Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #26


__ADS_3

Gladys melihat jam tangannya.


"Pak Mika sekarang udah jam 02.00. Kita harus ke kantor." Ujar Gladys panik.


"Kamu tenang aja. Saya sudah menyuruh Teddy untuk meng-handle semuanya." Ujar Mikael.


"Kapan?" Tanya Gladys heran.


"Waktu mata dan otak kamu fokus pada gerobak es cendol, saya menchat WA Teddy" Jawab Mikael.


"Syukurlah. Tapi tetap aja pak kita harus tetap cepet ke kantor kasihan Teddy." Ijar Gladys yang kembali mengisap air kelapanya.


"Gak usah mikirin Teddy. Saya mau kamu mulai sekarang berhenti panggil saya Pak" Ujar Mikael.


"Kenapa?" Tanya Gladys terkejut.


"Karenaaa.... Karena lebih enakkan di dengar kamu panggil saya tanpa pak. Lagian Gilang dan Aaron kamu juga gak panggil pak kan?" Ujar Mikael. Sebenarnya dia hanya ingin agar Gladys merasa lebih akrab dengannya tapi dia juga merasa malu untuk berkata jujur pada Gladys.


"Kalau mereka beda Pak."


"Beda apanya? Malahan lebih enakan di dengar kalau kamu bilang Kak Mika dari pada Kak Gilang, Kak Aaron."


"Pak Mika kan boss saya, sedangkan mereka sudah seperti kek teman sih di bandingkan boss. Apalagi kak Gilang sudah seperti seorang kakak yang lembut dan baik hati." Ujar Gladys sambil tersenyum memikirkan Gilang yang perhatian padanya saat Gilang memujinya dan saat kejadian kepalanya yang terbentur pintu pagi tadi.


"Apa-apaan mereka. Tadi Gilang yang puji Gladys, sekarang Gladys yang puji Gilang." Ujar Mikael kesal.


"Kalau kamu gak mau panggil saya Kak Mika, panggil saya sayang dimanapun karena kamu sekarang adalah pacar saya." Ujar Mikael ketus.


"Kak Mika aja." Ujar Gladys singkat. Dia lalu berdiri dan menghampiri penjual kelapa.


"Dasar kepala batu, di ancam baru mau." Humam Mikael. Dia tersenyum puas.


"Pak Mika udah selesai?" Tanya Gladys, sekembalinya dari penjual.


Mikael melihat ke arah Gladys dengan ekspresi kesal.


"Maksud saya Kak Mika." Ujar Gladys membenarkan perkataannya.


"Kali ini saya masih mentoleran, tapi lain kali kamu harus menanggung akibatnya." Ujar Mikael lalu menghampiri penjual kelapa untuk membayar.


Gladys lalu mengikuti Mikael dan mengambil segelas plastik air plus daging kelapa yang telah di pesan sebelumnya.


Di dalam mobil, Mikael melihat sekantung plastik yang di pegang Gladys.

__ADS_1


"Kamu belum kenyang yah? Sampai di bungkus gitu."


"Ini bukan untuk saya."


"Terus untuk siapa?" Tanya Mikael.


"Untuk Teddy." Jawab Gladys.


"Segitu perhatiannya kamu sama Teddy." Ujar Mikael yang mengkerutkan keningkan.


"Selama ini Teddy selalu membantu saya, sejak hari pertama kerja tapi saya belum pernah memberikannya sesuatu." Ujar Gladys.


"Kalau begitu kamu harus traktir dia." Ujar Mikael yang sedang melajukan mobilnya.


Gladys hanya meresponnya dengan anggukan kepala tanda dia setuju dengan perkataan Mikael.


Kini mobil Mikael telah terparkir di depan lobby kantor. Mereka keluar dari mobil.


Mikael lalu memberikan kunci mobilnya pada satpam agar mobilnya di parkirkan ke area parkir khusus CEO perusahaan.


Mikael melangkah masuk ke dalam kantor menuju ke lift sementara Gladys mengikuti Mikael dari belakang.


Tiba-tiba langkah Mikael berhenti.


"Ada apa pak?" Tanya Gladys.


Gladys yang mendengar Mikael memanggilnya sayang segera menutup mulut Mikael dengan telapak tangannya.


"Saya salah. Saya minta maaf." Lirih Gladys berbisik


Mikael lalu menarik tangan Gladys yang menutupi mulutnya.


"Justru kalau kamu menutupi mulut saya seperti ini, mereka akan berpikir kalau kita ada apa-apa. Mana ada karyawan yang menutupi mulut Bossnya." Jelas Mikael yang mendekatkan wajahnya pada telinga Gladys


Gladys lalu menegok ke kanan dan kiri untuk melihat sekitarnya. Benar saja, beberapa karyawan sedang melihat kearah mereka, bahkan ada yang mengambil foto mereka.


Gladys segera melangkah menuju ke lift meninggalkan Mikael. Kejadian tadi membuatnya memjadi panik.


Langkahnya semakin cepat, dia juga menutupi wajahnya dengan tangannya yang tidak memegang kantung plastik.


Di depan lift, Gladys terus memencet tombol yang berada di samping lift dengan kasar.


"Kalau kamu terus pencet seperti itu lama-lama perusahaan harus mengganti lift karena kamu." Ujar Mikael yang berada tepat di samping Gladys.

__ADS_1


Pintu lift terbuka.


Gladys segera melangkah masuk ke dalam lift di ikuti oleh Mikael. Hanya ada mereka berdua di dalam lift. Gladys lalu memencet tombol yang bertuliskan angka 25.


"Sekarang saya pasti jadi bahan gosip mereka. Ini semua karena Kak Mika." Ujar Gladys geram.


"Saya? Kamu salahkan saya? Jelas-jelas kamu yang menutup mulut saya dengan tangan kamu sampai menarik perhatian mereka." Ujar Mikael sambil tersenyum jahil.


"Itu karena kak Mika panggil saya sayang, makanya saya tutup."


"Terus siapa yang panggil saya Pak?"


"Yah.... Tapikan... Tapikan gak seharusnya kak Mika panggil saya sayang di depan mereka. Sebelumnya udah di gosipin dengan Kak Aaron sekarang dengan Kak Mika." Jelas Gladys kesal.


"Tunggu. Kamu kok bisa di gosipin dengan Aaron?" Tanya Mikael penasaran.


"Waktu Kak Aaron maksa saya untuk makan siang dengan dia. Jadi saya masuk ke dalam mobilnya menuju ke restoran dan ada kryawan yang melihat" Jawab Gladys.


"Kamu tenang saja, tidak akan ada orang yang akan menggosipi kamu dan Aaron lagi." Ujar Mikael.


"Terus dengan kak Mika?" Yanya Gladys.


Pintu lift terbuka


"I don't know." Jawab Mikael sambil mengangkat kedua bahunya dan meninggalkan Gladys yang masih di dalam lift.


Gladys masih ingin bicara dengan Mikael tapi Mikael sudah meninggalkannya dan tidak mungkin juga dia meneruskan pembahasannya dengan Mikael di depan karyawan lain. Alhasil Gladys harus menahannya, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi.


Gladys kembali ke meja kerjanya.


"Teddy ini buat kamu." Ujar Gladys sembari memberikan kantung plastik berisikan segelas air plus daging kelapa yang sejak tadi di bawanya.


"Terimakasih." Ujar Teddy yang memasukkan sedotan ke dalam gelas.


Tiba-tiba telepon di atas mejanya berbunyi. Dia lalu mengangkat telepon tanpa berkata apa-apa Teddy menutup teleponnya kembali.


"Saya ke ruang CEO dulu." Ujar Teddy sembari menaruh gelas plastik di atas meja kerjanya


Gladys hanya melihat Teddy yang melangkah masuk ke ruang CEO tanpa berkata apapun.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2