Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #57


__ADS_3

Keesokannya


Gladys benar-benar merasa nyaman dengan posisi tidurnya, dia seakan tidak ingin terbangun. Walau cahaya matahari pagi kini tengah menyinari sebagian wajah putihnya.


Berasa di awan. Pikir Gladys.


Tangannya mulai meraba dan merasakan sesuatu yang.... kekar?


Gladys langsung membuka matanya dan mendapati dada bidang seseorang yang pastinya dada kekar ini milik seorang laki-laki. Tapi siapa?


Dia mendongakkan kepalanya sedikit ke atas untuk melihat wajah laki-laki itu.


"Kak Mika." Ujar Gladys dalam hati terkejut.


Tangan Mikael kini merangkul pundak Gladys.


"Yah Tuhan kok saya bisa ketiduran disini sih. Sekarang saya harus bangaimana?" Gerutu Gladys dalam hati.


Mereka dalam satu selimut yang sama.


Pelan-pelan Gladys mengangkat tangan Mikael dari pundaknya agar tidak membangunkan Mikael.


Mikael yang merasa terusik dengan tidurnya membuatnya menggeliat. Dia membuka matanya sedikit dan mendapati Gladys yang sedang memegang tangannya atau yang lebih tepatnya memindahkan tangannya ke kursi.


"Kamu mau kemana?" tanya Mikael dengan suara khas orang yang baru bangun dan cepat memegang tangan Gladys agar wanita itu tetap berada di sampingnya.


"Saya.... saya mau ke kamar Yulin. Takutnya nanti Yulin bangun dan gak gelihat siapapun di sampingnya." jawab Gladys asal. Dia hanya tidak ingin ada yang melihatnya bersama Mikael.


Bisa di sangka mereka berbuat macam-macam lagi.


"Tunggu 10 menit lagi. Saya masih ingin tidur." Ujar Mikael tanpa melepas genggaman tangannya pada Gladys.


Ini kali pertama Mikael dapat tidur dengan nyenyak tanpa bantuan dari obat tidur yang selalu di konsumsinya. Dia sudah bergantung dengan obat tidurnya.


"Tapi Kak Mika bagaimana jika nanti ada orang yang melihat kita, takutnya mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita." Bisik Gladys.


"Kalau asisten rumah tangga saya akan pecat mereka kalau berpikiran seperti itu tapi kalau orang tua saya kita tinggal nikah aja." Ujar Mikael enteng dengan suara paraunya dan mata yang tertutup.


"Tapi Kak Mika...."


"Sayang kamu berisik banget. saya tambah 30 menit kalau kamu berisik lagi." Ancam Mikael yang membuat Gladys otomatis terdiam.


Selama 10 menit itu Gladys merasa gelisah, dia terus melihat di sekeliling mereka, berjaga-jaga jika ada orang lain yang melihat mereka.


***


"Kak Mika ini udah lebih dari 10 menit." Ujar Gladys yang langsung melepas genggaman tangan Mikael dan keluar dari selimut. Gladys sedikit berlari menuju ke kamar Yulin.


Mikael tersenyum puas melihat wanita itu pergi dengan wajah paniknya.


Sementara Gladys yang telah berada di dalam kamar Yulin langsung menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang telah tertutup rapat.


"Jantungku." Lirih Gladys sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya. Dia merasakan detak jantungnya yang terus berdebar cepat.


Gladys menarik napas panjang lalu menghembuskannya melalui mulutnya. Dia melakukannya berulang untuk menenangkan sedikit dirinya.


"Tante Gladys." panggil Yulin yang kini tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil mengunyek matanya.

__ADS_1


"Yulin, kamu sudah bangun?" Tanya Gladys sambil berjalan menghampiri Yulin.


"Iya Tante." jawab Gadis kecil itu.


Untungnya Gladys telah kembali ke kamar Yulin, karena jika tidak bisa-bisa Yulin menangis ketika dia tidak melihat seseorang berada di sekitarnya dan jika itu sampai terjadi Nana dan Winjaya akan tahu kalau Gladys dan Mikael semalaman tidur di teras belakang. Begitu pikir Gladys.


***


"Selamat pagi Nak Mika." Sapa Nana ketika melihat anak sambungnya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Pagi Tante. Papa mana Tan?" tanya Mikael.


"Biasa Papa kamu kalau pagi-pagi gini di taman belakang olahraga ringan. Kita sarapan yuk. Tante juga udah mau panggil Papa kamu untuk sarapan."


"Iya tan. Kalau gitu saya panggil Yulin dan Gladys dulu."


Tanpa mengetuk pintu Mikael langsung membuka pintu kamar Yulin tapi tidak siapapun di dalam kamar itu.


Mikael mendengar suara percakapan dari arah kamar mandi. Dan tentu saja itu suara percakapan Yulin dan Gladys.


"Kulit tante putih banget, halus lagi sama seperti mama kalau kami mandi bareng." Ujar Yulin dengan suara cadelnya yang membuat Mikael langsung menelan salivanya.


Ketika Mikael memegang tangan Gladys, tangan wanita itu memang sangat halus dan putih.


"Memang kamu sering mandi bareng mama kamu?" tanya Gladys.


Mikael tidak mendengar jawaban dari keponakannya itu.


Mungkin Yulin menjawabnya dengan anggukan kepala. Pikir Mikael.


"Apa Tante sering pergi berolagraga? Perut Tante sangat kecil beda sama mama."


Dia sudah tidak tahan mendengar percakapan mereka di dalam kamar mandi.


Ingin rasanya Mikael memeluk wanita itu.


***


Mereka berlima tengah menikmati sarapan yang telah di sajikan oleh Bi Yuyun, roti tawar dan susu.


"Yulin kamu mau selai rasa apa? Strawberry?" Tanya Gladys.


"Iya Tante." Jawab Yulin.


Gladys langsung mengoleskan selai strawberry pada selembar roti lalu diberikannya pada Yulin.


"Lihatkan Pa, Tante belum juga punya anak tapi saya udah di cuekin. Yulin aja terus urus." Protea Mikael, dia berpura-pura cemburu pada keponakannya itu.


"Itu berarti calon mantu papa itu udah cocok jadi seorang ibu." Sindir Winjaya lalu tersenyum melihat keakraban Yulin dan Gladys.


"Betul Pa, apalagi Yulin tipikal anak yang susah di deketin tapi tidak dengan Gladys." Timpal Nana.


"Sama aja. Bukannya dapat dukungan." Protes Mikael yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.


"Kak Mika mau selai apa? Biar saya oleskan." Tawar Gladys.


"Cokelat" Jawab Mikael.

__ADS_1


***


Dapur


Gladys mulai membuat cupcake bersama dengan Nana.


Step by step Gladys mulai mengajarkan pada Nana pembuatan cup cake secara detail.


"Tante ngaduknya putar satu arah aja, dan gak perlu terlalu lama sampai gembang aja. Habis itu kita lanjut campur bahan lainnya." Jelas Gladys.


Gladys dan Nana larut dalam keasyikan pembuatan cup cake.


Setelah 1 jam berlalu cup cake mereka telah selesai di hias.


"Gimana Tante mudah kan buat cup cakenya?" Tanya Gladys.


"Lumayan. Nanti resep cup cake kamu ini bakalan Tante catat di buku resep Tante"


"Kalau ada yang nanti Tante gak gerti tanya aja Tante ke saya."


Nana dan Gladys membawa hasil karya mereka ke taman belakang.


"Cup cakenya udah siap di santap." Ujar Nana sambil membawa beberapa cup cake.


"Wah cantik banget Oma." Yulin kegirangan melihat warna-warni hiasan cup cake.


Nana dan Gladys menaruh cupcakenya di atas meja dalam gazebo tempat mereka berkumpul.


"Sayang, kamu tau tidak siapa yang habis pakai selimut di teras belakang?" Tanya Winjaya.


"Gak Pa, saya gak tau." Jawab Nana.


"Aneh yah, biasanya kan yang pakai hanya kita berdua."


"Pa ..." ucapan Mikael terpotong


Gladys menahan Mikael untuk tidak melanjutkan kalimatnya, dia memegang denGn erat pergelangan tangan Mikael dan menggelengkan kepalanya agar Mikael tidak memberitahukan keoada orang tuanya kalau merekalah yang sudah memakainya.


Gladys merasa malu.


Untungnya Winjaya dan Nana tidak mendengar Mikael yang telah memanggil papanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai guys


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2