
"Iya benar Winjaya Development." Ujar suster itu dengan semangat karena telah mengingat nama perusahaan.
"Tapi maaf anda siapa?" Tanya suster lain yang merasa heran dengan Gladys yang telah berada di belakang mereka.
"Saya Gladys, asisten CEO Winjaya Development. Maaf saya gak sengaja menguping pembicaraan kalian tapi apa saya bisa melihat video yang sedang kalian bicarakan tadi?" Ujar Gladys yang ingin memastikan.
"Ini Mbak." Ujar suster sambil mengarahkan hpnya pada Gladys.
"Yah Tuhan." Gumam Gladys tanpa sadar ketika melihat wajah laki-laki yang di keluarkan dari mobil range rover sport yang mengalami kecelakaan tunggal di video tersebut.
Gladys menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia benar-benar syok dengan apa yang di lihatnya pada video itu. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.
"Sus apa videonya bisa di kirimkan ke saya?" Tanya Gladys yang berusaha agar nada bicaranya terdengar tenang dari setiap kata yang di ucapkannya.
"Bisa Mbak."
Sementara suster tadi mengirimkan videonya pada Gladys melalui bluetooth.
"Apa suster tau di mana Boss saya ini di rawat?" Tanya Gladys.
"Kebetulannya pasien di rawat di rumah sakit ini Mbak, di ruang rawat cempaka III." Jawab suster lainnya.
"Apa suster tau bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Gladys lagi.
"Kondisi terakhir pasien masih belum sadar, tapi Mbak bisa tanyakan langsung pada dokter yang menangani pasien." Jawab suster.
"Terimakasih." Ujar Gladys kepada kedua suster itu. Setelah memastikan videonya telah terkirim Gladys segera berpamitan dan langsung melangkah menuju ke ruang rawat yang di sebutkan suster tadi.
Sambil melangkah menuju ke ruang rawat, Gladys mengambil hpnya dari tas kecilnya yang di bawanya.
Dia mengetikkan sesuatu di layar hpnya lalu menempelkan benda kecil itu ke telinganya.
Tidak menunggu lama terdebgar seseorang yang menerima panggilan telepon Gladys.
"Halo." Sapa orang di seberang.
"Ted saya sudah menemukan Kak Mika, dia mengalami kecelakaan. Sekarang sedang di rawat di rumah sakit Kasih ruang rawat Cempaka III." Jelas Gladys dengan suara panik.
"Saya segera ke sana sekarang." Yjar Teddy.
Panggilan telepon berakhir.
Gladys kembali memasukkan hpnya pada tas kecil miliknya dan mempercepat langkahnya menuju ke ruang rawat yang di maksus suater tadi.
Sesampainya di depan pintu ruang rawat, Gladys menarik napas dalam lalu mengembuskannya berlahan sekedar untuk menenangkan sedikit perasaannya sebelum melihat keadaan Mikael.
Gladys membuka pintu ruang rawat dan langsung mendapati Mikael yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur, dahi Mikael yang terperban, nassal oxygen canula yang terpasang di hidung Mikael serta selang infus yang terpasang di punggung tangan kiri Mikael.
"Kak Mika." Panggil Gladys dengan suara serak, kini wanita itu sudah tidak dapat memendung air matanya lagi.
__ADS_1
Gladys melangkah menghampiri Mikael. Di taruhnya rantang yang di bawanya di atas nakas lalu duduk di samping tempat tidur Mikael.
"Kak Mika kenapa bisa sampai seperti ini? Kak Mika harus segera sadar, jangan buat saya khawatir. Mana Kak Mika yang dingin, yang selalu marah-marah? Saya ingin melihat Kak Mika yang seperti itu." Ujar Gladys sambil memegang telapak tangan Mikael yang tidak terinfus.
Mikael yang merasa terusik tidurnya, sedikit membuka matanya dan mendapati Gladys yang sedang memegang tangannya sambil menangis.
"Kamu menangis?" Tanya Mikael.
"Kak Mika." Panggil Gladys lalu menghapus air mata di pipinya dengan cepat. "Kak Mika sudah sadar? Saya panggilkan dokter yah." Ujar Gladys legah, dia akan menekan tombol panggilan perawat di samping tempat tidur, namun Mikael sudah terlebih dulu menahannya.
"Gak usah ganggu suster dan dokter di sini." Ujar Mikael.
Ada sedikit senyum yang muncul dari sudut bibir Mikael.
"Kak Mika kenapa tersenyum?" Tanya Gladys heran.
"Karena saya lagi senang." Hawab Mikael jujur.
"Why? Kak Mika habis mengalami kecelakaan. Tapi tunggu dulu, sejak kapan Kak Mika sadar?" Tanya Gladys ragu.
"Sebelum kamu masuk ke ruang rawat saya." Hawab Mikael.
"Jadi Kak Mika mendengar semua...." Gladys ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Semuanya dari awal?" Sambung Mikael. "Jawabannya iya, saya mendengar semuanya. Ternyata lima hari tidak bertemu yang kamu rindukan dari saya itu hanya marah-marah saya dan sikap dingin saya?" Ledek Mikael.
"Sayang, kamu jangan menundukkan kepala kamu dong. Saya jadi tidak bisa melihat wajah cantik kamu." Gombal Mikael lalu tersenyum puas melihat tingkah Gladys.
Gladys melihat sinis ke arah Mikael.
"Udah ah, saya mau pergi dulu." Ujar Gladys lalu mengambil rantang yang di taruhnya di atas nakas tadi.
Seketika itu juga wajah Mikael berubah seratus delapan puluh derajat, dia menjadi panik saat Gladys akan pergi meninggalkannya dan langsung menahan tangan Gladys.
"Kamu jangan pergi." Ujar Mikael dingin.
"Kenapa saya gak boleh pergi? Lagian sebentar lagi Teddy akan datang menemani Kak Mika." Ujar Gladys lalu berusaha melepas genggaman tangan Mikael namun sia-sia. Walau Mikael kini tengah sakit tapi kekuatannya masih lebih kuat dari Gladys.
"Kak Mika lepasin." Ujar Gladys.
"Nggak, kamu harus menemani saya di sini." Perintah Mikael.
"Gak bisa dong, saya harus menemani teman saya."
"TIDAK!!"
"Kenapa?" Tanya Gladys kesal.
"Saya tau kalau teman kamu itu laki-laki dan sepertinya dia bukan teman biasa untuk kamu. Saya tidak menyukai itu." Ujar Mikael dalam hati sambil menatap wajah Gladys.
__ADS_1
"Hello Kak Mika kenapa malah begong?" Tanya Gladys
"Pokoknya kamu harus nemenin saya di sini."
Belum sempat Gladys membantah perkataan Mikael, pintu ruang rawat kembali terbuka.
"Boss kamu kok bisa sampai kek gini sih?" Tanya Aaron yang langsung menerobos masuk dan memeluk Mikael, dia membuat wajahnya terlihat sesedih mungkin.
"Aaron apa-apaan sih? Geli tau. Jauhkan kepala kamu dari dada saya." Omel Mikael kesal.
Gladys memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan genggaman Mikael yang terasa melonggar.
"Teddy saya sudah mengirimkan video kecelakaannya di WA kamu." Ujar Gladys.
"Iya sudah melihatnya, saya juga sudah menyuruh orang untuk mencari tau penyebab kecelakaannya dan mengurus mobil Pak Mika." Jelas Teddy.
"Kamu sigap juga yah Gladys, sampai udah masakin Mika makanan segala." Ujar Gilang yang melihat rantang yang di pegang Gladys.
"Oh rantang ini bu..."
"Siniin rantang kamu, saya ingin lihat kamu masakin apa si orang cerewet makan ini." Potong Aaron yang mengambil rantang dari tangan Gladys.
"Itu..." Gladys mulai merasa panik.
"Udah kamu tenang aja saya gak bakalan minta kok." Canda Aaron lalu membuka rantang.
Gilang dan Teddy gak kalah kepo dari Aaron, mereka ikut melihat apa yang di masak oleh Gladys untuk Boss mereka.
"Bubur dengan sayur-sayuran." Ujar Gilang yang terkejut ketika melihat makanan yang di masak Gladys. Begitupun Aaron dan Teddy juga ikut terkejut.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1