
"Apa ada kemungkinan kalau pak Yoyo bisa kembali bekerja lagi?"
"Gak ada. Orang yang teledor kek gitu gak pantas kerja di perusahaan ini."
"Tapi gimana kalau terbukti Pak Yoyo gak bersalah, dia hanya di jadikan kambing hitam oleh seseorang?"
"Mau bukti apa lagi. Udah jelas malam itu dia yang bertugas."
"Saya akan mencari bukti kalau Pak Yoyo gak bersalah."
"Gini aja kalau kamu memang ingin membuktikannya. Kalau kamu berhasil membuktikan si Yoyo itu tidak bersalah maka dia bisa kembali bekerja tapi jika dalam waktu 3 hari kamu gak bisa buktiin maka perusahaan akan menuntut dia karena telah melanggar kontrak kerja." Tantang Mikael.
"Kontrak kerja...."
Belum selesai Gladys berbicara Mikael sudah lebih dulu memotong perkataannya. "Sekarang lebih baik kamu kembali bekerja." Tegas Mikael pada wanita di hadapannya.
Gladys hanya terdiam mendengarnya. Dia tidak mengerti dengan kontrak kerja yang di maksud Mikael. Gladys melangkah keluar ruangan CEO.
Gladys duduk di kursi kerjanya, dia melihat Teddy yang entah sejak kapan laki-laki itu sudah duduk di kursi kerjanya dan fokus pada laptopnya.
"Teddy saya ingin tanya tentang kejadian lift mati sekitar 2 hari lalu."
"Mau tanya apa?" Tanya Teddy tanpa mengalihkan padangannnya pada Gladys.
"Gimana cara kamu buktiin kalau Pak Yoyo bersalah, dia teledor dalam pekerjaannya?" Tanya Gladys.
"Dari shift kerjanya lah." Jawab Teddy enteng.
"Tapi gimana kalau malam itu dia meminta tolong kepada temannya untuk menggantikannya?" Tanya Gladys lagi.
"Saya sudah mengeceknya tapi dari semua satpam yang bekerja di perusahaan ini gak ada yang menggantikannya malam itu." Jawab Teddy yang kini pandangannya teralih pada Gladys.
"Lagian kamu kenapa tiba-tiba tanya soal Pak Yoyo?" Tanya Teddy heran.
"Saya kasihan aja sama Pak Yoyo. Oh iya tadi saya sempat bertanya sama Kak Mika katanya Pak Yoyo bisa di tuntut perusahaan."
"Iya memang benar. Perusahaan bisa menuntut Pak Yoyo karena melanggar kontrak kerja tapi tidak di lakukan oleh Pak Mika."
"Memangnya isi kontrak kerjanya apaan?"
"Saya gak begitu tau sih secara rinci tapi setahu saya isi kontrak kerjanya itu salah satunya satpam yang bertugas bekerja tidak boleh membiarkan lampu padam diatas 3 menit."
"Ada yah isi kontrak kek gitu?" Tanya Gladys heran.
"Seperti yang kamu tau kalau Boss kita itu takut kegelapan tapi kamu gak boleh beritahu ke orang lain."
"Kamu tau kenapa kak Mika takut pada kegelapan?" Tanya Gladys yang sudah seperti wartawan yang sedang melakukan wawancara pada narasumbernya.
"Katanya Pak Mika pernah di culik waktu kecil dan di kurung dalam ruang gelap sampai membuat dia trauma" Jawab Teddy.
"Kamu...."
"Stop" Potong Teddy. "Saya mau lanjut kerja. Sebentar lagi rapat dewan direksi dan saya harus menyelesaikan dokumen-dokumen ini." Lanjutnya.
Gladys menghembuskan napasnya panjang, pasalnya masih banyak pertanyaan yang ingin di tanyakamnya pada Teddy tapi dia juga harus mengerti kalau sekarang ini jam kerja. pikir Gladys.
__ADS_1
Gladys lalu membuka map folder di atas meja kerjanya dan mulai mengerjakan kerjaannya. Tapi itu hanya bertahan 1 jam, dia terus memikirkan cara untuk membuktikan kalau Yoyo tidak bersalah.
Gladys keluar dari ruangannya dan menuju ke toilet. Bukan untuk buang air, tapi dia sedang memikirkan cara untuk membuktikan kalau pak Yoyo tidak bersalah dan dia teringat dengan Gilang.
Untungnya saat ini toilet sedang tidak ada orang. Gladys mengeluarkan hp dari saku roknya dan menekan layar hpnya lalu menempelkan benda kecil itu pada telinganya.
"Halo Kak Gilang lagi sibuk?" Tanya Gladys.
"Gak begitu sibuk. Tumben kamu nelpon." Tanya Gilang.
"Bagus lah kalau gitu. Kak Gilang dengarkan tentang Pak Yoyo yang dipecat?"
"Iya, saya dengar. Memangnya kenapa?"
"Saya ingin kak Gilang bantu saya membuktikan kalau Pak Yoyo gak bersalah."
"Caranya?"
"Itu dia yang saya gak tau. Makanya saya nelpon kak Gilang."
"Siapa yang mendampingi Mika saat rapat direksi nanti?"
"Teddy."
"Kalau gitu saat rapat direksi nanti kita bertemu di ruang Cctv perusahaan."
"Ok"
Sambungan telepon terputus.
***
Jam 09.00
Mikael keluar dari ruangannya.
"Kalian ikut dengan saya sekarang." Perintah Mikael pada Gladys dan Teddy.
Tanpa menunggu lagi Teddy dan Gladys mengikuti Mikael menuju ke lift.
"Kita mau kemana?" Bisik Gladys pada Teddy yang berada di sampingnya sementara Mikael berdiri tepat membelakangi mereka di dalam lift.
Belum sempat Teddy menjawab Mikael sudah lebih dulu berbicara.
"Kamu maju satu langkah." Perintah Mikael.
Teddy lalu menuruti perintah Mikael.
"Bukan kamu." Ujar Mikael datar.
Teddy kembali mundur ke posisinya semula dan Gladys melangkah satu langkah, kini posisinya tepat di samping Mikael.
"Tetap berada di samping saya." Perintah Mikael lagi.
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Mereka bertiga menuju ke pintu keluar perusahaan.
Gladys melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya keluar dari mobil alphard berwarna hitam tepat di depan pintu masuk kantor.
"Selamat pagi Paman." Sapa Gladys.
"Selamat pagi Gladys." Balas Winjaya.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka hanya tertekun mendengar Gladys memanggil Winjaya dengan sebutan paman.
"Papa kok datangnya lebih awal dari jadwal rapat?" Tanya Mikael heran.
"Papa hanya ingin lihat-lihat kantor, sudah lama papa gak ke sini. Sekalian melihat kalian berdua." Jawab Winjaya sambil berjalan melihat sekeliling, di dampingi oleh Mikael. Sementara Gladys dan Teddy yang berada di belakang.
Setiap karyawan yang melihat Winjaya dan Mikael akan menundukkan kepala mereka serta memberi salam.
"Kita ke ruangan saya saja Pah." Ujar Mikael yang di setujui oleh Winjaya.
Teddy segera menekan tombol di samping pintu lift.
"Semuanya lancar-lancar saja kan?" Tanya Winjaya pada anaknya.
"Iya Pah. Semuanya lancar-lancar saja." Jawab Mikael.
"Hubungan kalian?" Tanya Winjaya sambil melihat ke arah Gladys.
"Hubungan kita baik-baik saja." Jawab Mikael lalu mengenggam tangan Gladys.
"Iya paman. Kami baik-baik saja." Ujar Gladys.
"Kapan ke jenjang lebih serius?" Tanya Winjaya.
Kini mereka telah berada di dalam lift.
"Pah kami masih belum memikirkannya. Papa tenang saja kami pasti akan segera kabarin papa begitu kami siap." Jawab Mikael.
Sementara Teddy yang mendengarnya terkekeh geli tanpa bersuara.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣