
Mikael menuju ke ruang tamu, dia melihat Nana dan papanya yang sedang asyik gobrol dengan Gladys.
"Gobrolin apaan sih? Asyik banget kelihatannya." Ujar Mikael yang telah duduk di samping Gladys.
"Bahas Cup cake buatan Gladys yang enak dan Gladys juga janji bakalan ajarin Tante cara buatnya." Jawab Nana.
"Biasalah Mika, pembahasan wanita. Papa aja daritadi kebanyakan denger doang mereka cerita." Canda Winjaya.
"Rupanya saya gak salah milih wanita yah." Puji Mikael lalu memegang tangan Gladys.
Gladys di buat terkejut dengan apa yang didengarnya dan Mikael yang tiba-tiba memegang tangannya.
"Permisi Nyonya, makanannya sudah siap." Ujar Yuyun yang baru saja datang.
"Iya Bi, terimakasih yah."
Yuyun lalu pamit kembali bekerja.
"Yah udah yuk kita makan dulu." Ajak Nana.
Mereka berempat melangkah menuju ke ruang makan.
Gladys duduk tepat di samping Mikael.
Setelah Nana mengambilkan nasi untuk Winjaya dan dirinya. Gladys mengambil rice bowl dari tangan Nana lalu mengangkatkan nasi untuk Mikael dan dirinya. Seperti yang biasa dia lakukan ketika bersama Leon.
Mikael yang menerima perlakuan seperti itu, membuatnya terkejut. Pasalnya ini kali pertamanya dia menerima perlakuan seperti itu dari seorang wanita kecuali ibu kandung dan ibu tirinya sewaktu dia kecil
"Terimakasih Dys." Ujar Mikael lalu menyunggingkan senyuman manis miliknya pada Gladys.
"Sama-sama." Balas Gladys yang kembali menarih rice bowl di tempatnya.
Winjaya yang melihatnya merasa senang.
"Kalian udah berapa lama pacaran?" Tanya Winjaya di sela makannya.
"Baru Sebulan Pa." Jawab Mikael bohong.
"Kapan kalian berencana menikah?" .anya Winjaya lagi.
Pertanyaan Winjaya membuat Gladys tersedak, Mikael langsung memberikan Gladys segelas air putih.
"Minum ini." Ujar Mikael lalu menepuk lembut punggung Gladys.
"Lihat Pa, karena pertanyaan papa sampai membuat Gladys tersedak." Canda Mikael.
Winjaya dan Nana tersenyum senang melihat perhatian anaknya kepada wanita yang disukainya.
"Mirip seperti kamu Pa, waktu pacaran dulu." Ledek Nana.
Winjaya tersenyum malu mendengar perkataan istrinya.
"Kamu udah merasa baikan?" Tanya Winjaya kepada Gladys.
"Udah Paman." Jawab Gladys.
"Sekarang kalian jawab pertanyaan Papa."
"Belum ada kepikiran sampai ke sana Pa. Baru juga sebulan." Jawab Mikael.
"Saran Papa jangan kelamaan pacarannya."
"Siap Boss." Canda Mikael.
Selesai makan malam mereka duduk di ruang tengah sambil mengobrol.
__ADS_1
Nana menghampiri mereka sambil membawa cup cake buatan Gladys yang telah dia pindahkan ke piring.
"Makanan penutup." Ujarnya sambil menaruh cup cakenya di meja.
"Papa dan Mika belum cobakan?"
Winjaya dan Mikael mengambil cup cake buatan Galdys dan mencobanya.
"Boleh juga nih anak buat cup cakenya." Ujar Mikael dalam hati sambil mengunyah cup cake.
***
🎵 Tling tling tling
Tiba-tiba hp Gladys berbunyi, dia lalu mengambil hpnya dan melihat kelayar hpnya. Ternyata ada chat WA yang masuk dari Lea.
💬 From : Lea
Besok mama gak datang ke rumah sakit. Kamu mau jenguk Leon?
💬 To : Lea
Iya kak saya mau. Besok jam 10.00 saya ke sana.
Mikael memperhatikan Gladys yang fokus pada hpnya.
"Dari siapa Sayang?" Tanya Mikael.
Gladys terkejut dengan pertanyaan Mikael, segera dia memencet tombol kunci pada hpnya.
"Dari teman Kak Mika." Jawab Gladys gugup.
Mikael lalu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8.55
"Iya Nak. Gak baik juga anak perempuan pulang terlalu larut malam" Ujar Winjaya.
"Padahal Tante masih ingin ngobrol dengan kamu." Ujar Nana pada Gladys. Dia belum rela jika harus berpisah dengan Gladys begitu cepat.
Winjaya dan Nana mengantar Gladys dan Mikael sampai ke pintu utama.
"Sering-sering datang ke sini yah Dys." Ujar Nana.
"Iya Tante, saya usahakan. Kami pamit dulu Tante, Paman." Pamit Gladys.
"Pa, Tante kami pergi dulu."
"Hati-hati di jalan yah." Ujar Winjaya.
Gladys dan Mikael masuk ke dalam mobil. Kini mobil Mikael telah melaju ke jalan raya.
"Pak Mika saya boleh bertanya gak?" Tanya Gladys.
"Mau tanya apa?"
"Tante Nana...."
"Dia ibu tiri saya." Potong Mikael. "Selain buat cup cake kamu bisa masak apa lagi?" Tanya Mikael.
"Masak apa aja." jawab Gladys.
"Kamu bisa masak Mie goreng?"
"Bisa."
Setelah jawaban Gladys, Mikael hanya diam saja.
__ADS_1
"Kenapa Pak? Cup cake saya enak kan?"
"Biasa aja" Jawab Mikael singkat.
"Hati-hati Pak, hidungnya nanti jadi panjang karena boong." Ledek Gladys.
"Kamu ini cerewet yah." Ujar Mikael ketus.
"Biarin cerewet daripada tukang boong." Balas Gladys ketus.
Setelah 1 jam perjalanan mobil Mikael telah terparkir di depan loby apertemen Gladys.
"Kamu gak mau tu..." Mikael menghentikan perkataannya setelah melihat Gladys yang tertidur di sampingnya.
"Pantesan dari tadi gak ada suaranya" Gumam Mikael.
Dengan cahaya dari lampu teras lobby yang masuk ke dalam mobil Mikael, dia dapat melihat wajah Gladys yang tertidur di sampingnya.
Tanpa sadar Mikael mengelus lembut pipi Gladys dan beralih pada bibir Gladys. Mikael membuat segaris senyum di bibirnya.
"Kalau lagi tidur gini kelihatan manis banget, imut, cantik." Gumam Mikael.
Gladys yang merasa terusik membuatnya mengeliat. Buru-buru Mikael memperbaiki duduknya menjadi tegak.
"Kita udah sampai yah Pak?" tanya Gladys dengan suara khas orang bangun tidur.
"Iya. cepeten turun." Ujar Mikael ketus.
"Sabar dong. Terimakasih yah pak udah di anterin pulang." Ujar Gladys lalu keluar dari mobil Mikael.
Begtu Gladys turun, Mikael langsung melajukan mobilnya ke jalan raya. Sementara Gladys berjalan menuju ke apertemennya.
***
Keesokannya
Hari ini hari libur Gladys tapi dia harus bangun pagi untuk bertemu dengan Leon.
Setelah selesai sarapan Gladys memindahkan piring dan gelas yang telah di pakainya ke wastafel, dia berencana saat pulang nanti baru mencuci peralatan makannya.
Gladys mengambil hp dan tasnya lalu melangkah menuju ke pintu keluar.
Tiba-tiba layar hp Gladys menyala, dia lalu melihat ke layar hpnya ternyata ada notifikasi dari bank. Gladys memencet layar hpnya untuk melihat notifikasi yang masuk.
"Cepet juga si sok perfect kirim uangnya." Gumamnya senang.
Gladys keluar dari apertemennya menuju ke loby untuk menunggu ojol yang telah dipesannya.
Kini Gladys telah berada di ojol menuju ke rumah sakit.
Jalan tidak begitu pada sehingga hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumah sakit.
Setibanya, Gladys langsung menuju ke ruang ICU untuk bertemu Leon.
Seperti sebelumnya, sebelum masuk ke ruang ICU, Gladys harus memakai gaun luar berwarna hijau, masker dan tidak lupa mencuci tangannya.
"Kak Lea kemana?" Tanya Gladys dalam hati ketika dia telah berada di dalam ruang ICU dan hanya melihat Leon seorang diri yang masih terbaring tidak sadarkan diri dengan segala peralatan medis yang tertempel di tubuhnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1