
"Kak Mika gapain?" Tanya Gladys yang tak kalah terkejutnya dengan Mikael.
"Kamu yang gapaian?" Bentak Mikael tanpa sadar.
Sementara Teddy dan Bi Jum yang mendengar suara dari dalam kamar memutuskan untuk masuk.
"Saya sedang di balkon sambil dengar musik terus tiba-tiba Kak Mika datang gendong saya dari belakang." Jawab Gladys.
"Jadi kamu enak-enak dengar musik pakai headset dan saya yang mulai frustasi mencari kamu, saya sampai takut kalau kamu berbuat yang tidak-tidak." Jelas Mikael kesal.
"Kenapa Kak Mika malah marah sama saya? Saya hanya ingin menghirup udara segar sambil dengar musik untuk menenangkan hati dan pikiran saya. Itu aja, apa salah?" Jelas Gladys dengan suara serak. Emosinya yang naik turun membuatnya menjadi mudah untuk menangis.
Ucapan Gladys membuat Mikael tersadar, tidak seharusnya dia membentak Gladys.
Mikael langsung memeluk Gladys dan mencoba menenangkannya.
"Saya minta maaf, tidak seharusnya saya marah sama kamu. Saya hanya takut kamu kenapa-kenapa." Lirih Mikael sambil mengelus lembut rambut panjang Gladys.
"So sweet banget sih." Ujar Teddy yang melihat adengan di depan matanya.
Mikael dan Gladys yang mendengarnya membuat mereka langsung melepas pelukan mereka. Sebenarnya bukan pelukan mereka lebih tepatnya Mikael-lah yang memeluk Gladys tanpa balasan dari Gladys.
"Mas Teddy kok di tegur." Bisik Bi Jum geram.
Teddy langsung terdiam mendengar ucapan Bi Jum.
"Yah sudah sekarang kamu istirahat, ingat kalau pakai headset suaranya jangan terlalu keras."
Gladys hanya mengangguk mendengarnya tanda setuju.
"Bi Jum sarapannya Gladys di antar aja ke kamar." Perintah Mikael.
"Gak usah Bi, ngerpotin aja. Biar saya sarapan di meja makan aja." Ujar Gladys.
***
Ruang Makan
Bi Jum menaruh piring kosong di meja depan Gladys.
"Terimakasih Bi Jum." Ujar Gladys.
"Sama-sama Non"
Setelah memberikan piring kosong kepada Gladys Bi Jum kembali ke dapur.
Tanpa berkata apa-apa Gladys langsung mengambil piring kosong milik Mikael dan mengisinya dengan nasi goreng yang telah di buat oleh Bi Jum pagi tadi.
Sementara Teddy yang melihatnya tanpa sadar memasang segaris senyum melihat adengan di depan matanya, dia seperti sedang melihat seorang istri yang sedang melayani suaminya.
"Oh iya Gladys, gimana perut kamu? Udah baikan?" Tanya Teddy di sela makannya.
"Udah mendingan." Jawab Gladys.
__ADS_1
"Kemarin saat Dokter Nano mengajak Kak Mika bicara di luar kamar, Dokter Nano bilang apa?" Tanya Gladys pada Mikael.
"Katanya kamu mengalami radang usus" Jawab Mikael setelah menelan nasi goreng di mulutnya.
"Tapi setau saya, saya gak pernah punya riwayat sakit radang usus." Ujar Gladys heran.
"Itu karena kamu terlalu banyak pikiran hingga berdampak ke perut kamu. Jadi mulai sekarang kamu gak usah memikirkan hal-hal gak penting lagi. Mengerti?"
Gladys hanya terdiam mendengar ucapan Mikael.
Gladys memang tidak bisa memungkiri kalau dia terus memikirkan Leon yang memutuskan hubungan mereka tiba-tiba.
"Memangnya kamu mikirin apa sih? Pacar udah punya, kerjaan lancar-lancar aja. Apa lagi yang kamu pikir?" Tanya Teddy.
"Mungkin saya terlalu memikirkan teman saya yang di rawat di rumah sakit." Jawab Gladys bohong lalu melihat ke arah Mikael.
Mikael langsung memegang punggung telapak tangan Gladys. "Kamu tenang aja, semuanya akan baik-baik saja. Ada saya di sini." Ujar Mikael.
"Apa yang kamu katakan itu beneran? Atau hanya akting karena ada Teddy? Tapi apapun itu yang kamu lakukan membuat saya merasa lebih tenang. Terimakasih Kak Mika." Batin Gladys.
"Saya kok kek gak ngerti arah pembicaraan mereka yah? Apa saya yang terlalu beloon? Atau merrka memang sedang menyembunyikan sesuatu?" Ujar Teddy dalam hati.
"Hari ini saya berencana akan membereskan barang-barang saya di apertemen Sunrise lalu ke rumah kontrakan Mira." Ujar Gladys.
"Untuk apa ke rumah Mira?" Tanya Mikael setelah dia menyilangkan sendok dan garpunya tanda ia telah selesai dengan sarapannya lalu melap bibirnya dengan tisu.
"Saya akan menginap di rumah kontrakan Mira kebetulan teman serumahnya sedang dinas keluar kota jadi saya bisa nginap di sana untuk beberapa malam." Jawab Gladys.
"Kenapa Kak Mika gak setuju?"
"Ngapain kamu nginap di rumah kontrakan Mira sementara kamu bisa nginap di apertemen saya. Lagian di sini gak hanya kita berdua ada Bi Jum juga." Jawab Mikael.
"Tapi saya merasa tidak enak aja, merepotkan Kak Mika terus. Belum lagi saya tidurnya di kamar Kak Mika sementara Kak Mika tidur di kamar tamu."
"Kalau begitu kita sama-sama aja di kamar saya." Ujar Mikael dingin
"Yah enggak gitu juga."
"Pokoknya saya tidak setuju. Kamu itu belum sembuh betul. Gak usah macem-macem deh." Ujar Mikael yang geram mendengar keputusan Gladys.
"Tapi Dys gimana nanti kalau teman rumahnya Mira telah kembali dari dinas luar kota, kamu mau dimana?" Tanya Teddy.
"Selama beberapa hari itu saya akan mencari tempat tinggal." Jawab Gladys. "Yang murah tentunya." Lanjutnya.
"Kamu harus ingat tidak semudah seperti yang kamu pikirkan mencari tempat tinggal murah di Ibu Kota." Ujar Teddy yang mengingatkan teman kerjanya itu.
"Yah kamu doain semoga saya bisa cepat dapetnya atau kamu bantu saya cari tempat tinggal murah, gimana?"
"Pokoknya saya gak setuju kamu tinggal di rumah kontrakan Mira." Ujar Mikael yang meninggikan nada suaranya lalu meninggalkan mereka berdua di meja makan. Dia masuk ke dalam kamar tamu dan menutup pintu kamarnya dengan keras hingga membuat kaget siapapun yang mendengarnya.
"Saran saya lebih baik kamu gak usah membantah Pak Mika, lagian yang di katakan Pak Mika ada benarnya juga kamu belum sembuh betul"
"Kamu tenang aja saya gak papa kok. Saya mau mandi dulu, mau siap-siap ke apertemen Sunirse." Ujar Gladys yang sekarang telah berdiri dari kursi.
__ADS_1
"Yah sudah kalau begitu. Saya mau ke kantor juga."
Gladys mengantar Teddy sampai depan pintu.
"Hati-hati di jalan" Ujar Gladys.
"Iya Bye"
***
Selesai mandi, Gladys kembali memakai pakaiannya saat dia berada di cafe rumah sakit kemarin. Selama di rumah Mikael Gladys memakai baju kaos dan celana pendek yang kebesaran, tentunya itu adalah milik Mikael. Pikir Gladys.
Gladya tidak memakai riasan apapun di wajahnya, tapi dia tetap saja terlihat cantik tanpa riasan, terlihat sangat natural.
"Bi Jum saya pamit yah, terimakaaih telah merawat saya." Pamit Gladys.
"Non Gladys yakin akan pergi?" Tanya Bi Jum setelah mendengar percakapan mereka di meja makan tadi.
"Iya Bi Jum" Jawab Gladys.
Terdengar suara seseorang yang sedang membuka pintu.
"Saya akan mengantar kamu." Ujar Mikael dingin.
"Yah sudah Bi saya pergi dulu"
***
Sepanjang perjalanan menuju ke apertemen Gladys, Mikael hanya diam saja. Sangat jelas terlihat dari wajah Mikael kalau saat ini dia benar-benar merasa kesal. Gladys sadar betul dengan suasana saat ini di dalam mobil yang terasa dingin.
Setelah hampir 40 menit lamanya mobil Mikael mengarungi jalanan di Ibu Kota yang terlihat sedikit macet, akhirnya mobil Mikael telah terparkir di apertemen Sunrise.
Kali ini mobil Mikael tidak berhenti di lobby apertemen Sunrise seperti biasanya melainkan di basement apertemen Sunrise.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1