jadi asisten CEO yang di katakan mereka itu kamu?" Tanya Mira yang sedikit tidak percaya.
"Iya. Saya asisten CEO yang baru. Bay the way cara pakai mesin fotocopy ini gimana?"
Mira mengajarkan Gladys cara pakai mesin fotocopy.
"Ternyata gak susah." Ujar Gladys yang merasa tertolong berkat Mira.
"Memang gak susah tapi butuh ketelitian. Apalagi dokumen yang kamu fotocopy ini lumayan banyak." Ujar Mira.
"Terimakasih Ra. Sebagai tanda terimakasih kapan-kapan saya traktir kamu, gimana?" Ujar Gladys.
"Ok. Saya tunggu. Saya pergi dulu yah, masih banyak kerjaan."
Gladys mengangguk sambil tersenyum kepada Mira.
Gladys tinggal melanjutkan fotocopy-annya lalu menyusun semua dokumen-dokumen copy-annya.
"Selesai." Ujar Gladys lalu kembali ke meja kerjanya dan mendapati Teddy yang sudah tidak berada di meja kerjanya.
"Permisi Mbak Gladys yah?" Tanya office girl.
"Iya saya Gladys." Jawab Gladys ramah
"Di panggil pak Teddy, ke ruang rapat Mbak."
"Terimakasih, saya akan ke sana."
Mendengar ucapan Gladys, office girl tadi berpamitan. Gladys lalu mengambil dokumen yang telah dia fotocopy untuk di bawa ke ruang rapat.
Gladys telah sampai di depan pintu ruang rapat, dia melihat pintu yang sedikit terbuka dan memberanikan diri untuk melangkah masuk. Benar saja di dalam ruang rapat ada Teddy yang sedang mempersiapkan ruang rapat.
Desainnya ruang rapat ini terasa adem, perpaduan antara dinding putih bersih, meja kayu, dan kursi yang kontras membuat siapapun akan merasa nyaman. Di tambah lagi, aneka dekorasinya seperti jam dinding unik dan tanaman hias monstera. pikir Gladys
Ini pertama kalinya Gladys masuk ke ruang rapat di perusahaan. Saat di Korea, ketika dia mengunjungi perusahaan papanya dia hanya masuk ke ruangan papanya lalu berjalan keluar dari perusahaan.
"Gladys." Panggil Teddy.
Mendengar namanya di panggil, membuat Gladys tersadar.
"Maaf, saya jadi gak fokus. Ini semua fotocopy dokumen untuk rapat." Ujar Gladys.
"Taruh aja di meja kecil di sudut. Saya minta nomor hp kamu, biar lebih gampang untuk nyari kamu."
Teddy memberikan hpnya kepada Gladys agar Gladys bisa memberikan nomor hpnya.
__ADS_1
"Pak Aaron kok udah datang? rapatnya baru akan mulai 15 menit lagi." Ujar Teddy ketika melihat Aaron yang sedang melangkah masuk ke dalam ruang rapat.
"Benarkah? Kalau gitu saya datangnya kecepetan." Ujar Aaron lalu mengalihkan pandangannya kepada Gladys.
"Teddy ini hp kamu." Ujar Gladys sembari mengembalikan hp Teddy.
"Hai nama saya Aaron Christian, kepala devisi design." Sapa Aaron sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Gladys yang melihatnya langsung menjabat tangan Aaron.
"Hai nama saya Gladys Santoso, Asisten CEO yang baru." Ujar Gladys.
"Kalau gitu kita bakalan sering-sering bertemu. Semoga nanti kamu gak bosan sering melihat saya." Canda Aaron.
"Tentu saja tidak Pak." Ujar Gladys.
"Gladys kamu sudah bisa kembali, sisanya biar saya yang urus." Ujar Teddy.
"Kalau gitu saya pamit dulu." Ujar Gladys lalu meninggalkan mereka berdua.
"Kamu kok usir Gladys sih, saya masih mau bicara lebih lama sama dia." Ujar Aaron sedikit kesal.
"Mau berapa wanita yang pak Aaron goda di perusahaan ini?"
Mendengar pertanyaan Teddy membuat Aaron tertawa. "Sebanyak mungkin."
***
Mikael keluar dari lift diikuti oleh Teddy. Dia tampak sangat kesal.
Semua karyawan yang melihatnya tunduk memberikan hormat.
"Suasananya kok berasa dingin yah?" Bisik Kirana.
"Saya juga merasakannya. Entah siapa yang membuat pak Mika menjadi kesal." Bisik Anton.
"Ada apa dengan si Boss Perfect itu?" Ujar Gladys dalam hatinya.
Teddy mengikuti Mikael masuk ke dalam ruangannya, tidak menunggu lama Teddy telah keluar dari ruangan CEO.
"Gladys kamu kok bisa sampai membuat kesalahan." Ujar Teddy
"Kesalahan apa maksud kamu?" Tanya Gladys mulai merasa panik mendengar kalimat Teddy, walau dia tidak tau apa kesalahannya.
.
.
.
.
Bersambung...
Mohon dukungannya readers dengan cara like, komen yang membangun. Biar author juga semangat nulisnya. Oh iya jangan lupa klik favorite biar gak ketinggalan episode terbaru BROF.
Terimakasih 😉
__ADS_1