
Mikael terus melihat Gladys yang kini sedang merapikan dokumen-dokumen di atas mejanya lalu mematikan laptop. Dia lalu menyadari jika Gladys telah bersiap untuk pulang, dengan gerakan kilat dia menyusun dengan rapi folder map diatas mejanya dan mematikan laptop lalu mengambil tas dan jas yang tergantung.
Mikael keluar dari ruangannya.
"Kamu udah mau pulang?" Tanya Mikael yang jawabannya dia sendiri sudah tau.
"Iya Kak Mika." Jawab Gladys sambil mengambil tasnya.
"Kebetulan saya juga mau pulang, saya antar kamu sekalian." Ujar Mikael.
"Gak usah kak Mika, saya pulang naik ojol saja."
"Sudah malam, gak baik perempuan pulang sendirian."
Mikael melihat bibir Gladys terbuka, wanita itu hendak berbicara. Namun di hentikan oleh Mikael.
"Saya tidak menerima bantahan."
Dengan terpaksa Gladys menuruti perkataan Mikael.
Para karyawan telah pulang dan hanya berada mereka berdua.
Gladys menekan tombol di samping lift.
Setelah pintu lift terbuka mereka melangkah masuk.
Kini lift menuju ke lantai dasar. Namun tiba-tiba saja lift berhenti dan segalanya menjadi gelap di dalam ruangan sempit itu.
"Kenapa nih?" Tanya Gladys mulai panik.
Mikael hanya terdiam, tangan dan kakinya mulai terasa nyeri dan kesemutan. Ingin rasanya dia membuka paksa pintu lift untuk keluar namun berlahan tenaganya mulai menghilang berganti dengan rasa takut.
Mikael menyandarkan tubuhnya pada dinding besi lift dan kini kakinya sudah tidak dapat menopang berat tubuhnya, dia langsung ambruk ke lantai sambil memegang dadanya yang terasa sesak dan jantungnya berdetak tidak beraturan.
Gladys yang menyadari jika Mikael terduduk tepat di sampingnya langsung duduk tepat di samping Mikael dan memegang tangan Mikael yang terasa dingin.
"Kak Mika, Kak Mika gak papakan?" Ujar Gladys panik. Dia lalu menyalakan senter di hpnya untuk melihat kondisi Mikael.
Betapa terkejutnya Gladys ketika melihat Mikael yang terkulai lemas, seluruh tubuh Mikael berkeringat dingin.
"Kak Mika bertahan Kak." Ujar Gladys. Dengan berlahan Gladys menggeser kepala Mikael ke pundaknya dengan harapan Mikael bisa merasa sedikit tenang.
Gladys mengingat buku catatan yang di berikan Teddy saat hari pertama dia bekerja.
Sepertinya penyakit nyctophobia⁷ Bossnya kambuh. pikir Gladys.
"Sekarang saya harus bagaimana?" Gumam Gladys, air matanya mulai membasahi pipinya. Dia melihat kelayar hpnya dan berharap ada sinyal walau segaris namun sinyal sama sekali tidak ada di dalam lift, dia ingin menelpon seseorang untuk meminta bantuan.
"Kak Mika bertahan, sebentar lagi lampu akan menyala." Ujar Gladys mencoba menenangkan Mikael. Gladys memegang erat tangan Mikael
"Sa...ya ta...kut. Sa...ya ingin ke...luar." Ujar Mikael dengan terengah-engah.
"Kak Mika gak usah takut, ada saya disini. Saya akan melindungi Kak Mika." Ujar Gladys semakin panik dan gelisah. Dia memperat pelukannya pada Mikael.
__ADS_1
Setelah beberapa menit lampu kembali menyala. Gladys menyandarkan tubuh Mikael ke dinding lift dan berdiri untuk menekan tombol di samping pintu lift. Tidak menunggu lama pintu lift terbuka.
"Kak Mika lampu sudah menyala." Ujarnya lalu membantu Mikael untuk berdiri. Namun Mikael tetap tidak dapat berdiri, kakinya masih lemas.
Berlahan Mikael mulai mengatur napas yang masih terasa sesak.
"Kak Mika kamu bisa dengar saya?" Tanya Gladys.
Mikael melihat ke arah Gladys lalu memegang telapak tangan wanita itu erat.
"Ka...mu mena..ngis?" Tanya Mikael dan seketika itu juga kesadarannya menghilang.
***
Mikael berlahan membuka matanya dan dia hanya melihat langit-langit ruangan berwarna putih dan mencium aroma khas rumah sakit
Tangan kanannya terasa perih, dia juga merasa ada seseorang yang sedang memegang telapak tangannya.
Berlahan Mikael mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita yang sedang tertidur dalam posisi duduk dan tangan wanita itu menjadi bantal untuk menopang kepalanya.
Mikael tersenyum melihat siapa wanita itu.
Dengan tangan kirinya, dia mengusap lembut kepala wanita itu.
Gladys yang merasa terusik dengan elusan di kepalanya langsung terbangun.
"Kak Mika sudah sadar?" Tanya Gladys kerika melihat Mikael yang telah terbangun. Tangannya terasa kesemutan akibat di timpah kepalanya semalaman.
"Saya panggilkan dokter dulu." Ujar Gladys yang hendak berdiri namun tangannya di tahan oleh Mikael.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka.
"Pak Mika akhirnya sudah sadar." Ujar Teddy senang yang baru saja masuk.
"Teddy saya ingin keluar sekarang." Perintah Mikael.
"Baik pak. Saya akan mengurusnya."
"Tapi Teddy kak Mika harus di cek dulu sama dokter." Ujar Gladys.
"Panjang umur tuh dokter." Ujar Teddy yang melihat kearah pintu.
***
"Gimana dok?" Tanya Gladys ketika melihat dokter yang baru saja selesai memeriksa Mikael.
"Mikael sudah bisa pulang." Ujar dokter Hendra.
Hendra adalah dokter spesialis psikolog dan merupakan dokter pribadi Mikael yang menangani penyakit Nyctophobia yang di alami Mikael.
"Baguslah kalau gitu." Ujar Gladys legah.
"Kalau gitu saya permisi dulu." Ujar dokter Hendra yang telah selesai melepas infus di tangan Mikael lalu meninggalkan mereka bertiga.
__ADS_1
"Pak Mika saya ke bagian administrasi dulu." Ujar Teddy lalu melangkah keluar ruang rawat.
"Sekarang sudah dengar sendirikan?" Tanya Mikael
Gladys tidak menanggapi pertanyaan Mikael, dia hanya mengambil pakaian Mikael yang di gantungnya semalam.
"Sekarang kamu ganti baju, saya tunggu di luar." Ujar Gladys lalu meninggalkan Mikael seorang diri.
Mikael tersenyum senang. Dia mengingat kejadian semalam, Gladys yang terus memeluknya di dalam lift dan juga menjaganya semalaman di rumah sakit.
***
Mikael telah selesai berganti pakaian, dia melangkah keluar ruang rawat. Namun tidak menemukan keberadaan Gladys.
"Pak Mika sudah mau balik?" Tanya Teddy menghampiri Mikael.
"Gladys mana?" Tanya Mikael yang tidak memeperdulikan pertanyaan Teddy.
"Dia sudah pergi, katanya Pak Mika harus istirahat dulu gak usah ke kantor." Jawab Teddy.
"Dia pergi kemana?" Tanya Mikael dingin.
Teddy menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Entahlah tapi tadi dia kelihatan buru-bur" Jawabnya.
"Dasar Gladys. Tadi dia bilang akan menunggu saya, sekarang malah pergi." Batin Mikael kesal.
"Sekarang saya mau ke apertemen mandi, saya akan ke kantor hari ini." Ujar Mikael lalu melangkah meninggalkan Teddy.
Teddy yang tertinggal dengan cepat mengejar Bossnya. "Tapi pak kata Gladys pak Mika harus istirahat hari ini." Ujar Teddy yang berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Mikael yang berjalan cepat.
"Bos kamu saya atau dia?" Bentak Mikael.
.
⁷Nyctophobia adalah kondisi ketakutan ekstrim pada kegelapan.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
hai guys
jangan lupa tinggalkan jejak yah 😉
like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih