
"Ini sih jelas-jelas makanan yang di benci oleh Boss." Ujar Aaron lalu melihat ke arah Gladys dengan wajah heran.
"Siapa bilang saya gak suka? Saya suka kok." Ujar Mikael bohong lalu mengambil rantang dari tangan Aaron dan menyendokkan sesuap penuh ke mulutnya.
Ini kesempatan Mikael agar Gladys tidak memberikan masakannya pada laki-laki itu dan agar Gladys terus menemaninya hari ini. Begitu pikir Mikael. Entah itu akan berpengaruh atau tidak.
"Kenapa dimakan sih? Jelas-jelas itu bukan untuk kamu, dasar perut karet. Semuanya ingin makan." Maki Gladys dalam hati
"Sejak kapan Boss suka makan sayur?" Tanya Teddy.
"Kamu gak usah banyak tanya, sekarang kamu urus pemindahan ruang rawat saya." Perintah Mikael dengan mulut penuh bubur yang rasanya ingin di myntahkan Mikael.
"Baik Pak kalau begitu saya permisi dulu, mau mengurus administrasi rumah sakit sekalian memindahkan Pak Mika ke Vvip." Pamit Teddy lalu keluar dari ruang rawat.
"Teddy sudah keluar sekarang. Saya mewakili dia bertanya, sejak kapan seorang Mikael suka sayur?" Tanya Aaron.
"Sejak sekarang. Puas?" Ujar Mikael asal setelah dengan susah payah menelan bubur di dalam mulutnya.
"Gak usah di tanya lagi Aaron, kalau Mikael makan sayur kan bagus itu berarti dia udah dewasa." Canda Gilang.
"Sialan kamu." Umpat Mikael pada sahabatnya yang membuat Aaron tertawa.
Sementara Gladys memikirkan cara untuk keluar dari ruang rawat Mikael, dia ingin segera ke ruang rawat Leon.
"Kamu kenapa Gladys? Gelisah gitu." Tanya Gilang yang memperhatikan Gladys.
"Gak papa kok. Kalian masih lama kan disini?" Tanya Gladys pada Aaron dan Gilang.
"Lumayan, kenapa?" Tanya Aaron heran.
"Saya mau keluar dulu." Jawab Gladys.
"Gak, mereka udah mau pulang jadi kamu gak bisa pergi." Mikael hanya ingin Gladys terus berada di sampingnya.
"Siapa bilang kita akan pergi?" Tanya Aaron lagi.
"Pergi gak sekarang." Ujar Mikael geram pada dua sahabatnya itu.
Gilang yang mengerti maksud dari sahabatnya itu, mengajak Aaron keluar dari ruang rawat. Gilang menarik tangan Aaron.
"Saya kan masih mau di dalam, kenapa keluar sih?" Gerutu Aaron kesal saat mereka telah berada du luar ruang rawat Mikael
"Kamu gak lihat tadi, Mikael itu udah nyuruh kita keluar. Sepertinya dia mau berduaan aja dengan Gladys." Tebak Gilang.
"Memangnya kamu yakin kalau mereka berdua itu beneran pacaran?" Tanya Aaron.
"Nggak begitu yakin sih, tapi kita juga gak punya bukti kalau mereka gak pacaran"
"Gimana kalau kita intip mereka?" Usul Aaron.
Tanpa berkata-kata Gilang langsung menarik kerah kemeja belakang Aaron. Badan Gilang yang lebih tinggi dari Aaron mempermudahkannya menarik sahabatnya itu.
Sementara di dalam ruang rawat Mikael.
"Sekarang mereka udah pergi dan kamu gak bisa kemana-mana sekarang." Ujar Mikael yang merasa menang.
Gladys melirik kesal pada laki-laki di hadapannya ini.
"Kenapa tuh di anggurin?" Tanya Gladys yang melihat Mikael hanya menaruh buburnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Saya udah gak mau makan." Jawab Mikael.
"Habisin" Gladys benar-brnar kesal dengan Bossnya ini. Dia mengambil sesendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Mikael.
Bukannya memakannya Mikael malah melengos.
"Kalau Kak Mika gak suka makan sayur, kenapa tadi sok sok an di depan Kak Aaron dan Kak Gilang?" Tanya Gladys.
"Saya gak sok, saya memang suka sayur." Celetuk Mikael.
"Kalau begitu buktikan." Tantang Gladys.
Mikael yang merasa tertantang langsung memakan sesendok bubur yang di suap Gladys.
"Lihatkan saya makan bubur sayur kamu ini." Ujar Mikael yang menekan setiap katanya.
"Kalau begitu sekarang habiskan"
"MATI !!" batin Mikael.
Gladys terus menyuapi Mikael hingga tak tersisa sedikitpun bubur.
"Sudah habis. Anak pintar." Ledek Gladys.
Mikael melihat sinis ke arah Gladys, dia merasa kesal mendengar ledekan Gladys.
Gladys yang tidak menghiraukan tatapan sinis Mikael padanya, membereskan rantang kotor lalu memgambil hpnya.
Mikael yang penasaran dengan apa yang di lakukan Gladys pada hpnya, terus melirik ke layar hp Gladys. Posisi wanita cantik itu yang menghadap ke arah Tv begitupyn dengan posisi Mikael mempermudahkan laki-laki itu.
💬 To : Kak Lea
"Jadi nama cowok itu Leon, terus Lea itu siapa?" batin Mikael
"Kak Mika gak sopan baca chat orang sembunyi-sembunyi." Gerutu Gladys saat menyadari Mikael yang terus melihat ke layar hpnya, wanita itu melihat cerminan bayangan Gladys pada layar Tv yang tidak menyala.
"Gak papa kali, kan pacar sendiri." Kelit Mikael.
"Kak Mika kita itu hanya...." Gladys menghentikan kalimatnya dia sudah berjanji pada Mikael untuk tidak menyebut hubungan mereka lagi pacar di atas kertas.
"Terserah Kak Mika deh." ulUjar Gladys pasrah.
Tiba-tiba saja pintu ruang rawat kembali terbuka.
Mikael dan Gladys di buat terkejut ketika melihat orang yang membuka pintu tadi.
"My son, are you ok?" tanya Nana.
"Saya baik-baik saja kok Tante."
"Tante Nana, Paman Winjaya" sapa Gladys lalu mengambil dua kursi untuk Winjaya dan Nana.
"Terimakasih yah Nak Gladys, sudah mau menjaga anak Paman." Ujar Winjaya.
"Sama-sama Paman." Ujar Gladys.
Teddy yang datang bersama dengan orang tua Mikael berdiri tepat di samping Gladys.
"Kamu kok gak bilang-bilang kalau mereka mau datang?" Bisik Gladys pada Teddy.
__ADS_1
"Saya gak tau kalau mereka akan datang sekarang, saya bertemu mereka di lobby." Jawab Teddy.
"Tante dan Papa bawain buah-buahan. Kamu harus makan yang banyak buah-buahan karena kamu gak gak makan sayur." Ujar Nana.
"Maaf Nyonya Nana tapi sekarang Boss udah suka makan sayur kok." Ujar Teddy.
"Iya Tante, tadi aja Mikael sudah mengahbiskan satu rantang penuh bubur sayur." Imbuh Gladys.
Mikael langsung melihat ke arah Teddy dan Gladys, dia benar-benar tidak menyukai perkataan kedua orang itu.
"Bagus dong, sekarang kamu udah mau makan sayur." Ujar Nana bangga pada anak sambungnya.
"Oh iya Papa menyuruh anaknya dokter Hans untuk menangani kamu selama kamu di rawat." Ujar Winjaya.
"Gak perlu Pah kata dokter yang menangani saya, gak ada luka yang serius kok."
"Baguslah kalau gak ada luka yang serius. Terus kapan kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit?" Tanya Winjaya.
"Kalau soal itu saya masih belum tau Pah." Jawab Mikael.
Teddy yang mendengar jawaban Mikael merasa heran, pasalnya saat dia bertemu dengan dokter yang memangani Bossnya dokter tersebut berkata besok Mikael sudah bisa pulang dan kata dokter itu juga kalau dia sudah memberitahukan pada Mikael.
"Tapi kenapa Pak Mika.... sudahlah lebih baik saya diam daripada nanti salah ngomong." Batin teddy
"Kalau begitu biar Tante aja yang tanya, kapan kamu bisa keluar." Ujar Nana.
"Gak usah Tante, biar Gladys aja nanti yang bicara sama dokternya. Tante Nana gak usah repot-repot." Ujar Mikael.
"Saya? Kenapa saya sih? Jelas-jelas tante Nana nawarin diri." Batin Gladys.
"Oh iya kamu kan sekarang udah ada yang urus yah." Ada perasaan legah yang di rasakan Nana.
"Yah sudah kalau begitu. Tante Nana dan Papah pergi dulu, kamu harus banyak istirahat." Ujar Winjaya lalu berdiri menuju ke pintu keluar ruang rawat begitupun dengan Nana.
Sementara Gladys dan Teddy mengantar Boss mereka sampai depan pintu ruang rawat.
"Gladys, Tante Nana titip Mikael yah." Ujar Nana.
"Iya, Tante gak usah khawatir. Hati-hati di jalan Tante, Paman." Ujar Gladys sopan.
"Hati-hati di jalan Tuan Winjaya dan Nyonya Nana." Ujar Teddy.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣