Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #58


__ADS_3

Gladys tengah mengganti pakaiannya yang telah di antarkan oleh Mbak Sinar ke kamar Yulin.


"Apa tante akan pergi sekarang?" Tanya Yulin yang tidak rela berpisah dari Gladys.


"Iya sayang. Ini udah sore. Besok Tante harus masuk kerja." jawab Gladys.


"Tante janji kalau Tante ada waktu kita ketemu lagi." ujar Gladys.


"Janji." Yulin mengajungkan jari kelingkingnya kepada Gladys.


Gladys tersenyum melihatnya dan membalasnya dengan memgaitkan jari kelingkingnya dengan Yulin.


"Cap." Ujar Gladys ketika jempol miliknya bersentuhan dengan jempol Yulin.


"Yulin Sayang Tante Gladys." Yulin langsung memeluk Gladys dan di balas oleh Gladys.


"Sekarang kita keluar, Paman kamu mungkin udah nunggu Tante di luar."


"Udah siap Sayang?" Tanya Mikael ketika melihat Gladys dan Yulin keluar dari kamar Yulin.


"Kami antar kalian sampai di mobil." Ujar Nana.


Saat hendak masuk mobil, Mikael membukakan pintu mobil samping sopir.


"Bye Yulin." Ujar Gladys pada Yulin.


"Tante, Paman kami pamit dulu." pamit Gladys.


"Dah"


Kini mobil Mikael telah melaju ke jalan raya.


"Sepertinya Yulin belum rela berpisah dari kamu." Ujar Mikael yang masih fokus pada kemudinya.


"Iya, saya juga belum rela. Tapi apa boleh buat, besokkan saya harus kerja." Ujar Gladys.


"Besok saya jemput kamu, kita ke kantor sama-sama." Ujar Mikael.


"Gak perlu Kak Mika, saya bisa naik ojol." Tolak Gladys.


"Gak usah bantah."


Gladys hanya bisa terdiam mendegar perkataan laki-laki di sampingnya. Dia mengambil bungkusan berisikan kripik kentang yang di berikan Yulin padanya sebelum pergi tadi.


Gladys memakannya sambil melihat keluar jendela mobil.


Mikael yang masih fokus menyetir melirik ke arah Gladys yang asyik makan sendiri.


"Aaa." Mikael membuka mulutnya.


Gladys berpura-pura tidak mendengar suara Mikael, dia masih tetap saja menikmati kripik di tangannya tanpa melirik ke arah Mikael.


"Sayang, pelit amat sih."


"Kak Mika, gak usah panggil sayang, di mobil ini hanya kita berdua." Protes Gladys yang kini melihat kearah Mikael.


"Biarin siapa suruh kamu gak peduli sama saya."


Gladya tertawa mendengarnya, dia memang sengaja mengerjai Mikael.


Gladys mengambil sekeping kentang lalu menyuapinya ke Mikael. Dan sekali lagi Gladys menyuapi Mikael tapi kali ini Gladys mengeser tangannya yang memegang kripik kentang ketika Mikael hendak memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya hingga tiga kali.


Mikael yang merasa geram memegang lengan tangan Gladys lalu memasukkan kripik kentang yang berada di jari Gladys ke dalam mulutnya, dia bahkan sengaja menggigit jemari Gladys.

__ADS_1


"Auhh." Teriak Gladys yang merasakan gigitan Mikael di jarinya.


"Kak Mika, yang di makan itu kripiknya bukan jari saya." Gerutu Gladys.


"Siapa suruh ngerjain."


Gladys memasang wajah cemberut tapi dia tetap melanjutkan makan kripiknya dan sesekali menyuapi Mikael.


"Oh iya Kak Mika, di rumah Kak Mika kok gak ada terpajang foto orang tua Yulin?" Tanya Gladys.


"Ada kok, di dekat pintu ruang kerja papa ada, di dalam kamar Yuan juga ada, di Kamar Yulin juga ada." Jawab Mikael.


"Di kamar Yulin? Tapi saya gak lihat ada foto terpanjang di kamar Yulin."


"Ada di meja belajar Yulin bingkai kecil, mungkin tertutupi sesuatu sampai kamu gak lihat."


Setelah mendengar jawaban Mikael Gladys hanya mengangguk dan kembali terdiam.


1 jam perjalanan telah mereka tempuh, kini mobil Mikarl telah tiba di depan lobby apertemen Gladys dan hari telah gelap.


"Kak Mika terimakasih telah mengantar saya pulang." Pamit Gladys.


Mikael hanya meresponnya dengan senyuman khasnya.


Mobil Mikael kembali melaju ke jalan raya.


Sesampainya di dalam apertemen, Gladys langsung melempar tubuhnya ke sofa empuk miliknya. Dia benar-benar merasa lelah, bisa di bilang dia hanya tertidur tidak kurang dari 5 jam semalam.


Gladys membersihkan tubuhnya, melakukan ritual mandinya.


Setelah selesai dia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya.


Sekaya-kayanya Mikael tertanyata dia juga memiliki masa lalu yang kelam dan berdampak hingga sekarang, saat dia telah dewasa. Pikir Gladys yang mengingat cerita Mikael semalam.


***


Gladys memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya, dia menyempatkan membeli susu dan roti sebelum ke kantor.


Tidak cukup 1 jam dia telah menapakkan kakinya di lantai kantornya dan langsung menuju ke lift.


Seperti biasa setelah tiba di kantor dia menyimpan tasnya di meja kerja lalu ke pantry membuat kopi untuk di bawa ke ruangan Bossnya, tidak lupa dia menaru beberapa keping biskuit kesukaan Bosnya di atas piring kecil.


Selesai dengan tugas rutinnya dia kembali ke meja kerjanya dan mulai membuka map folder yang tersusun rapi diatas meja kerjanya serta menyalakan laptop kerjanya.


"Selamat pagi Dys." Sapa Teddy yang kini telah duduk di samping Gladys.


"Pagi Ted. Oh iya proposal pembangunan hotel V ada yang saya kurang mengerti, coba deh kamu lihat di bagian ini." Ujar Gladys sembari memutar laptopnya ke arah Teddy untuk memudahkan laki-laki itu melihatnya.


Sementara Teddy yang sedang menganalisa proposal hotel V, tiba-tiba hp di saku celana Gladys berbunyi.


🎵 you, you love it how i move


Gladys segera mengambil hp di dalam saku celananya. Karena masih fokus pada layar laptopnya yang dilihatnya bersama Teddy, dia langsung menggeser tombol hijau pada layar hpnya tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar hpnya.


"Halo." Sapa Gladys.


"Saya udah di bawah." Ujar orang di seberang.


Gladys yang mendengar kalimat itu, merasa bingung pasalnya dia tidak membuat janji dengan siapapun untuk bertemu di kantor apalagi ini masih pagi. pikir Gladys.


"Sayang." Panggil orang di seberang yang membuat Gladys tersadar, dia langsung melihat ke layar hpnya untuk melihat siapa orang yang tengah menelponnya.


'Mr. Sok Perfect'

__ADS_1


Begitu yang tertulis di layar hp Gladys.


"Yah Tuhan Kak Mika kan semalam bilang kalau mau jemput saya ke kantor, dasar pikun." Maki Gladys dalam hati.


"Kak Mika sorry saya benar-benar lupa." Ujar Gladys yang merasa bersalah pada Bossnya.


"Kamu sudah di kantor?" Tanya Mikael yang mulai geram.


"Iya Kak." Lirih Gladys.


Panggilan telepon langsung terputus.


"Bodoh bodoh, bisa-bisanya saya lupa kalau Kak mika akan menjemput saya. Sekarang gimana? Kak Mika pasti marah banget." Batin Gladys.


"Kamu kenapa? tampangnya kek orang gelisah begitu." Tanya Teddy yang terus memperhatikan temannya itu.


"Saya lupa kalau Kak Mika ternyata mau jemput saya untuk ke kantor." Jawab Gladys.


"MAMPUS." ujar Teddy sedikit berteriak.


"Kamu jangan takut-takutin, pake bilang mampus lagi." Ujar Gladys bertambah gelisah.


"Pak Mika paling gak suka dengan orang ingkar janji."


"Terus gimana dengan janji temu Kak Mika dengan klien, teman kerja, dan lain-lain. Kak Mika kan pernah menyuruh saya membatalkan jadwal temunya."


"Kalau itu lain kasus lagi. Inikan karena kamu yang pikun."


"Teddy, bukannya bikin tenang malah bikin tambah gelisah aja kamu." Ujar Gladys yang mulai merasa kesal dengan Teddy.


"Karena memang seperti itu."


"Stop, fokus aja sama proposal hotel V." Perintah Gladys yang sudah geram dengan temannya itu.


Mereka berdua kembali fokus pada proposal Hotel V.


***


"Selamat pagi Pak." Sapa beberapa karyawan di ruang manajer. Namun tidak di respon oleh Mikael, dia tetap berjalan tanpa menghiraukan karyawan yang menyapanya.


"Tiba-tiba kok terasa dingin yah?" Bisik Vicky pada Mira.


"Sepertinya Boss pagi ini sedang menjadi batu es." Balas Mira.


Gladys yang mendengar sapaan para karyawan di ruang manajer membuatnya menjadi panik karena itu pertanda bahwa Bossnya telah tiba di kantor.


Mikael yang melewati Teddy dan Gladys juga tidak memperdulikan sapaan mereka, Mikael hanya melirik ke arah Gladys dengan tatapan tajam.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2