
Beberapa hari telah berlalu sejak hari pertama Gladys menjaga Leon, dia rajin membuatkan dan membawakan Leon makan siang, menemani dan menjaga Leon di rumah sakit menjadi rutinitas baru Gladys selama beberapa hari ini. Dan satu lagi tambahan rutinitas Gladys yaitu menelpon Boss sok perfectnya itu saat makan siang dan makan malam tiba lalu memesankan makanan yang ingin di makan Mikael.
Seperti hari-hari sebelumnya Gladys tetap bersemangat membawakan Leon makan siang, namun kali ini Gladys sudah lebih dulu menelepon Mikael untuk menanyakan makan siang yang ingin di makan oleh Boss sok perfectnya itu lalu memesankannya makan siang.
"Selamat siang Leon." Sapa Gladys begitu membuka pintu ruang rawat Leon.
"Selamat siang." Balas Leon.
Gladys yang masih berdiri di ambang pintu sontak tergemap begitu melihat sosok yang tengah duduk tepat di samping tempat tidur Leon.
"Selamat siang Tante Lina." Sapa Gladys ragu. Namun tidak ada respon dari Lina.
"Sayang kamu pikirkan dengan baik-baik permintaan mama tadi, hanya kamu yang bisa membantu keluarga kita." Ujar Lina lalu berdiri dari kursinya.
"Mama pergi dulu yah." Pamitnya lalu mengelus lembut rambut putranya.
Lina melangkah menuju ke pintu keluar ruang rawat, ketika melewati Gladys yang masih berada di depan pintu rawat, Lina melihat sinis ke arah Gladys lalu menghentikan langkahnya.
"kamu jaga baik-baik putra saya." Ujar Lina ketus.
"Pasti Tante Lina." Ujar Gladys lalu melangkah menuju ke nakas samping tempat tidur Leon.
Namun tiba-tiba saja salah satu kaki Lina menghadang langkah Gladys hingga membuat wanita cantik itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
"Auh." Lirih Gladys sambil berusaha menahan rantang yang di bawanya agar isinya dari rantang itu tidak tumpah.
"Adys kamu gak papa?" Tanya Leon panik yang masih duduk di atas tempat tidur. Leon masih belum bisa menggunakan kaki dengan sempurna untuk berjalan.
"Memang dasar orang sial kan? Jalan aja bisa sampai jatuh gitu." Ujar Lina yang mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sinis.
"Andai saja Leon tidak mencari kamu ketika dia sadar dan tidak membutuhkan kamu untuk masa pemulihannya maka sudah saya buang kamu jauh-jauh hingga kamu tidak dapat melihat Leon lagi untuk selama-lamanya. Tapi kita lihat saja nanti sampai kapan kamu bisa bertahan berada di samping Leon." Ujar Lina dalam hati lalu meninggalkan Gladys tanpa membantu wanita itu untuk berdiri.
Pelan-pelan Gladys berdiri. Mungkin sebentar lagi akan berwarna biru. pikir Gladys sambil menundukkan kepalanya melihat lutut kaki kanannya yang terasa perih.
"Kamu gak papa kan Dys?" Tanya Leon sekali lagi.
"Gak papa kok." Jawab Gladys sambil menahan perih di lutut kaki kanannya.
Gladys melangkahkan kaki ke meja nakas dengan langkah yang pelan, dia tidak ingin memperlihatkan ke Leon rasa sakit di lututnya.
"Maafin mama yah, tadi saya melihat sendiri kalau mama sengaja menyandung kaki kamu hingga kamu jatuh." Ujar Leon yang merasa bersalah terhadap wanita yang di cintainya.
"Kamu gak usah merasa bersalah begitu, ini bukan kesalahan mama kok, saya aja yang gak lihat-lihat tadi sebelum melangkah." Ujar Gladys.
__ADS_1
"Rasa sakit di lutut saya tidak seberapa jika di bandingkan dengan rasa sakit ketika mama kamu mengatakan kalau saya tidak boleh bertemu dengan kamu lagi." Ujar Gladys dalam hati yang mengingat kembali kejadian saat pertama kali dia bertemu dengan Lina di rumah sakit.
"Kamu bisa mendekat kesini?" Tanya Leon.
Tanpa menjawab Gladys mendekatkan dirinya pada Leon. Gladys duduk tepat di samping Leon di atas tempat tidur pasien.
"Angkat kaki kamu yang sakit." Perintah Leon.
Lagi-lagi Gladys menuruti keinginan Leon, dia mengangkat kakinya sehingga Leon dengan mudah melihat memar di lututnya.
Laki-laki itu mengambil sebotol minyak urut di atas nakas lalu mengurut pelan di area pinggir luka memar di lutut Gladys .
"auuh, sakit." Keluh Gladys yang membuat Leon menghentikan aktivitasnya.
"Tahan sebentar."
Tanpa persetujuan Gladys dia melanjutkan mengurut lutut Gladys.
Leon melihat ke arah Gladys, dia melihat wanita itu sedang menahan rasa sakit.
"Sayang." Panggil Leon lembut.
"Iya." Jawab Gladys.
"Leon kamu kenapa?" Tanya Gladys yang melihat ke anehan pada tingkah Leon, pasalnya Leon terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Yah Gladys kenal betul dengan laki-laki sedang memeluknya ini.
Leon akan tiba-tiba saja memeluknya tanpa berkata apa-apa jika terjadi sesuatu pada laki-laki itu. Tanpa memberitahukan pada Gladys apa yang sebenarnya terjadi dan sifat itulah yang membuat Gladys terkadang berpikir kalau Leon tidak ingin membagi permasalahannya pada dirinya dan terkadang dia merasa ridak berguna bagi Leon.
"Permisi, Bapak sedang mencari siapa?"
Terdengar suara seorang wanita yang sepertinya sedang berdiri tepat di depan pintu ruang rawat Leon, suara wanita itu begitu jelas di dengar oleh Leon dan Gladys.
"Ada apa di luar?" Tanya Gladys yang melepaskan pelukan Leon lalu melangkah menuju ke pintu ruang rawat.
Pelan-pelan Gladys membuka pintu dan melihat keluar ruang rawat, dia melihat seorang suster yang sedang berdiri di samping pintu.
"Selamat siang Bu." Sapa suster.
"Selamat siang, ada apa yang sus?" Tanya Gladys.
"Oh tadi ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu Pak Leon, tapi sewaktu saya bertanya pada laki-laki itu, dia langsung pergi." Jawab suster itu.
"Laki-laki? Siapa yah?" Tanya Gladys heran.
__ADS_1
"Dia tinggi, putih, ganteng kek artia korea, pakaiannya rapi seperti orang kantoran gitu, matanya agak sipit." Jawab Suster yang menyebutkam ciri-ciri laki-laki yang dilihatnya tadi.
"Saya gak kenal tapi terimakasih yah Sus."
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Suster itu.
Gladys semakin heran di tambah bingung, pasalnya dia tidak bisa menebak siapa laki-laki yang memiliki ciri-ciri yang di katakan Suster itu.
Gladys mengangkat kedua bahunya dan menarik napas dalam lalu menghembuskannya tanda menyerah memikirkan siapa laki-laki itu. Dia lalu kembali masuk kedalam ruang rawat Leon.
"Ada apa Dys?" Tanya Leon.
"Kata Suster tadi katanya ada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu ruang rawat, tapi gak tau siapa."
"Siapa? Lagian ngapain dia berdiri di depan pintu?" Tanya Leon yang ikut bingung.
"Udah lah gak usah di pikirin. Lebih baik sekarang kamu makan siang dulu." Ujar Gladys yang membuka rantang yang di bawanya tadi.
"Wah kamu buat sop ayam yah, harum banget." Puji Leon begitu melihat isi rantang.
"Untungnya rantang yang saya pakai ada karetnya jadi kuah sopnya gak begitu banyak yang tumpah, saya juga bawa soy sauce yang sudah di campur dengan bawang putih cincang dan merica." Ujar Gladys yang memberikan sekotak kecil berisi soy sauce pada Leon.
"Terimakasih Dys, kamu memang paling tau selera makan saya."
"Sama-sama, sekarang makan gih mumpung masih hangat."
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣