
"Beautiful"
Mikael selalu saja tanpa sadar terpesona dengan kecantikan natural dari wanita yang ada di hadapannya.
Gladys yang menyadari sedang diperhatikam oleh Mikael langsung berbalik ke arah Mikael yang berada tepat di belakangnya.
Wajah mereka saling bertemu, Mikael menatap mata Gladys dalam begitupun dengan Gladys. Membuat jantung Gladys terus berdenyut semakin cepat.
Mikael mendekatkan wajahnya pada Gladys dan semakin dekat hinggal hidung Mikael dan Gladys sudah saling bersentuhan.
"Maaf." Ujar Mikael cepat ketika dia menyadari dirinya terbawa suasana hingga ingin mencium Gladys.
Dia mengurungkan niatnya, Mikael tidak ingin kejadian saat Galdys pingsan terulang kembali. Walaupun dia sendiri tidak mengetahui pasti penyebab Gladys pingsan karena dia telah mencium wanita itu tanpa izin atau bukan.
Bukannya merasa senang, Gladys malah merasa ada sedikit rasa kecewa yang di rasakannya. Dia memegang pipinya yang terasa hangat.
"Kak Mika." panggil Gladys pelan.
"Ah ya." Jawab Mikael cangung.
"Sepertinya kita sudah tidak memiliki tepung terigu lagi untuk membuat cup cake." Gladys melihat semua tepung terigu yang berserakan di lantai.
Tanpa mereka sadari sudah ada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka.
"Yah Tuhan." Ujar Nana yang terkejut melihat melihat Mikael dan Gladys di tambahkan lagi dengan kondisi dapur yang berantakan karena tepung terigu dimana-mana.
Perkataan Nana membuat mereka berbalik ke sumber suara.
"Tante Nana." Panggil Gladys yang tak kalah terkejut dengan keberadaan Nana.
"Kok bisa jadi kek gini?" Tanya Nana heran
"Ini salah saya Tante. Maaf." Ujar Gladys yang merasa bersalah.
"Gak gak gak ini bukan salah kamu sayang. Saya tidak menagkap bungkusan tepung terigu itu dengan baik." Ujar Mikael yang tidak ingin Gladys merasa bersalah sambil membersihkan rambut Gladys dari serbuk tepung terigu dengan lembut.
Walaupun sudah tau kalau yang dilakukan laki-laki di hadapannya ini hanya sandiwara, Gladys tetap merasa senang karena Mikael peduli padanya. Pikir Gladys.
Bukannya merasa kesal, Nana malah merasa senang melihat dua sejoli di hadapannya itu yang tampak mesra.
"Yah udah kalian pergi mandi gih, biar nanti Bi Yuyun yang membersihkan." Perintah Nana.
"Tapi saya gak punya pakaian ganti Tante." Ujar Gladys.
"Benar juga." Timpal Nana.
"Kamu mau gak pakai pakaian Tante kebetulan Tante masih simpan pakaian Tante yang ukurannya udah kekecilan?" Tanya Nana.
"Boleh Tante."
"Yah udah kamu mandi aja di kamar Yulin, nanti Tante suruh Mbak Lala cariin baju dan anterin ke kamu." Ujar Nana ramah.
"Terimakasih Tante dan maaf saya udah gerepotin Tante." Ujar Gladys.
"Enggak papa." Ujar Nana.
Gladys lalu melangkah menuju ek kamar Yulin. Sementara Mikael menuju ke kamarnya
__ADS_1
***
"Tante Gladys." Panggil Yulin ketika melihat Gladys yang baru saja keluar dari kamar mandi di kamarnya.
"Yulin udah bangun? Tadi Tante pinjem kamar mandi Yulin, gak papa yah?"
Yulin meresponnya dengan anggukan. Anak itu baru saja terbangun dari tidurnya.
"Baju Tante kenapa begitu?" Tanya Yulin dengan wajah khas baru bangun.
"ini dress Oma Nana. Tante pinjem soalnya baju Tante udah kotor kena tepung."
Yulin mendengarnya sambil mengucek matanya.
"Tante, mirip seperti mama kalau sedang pakai daster." Ujar Yulin.
Gladys langsung menuju ke kaca besar yang berada di samping pintu kamar mandi.
"Benar kata Yulin, dress ini tampak seperti daster di badan ku. Tapi gak papa lah, daster yang modis. Kata tante Nana kan ini dress yang pertama kali dia jahit dulu untuk dirinya sendiri." Ujar Gladys dalam hati lalu tersenyum.
"Non Yulin mau mandi air hangat?" Tanya Mbak Sinar tiba-tiba yang membuat Gladys berbalik ke arah Yulin dan Mbak sinar.
Yulin menganggukkan kepalanya "Iya Mbak Sinar." Jawab Yulin.
"Yah udah Mbak Sinar mandiin yah." Ujar Mbak Sinar.
"Gak mau sama Mbak Sinar, maunya sama Mbak Pia atau mama." Teriak Yulin yang membuat Gladys sedikit tersentak dari posisinya.
Yulin tipikal anak yang pemilih, bukan hanya dalam hal orang-orang yang mengasuhnya tapi juga dalam hal makanan, berpakaian. Semua harus sesuai dengan keinginannya.
"Gak mau sama Mbak Sinar." Teriak Yulin sekali lagi.
"Yulin gimana kalau Tante Gladys aja yang mandiin Yulin? Kita bisa mandi sambil bermain. Yulin mau?" Bujuk Gladys setelah melihat wajah kecewa dari Mbak sinar karena di tolak oleh Yulin.
"Tolong yah Non, Nyonya besar bisa marah jika Non Yulin belum mandi sore, apalagi ini udah jam mansi sore Non Yulin." Ujar Mbak Sinar dengan wajah memelas.
Gladys meresponnya dengan anggukan.
"Yuk Yulin, kita ke kamar mandi." Ujar Gladys lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Yulin untuk menggendong gadis kecil itu.
"Tapi Tante Gladys gak pernah mandiin Yulin." Ujar Yulin ragu.
Gladys mendekati tempat tidur Yulin dan duduk di tepi tempat tidur.
"Tante punya adik dan mereka sangat suka kalau Tante yang mandiin kata mereka lebih asyik dan seru, apa kamu gak mau? Kita mandi sambil bermain, berendam gimana?" Bujuk Gladys.
Yulin mengganggukkan kepalanya, mendekati Gladys untuk di gendong ke kamar mandi.
"Good girl." Ujar Gladys tersenyum penuh kemenangan.
"Mbak Sinar tolong siapin pakaian Yulin yah." Ujar Gladys ramah.
"Yah Non." Lirih Mbak Sinar legah.
Gladys mulai melepas pakaian Yulin, lalu mempersiapkan air hangat di bath up dan beberapa mainan yang sudah terdapat di dalam kamar mandi.
"Sekarang kita mandi yah"
__ADS_1
***
"Gimana? seru kan?" Tanya Gladys setelah memakaikan jubah mandi pada Yulin.
"Yulin suka di mandiin sama Tante." Ujar Yulin dengan suara cadelnya.
Gladys tersenyum senang mendengarnya. Dia memang sudah terbiasa mengurus adik-adiknya saat di Korea.
"Sekarang Yulin pakai baju dulu yah." Ujar Gladys lalu melangkah menuju ke tempat tidur untuk mengambil pakaian Yulin yang telah di sediakan oleh Mbak Sinar sesuai dengan pilihan Yulin sebelumnya.
Selesai memakaikan Yulin pakaian, Gladys mengarahkan tubuh Yulin untuk duduk di dekat nakas.
"Selesai, tinggal mengeringkan rambut Yulin." Ujar Gladys mengambil hair dryer yang tergantung di samping lemari kaca.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka.
"Kalian ngapain?" Tanya orang yang baru saja masuk.
"Tuan Mika." Sapa Mbak Sinar ketika melihat Mikael membuka pintu kamar Yulin.
"Tante Gladys sedang mengeringkan rambut saya Paman." Jawab Yulin tanpa menoleh pada Pamannya. Gadis itu hanya melihat Pamannya dari cermin besar di hadapannya.
"Kamu bisa keluar sekarang." Perintah Mikael yang melihat Mbak Sinar hanya berdiri di samping tempat tidur Yulin.
"Baik Tuan." Ujar Mbak Sinar lalu keluar dari kamar Yulin.
"Pantesan kamu lama banget keluarnya, ternyata lagi urusin putri kecil satu ini." Gombal Mikael sambil mencubit pelan pipi gembul Yulin.
"Kak Mika jangan di cubit, kasihan Yulin." Tegur Gladys sembari menyisir rambut Yulin.
"Kalau gitu cubit kamu aja." Canda Mikael yang hendak mencubit pipi Gladya namun dengan cepat Gladys menghindari tangan Mikael.
"Paman jangan sakiti Tante Gladys." Yulin menatap tajam ke arah Pamannya.
"Tatapan itu sangat mirip dengan Kak Mika ketika lagi kesal." Ujar Gladys dalam hati lalu tersenyum.
"Baru juga kenal sehari tapi udah akrab banget kalian." Ujar Mikael.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1