Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #49


__ADS_3

Keesokannya


🎵 you, you love it how i move...


"Siapa sih yang nelpon pagi-pagi gini, gak tau apa orang masih ngantuk?" Maki Gladys.


Dengan mata masih tertutup, Gladys meraba meja di samping tempat tidurnya.


Tangannya telah memegang benda kecil yang terus berbunyi lalu dengan samar-samar dia menekan tombol hijau di layar hpnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Halo." Sapa Gladys dengan mata yag masih tertutup.


"Halo Gladys. Kamu sekarang ada dimana?" Tanya orang di seberang.


"Yah di rumahlah. Pagi-pagi gini mau kemana emang?" Ujar Gladys.


"Kalau gitu Tante jemput kamu yah. Kita jalan."


"Tante?" Batin Gladys heran. Dia lalu membuka matanya yang sedari tadi tertutup dan melihat kelayar hpnya yang hanya tertera angka-angka.


"Maaf ini siapa yah?" Tanya Gladys yang kini telah duduk di atas tempat tidurnya.


"Ini Tante Nana Dys." Jawab Nana.


"Sorry Tante. Saya gak tau kalau yang nelpon ternyata Tante Nana." Ujar Gladys terkejut.


"Gak papa. Kamu mau gak ke rumah Tante tapi kita belanja dulu gimana?" Tanya Nana.


"Iya Tante saya mau." Jawab Gladys cepat.


"Yah udah sejam lagi Tante jemput kamu yah."


"Iya Tante." Ujar Gladys.


Sambungan telepon terputus.


"Oh My God. Gladys bodoh bisa-bisanya kamu tadi gomong kek gitu ke Tante Nana." Gumam Gladys.


Dia segera bangun dari tempat tidurnya untuk siap-siap.


1 jam kemudian.


Hp yang di taruh Gladys di atas tempat tidur berbunyi.


🎵 you, you love it how i move...


Segera dia mengambil hp dan melihat ke layar hpnya yang tertulis Si Mr. Sok Perfect.


"Halo Kak Mika."

__ADS_1


"Saya udah di bawah." Ujar Mikael datar.


"Saya kebawah sekarang."


Sambungan telepon terputus.


Gladys segera mengambil tasnya dan bersiap ke bawah.


Di parkiran apertemennya terlihat jelas mobil Mikael yang terparkir.


Gladys segera menghampiri mobil Mikael.


"Loh kok cuman kamu sendiri? Tante Nana mana?" Tanya Gladys setelah melihat ke kursi belakang.


"Masuk aja dulu." Perintah Mikael.


Gladys segera menuruti perintah Mikael.


"Tante Nana mana?" Tanya Gladys lagi.


"Dia gak ikut. Dia dan papa harus ke bandara."


"Terus gapain Tante Nana ajak janjian?" Tanya Gladys heran.


"Tante Nana lupa kalau dia harus ke bandara." Jawab Mikael.


Mikael yang melihatnya segera memegang tangan Gladys untuk menahan wanita itu keluar dari mobilnya.


"Tante Nana bukannya pergi naik pesawat tapi dia pergi ke bandara untuk menjemput keponakan saya. Kamu mengerti?" Ujar Mikael yang menekan kata kamu mengerti.


Gladys menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya. "Ngomong dari tadi kek." Ujar Gladys geram.


"Pakai seatbelt kamu." Perintah Mikael.


Kini Mikael telah melajukan mobilnya ke jalan raya dan berhenti di parkiran salah satu supermarket terbesar di Ibu Kota.


"Ini list yang Tante Nana suruh beli. Kamu aja yang pegang. Saya gak ngerti." Ujar Mikael sembari memberikan Gladys selembar kertas.


"Banyak juga yang Tante Nana ingin beli." Ujar Gladys sambil melihat isi kertas yang diberikan Mikael.


Mikael dan Gladys kini melangkah menuju ke supermarket.


"Kak Mika kita ke bagian tepung-tepungan dulu." Ujar Gladys.


"Emang bagian tepung-tepungan sebelah mana?" Tanya Mikael.


"Loh bukannya Kak Mika tau. Jadi saya tinggal bilang aja mau ke bagian mana dan Kak Mika yang nunjukkin."


"Gak tau. Saya jarang banget ke supermarket."

__ADS_1


"Ini juga kalau bukan karena kamu malas banget temenin perempuan belanja." Gumam Mikael dalam hati.


Gladys terpaksa mencari sendiri barang-barang yang ingin di belinya serta list belanjaan dari Nana. sementara Mikael mendorong trolli dan mengikuti langkah Gladys.


Mereka melewati rak yang berisikan buah-buahan segar.


"Kita beli mangga yah." Ujar Mikael sembari melihat mangga yang kini berada di depan mereka.


"Silahkan mangganya. Manis loh." Ujar pramuniaga


Gladys mengambil sepotong mangga dari piring sebagai tester dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Beneran manis." Ujar Gladys lalu mengambil sepotong mangga lagi dan memasukkannya ke mulut Mikael.


"Gimana?" tanya Gladys.


"Manis." Sahut Mikael.


"Kelihatannya Pamannya suka Dek." Ujar pramuniaga.


"Dia pacar saya, bukan keponakan saya." Ujar Mikael yang geram mendengat ucapan pramuniaga.


"Maaf Pak." Ujar Pramuniaga yang merasa bersalah .


Gladys yang mendengarnya merasa lucu dan ingin tertawa terbahak-bahak tapi di tahannya. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian para pengunjung supermarket.


"Kita gak usah beli. Jalan." Perintah Mikael.


Gladys yang sedaritadi menutup mulutnya dengan tangannya hanya mengikuti perintah Mikael.


"Berhenti tertawa." Ujar Mikael yang melihat Gladys berusaha menahan tawanya.


"Masih untung Kak Mika di kira Paman saya daripada di kira cucu sama kakek. Kan lebih parah." Ujar Gladys yang sudah tidak dapat menahan tawanya setelah melihat sekeliling yang tampak tidak ada orang.


Mikael yang melihat Gladys tertawa lepas merasa senang, dia seakan terpukau dengan kecantikan dimiliki Gladys dan tanpa sadar dia membentuk senyum lebar di bibirnya.


"Kamu sepertinya senang banget?" Tanya Mikael.


"Sorry sorry Kak Mika. Habisnya lucu banget." Ujar Gladys setelah tawanya mulai mereda.


***


Selesai berbelanja, Mikael memasukkan semua belanjaan mereka ke dalam mobil.


"Udah gak ada lagi kan yang mau dibeli?" Tanya Mikael saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Kalau bahan-bahan buat cup cake udah lengkap. Tunggu saya lihat lagi list belanjaan Tante Nana, siapa tau masih ada yang ketinggalan." Ujar Gladys lalu melihat list belanjaan yang sudah di centangnya.


"Udah lengkap kok." Lanjut Gladys.

__ADS_1


__ADS_2