Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #27


__ADS_3

Ruang CEO


Mikael merapikan dokumen-dokumen yang berantakan di atas meja kerjanya lalu mematikan laptop di hadapannya. Dia melangkah keluar dari ruangannya sambil membawa tas kerja berwarna hitam.


"Kamu mau kerja sampai jam berapa?" Tanya Mikael saat melihat Gladys yang masih fokus pada dokumen di hadapannya.


Gladys yang mendengarnya menoleh kearah Mikael begitupun dengan Teddy.


"Pak Mika sudah mau pulang?" Tanya Teddy.


Mikael menjawabnya dengan anggukan tapi pandangannya pada Gladys.


"Hati-hati di jalan Kak Mika." Ujar Gladys lalu kembali fokus pada kerjaannya.


Teddy yang mendengar Gladys memanggil Mikael dengan sebutan Kak membuatnya kaget, pandangannya kini teralihkan pada Gladys.


"Kamu ikut saya." Ujar Mikael dingin.


"Kerjaan saya belum selesai." Ujar Gladys yang masih fokus pada kerjaannya.


"Kamu ikut Pak Mika saja, kerjaan kamu biar saya yang selesaikan." Ujar Teddy.


"Gak usah Ted, biar saya saja" ujar Gladys.


"Hem hem hem." Mikael mulai merasa geram dengan wanita di hadapannya. Dia lalu mengambil tas Gladys yang tergantung di sandaran kursi.


"Kamu ikut dengan saya atau kamu pulang tanpa tas." Ancam Mikael.


Gladys langsung melihat ke arah Mikael yang tengah memegang tasnya.


"Pak Mikaaa." Rengek Gladys.


"Etsss... Saya...."


"Kak Mika" Gladys langsung memperbaiki perkataannya. "Saya ikut." Ujar Gladys.


Gladys lalu merapikan kertas-kertas di atas meja kerjanya.


"Kamu kelamaan." Ujar Mikael.


"Teddy." Panggil Mikael lalu menyuruh Teddy merapikan meja Gladys dengan menggerakkan kepalanya.


"Biar saya saja." Ujar Teddy lalu mengambil lembaran kertas dari tangan Gladys.


Mikael lalu melangkah menuju lift diikuti dengan Gladys di belakangnya.


Gladys memencet tombol di samping pintu lift. Tidak menunggu lama pintu lift terbuka, mereka lalu masuk kedalam lift.


"Berikan." Ujar Gladys kesal sambil mengambil tasnya dari tangan Mikael.


Bukannya memberikan tas Gladys, Mikael malah menghindari tangan Gladys.

__ADS_1


"Ambil kalau bisa." Tantang Mikael yang kini mengangkat tangannya keatas yang memegang tas Gladys.


Gladys berusaha menggapai tasnya sambil melompat berulang-ulang tapi tetap saja dia hanya menyentuh tasnya dengan ujung jarinya saja.


Karena merasa kesal Gladys lalu mengigit lengan Mikael yang tidak terangkat keatas.


"Sakit." Teriak Mikael yang langsung menurunkan tangannya dan membuat Gladys mudah untuk mengambil kembali tasnya.


Pintu lift terbuka.


Beberapa karyawan yang berada di depan lift melihat Mikael yang kesakitan sambil memegang tangannya yang di gigit Gladys.


Gladys yang menyadari pandangan mereka pada tangan Mikael yang kesakitan langsung memegang tangan Mikael.


"Tangan Kak Mika gak papa kan?" Ujar Gladys yang memijit pelan tangan Mikael.


Dia berpura-pura perhatian pada Mikael di depan para karyawan, dia tidak ingin karyawan berpikir kalau dirinya tidak perhatian pada Bossnya yang kesakitan.


Mikael merasa senang dengan perhatian Gladys dan dia menyadari penyebab perubahan drastis sikap Gladys.


"Dua orang masuk." Perintah Mikael pada beberapa karyawan ya g tengah berdiri di depan mereka.


Dua orang di antara mereka pun mematuhi perintah Mikael, mereka masuk ke dalam lift dan ini adalah kesempatan langkah mereka bisa satu lift dengan Mikael. Dua karyawan wanita itupun merasa sangat senang, mereka berusaha menyembunyikan kegirangan mereka.


"Pijit lagi sebelah sini." Ujar Mikael sambil menunjuk lengannya.


Gladys pun dengan terpaksa memijit lengan Bosssnya.


Mereka pun keluar dari lift. Mikael dan Gladys menuju mobil Mikael.


Di dalam mobil.


"Gigi kamu ada taring panjangnya yah, sakit banget gigitan kamu." Ujar Mikael.


"Gak usah bohong pak, disini udah gak ada karyawan yang melihat kita." Ujar Gladys ketus, dia melihat keluar jendela mobil.


Mikael lalu melipat lengan kemejanya untuk melihat bekas gigitan Gladys.


"Sayang, sekarang kamu lihat bekas gigitan kamu." Ujar Mikael sambil mendekatkan lengannya pada Gladys.


"Pak Mikaaa jangan panggil saya seperti itu." Ujar Gladys kesal lalu melihat ke arah Mikael.


"Sayang sekarang lihat ulah kamu."


Gladys melihat bekas gigitannya yang memerah di lengan Mikael, dia memang mengigit lengan Mikael dengan keras karena dia benar-benar merasa kesal dengan tingkah Mikael yang tidak memberikan tasnya


"Pak Mika sorry, saya tidak menyangka bakalan separah ini." Ujar Gladys yang merasa bersalah. "Pak Mika tunggu di sini dulu."


Gladys keluar dari mobil Mikael menuju ke kantin kantor.


Tidak menunggu lama Gladys telah kembali dan masuk kedalam mobil Mikael.

__ADS_1


Gladys menempelkan dengan lembut botol air minum yang setengah membeku ke bekas gigitan di tangan Mikael.


"Apa udah mendingan sakitnya pak Mika?" tanya Gladys.


Mikael tersenyum senang melihat Gladys yang perhatian padanya. "Udah mendingan, tapi saya gak papa kok kalau kamu mau gigit lagi." Ujar Mikael tanpa sadar.


"Sepertinya pak Mika udah baikan." Ujar Gladys kesal.


"Kok berhenti?" Tanya Mikael.


"Saya haus pak mau minum. Pak Mika nanti bisa kompres sendiri kalau sudah sampai rumah." Ujar Gladys lalu membuka tutup botol di tangannya dan meminumnya.


Bukannya kesal, Mikael malah terkekeh geli melihat Gladys yang kesal. Dia lalu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya ke jalan raya.


Sepanjang perjalanan Gladys terus melihat ke arah luar jendela sedangkan Mikael sesekali melirik ke arah Gladys.


Kini mobil Mikael telah terparkir di depan lobby apertemen Gladys


"Terimakasih Pak." Ujar Gladys lalu membuka mobil Mikael.


"Tunggu, gimana dengan proposal yang saya minta kamu buat?" Ujar Mikael.


"Udah mau selesai." Jawab Gladys.


"Sayang, kamu gak mau senyum dikit apa. Judes amat" Ledek Mikael.


"Pak Mikaaa."


"Iya Sayang."


"Pak Mika ngeselin banget sih"


"kamu sendiri yang duluan"


"Tapi saya belum terbiasa memanggil Pak Mika dengan Kak Mika jadi mohon di maklumin dong Pak."


"Kalau begitu kamu juga harus memaklumin pikiran saya karena ketika kamu memanggil saya Pak, saya berpikir kalau kamu ingin di panggil sayang oleh saya."


Gladys benar-benar kesal, dia selalu kalah ketika berdebat dengam boss sok perfectnya itu.


Gladys keluar dari mobil Mikael dan menutup pintu mobil dengan keras.


Mikael hanya tersenyum melihat punggung Gladys yang berjalan menjauh.


Dia kembali melajukan mobil ke jalan raya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2