
Terpaksa Gladys kembali ke ruang fitting untuk mengganti dress lainnya.
Nana hanya tersenyum melihat anak sambungnya yang protektif pada Gladys. Nana tau kalau Mikael tidak suka melihat wanita yang di sayangnya memakai pakaian yang terlalu terbuka karena Winjaya juga seperti itu padanya.
Gladys yang hendak masuk ke dalam ruang fitting melihat sebuah gantungan kunci berbahan kayu yang berbentuk kepingan puzzle terjatuh di lantai.
"Mbak Gladys." Panggil Susi.
"Iya." Jawab Gladys lalu melangkah menuju ruang fitting.
***
Tidak menunggu lama Gladys telah kembali, dia memakai halter dress diatas lutut yang berbahan jersey polos berwarna hitam.
"Gimana?" Tanya Gladys.
Mereka bertiga setuju dengan dress yang di pakai Gladys.
Karena terlihat polos Hani menambahkan belt rantai mutiara putih pada pinggang Gladys. Hani juga menambahkan anting berbentuk love, handbag berwarna putih mutiara serta wedges berwarna hitam, sedangkan rambut Gladys dibiarkan terurai.
Mikael yang melihat penampilan Gladys nampak terpukau.
"Kak Mika." Panggil Gladys yang membuat Mikael kembali tersadar.
"aah... Kenapa?"
"Kak Mika gak ganti pakaian?" Tanya Gladys yang melihat Mikael masih memakai jas kantornya.
"Saya tinggal ganti kemeja aja."
Setelah semuanya selesai dan siap.
"Tante Hani terimakasih untuk stylenya." Ujar Gladys senang.
"Sama-sama." Balas Hani.
"Gladys hari sabtu nanti kamu ada rencana gak?" Tanya Nana.
"Sabtu... Seperti belum ada Tante."
"Gimana kalau hari sabtu nanti kamu main ke rumah, sekalian ajarin tante buat cup cake."
Gladys menyetujui permintaan Nana.
Merekapun berpamitan kepada Nana dan Hani.
Di dalam mobil, Gladys melihat jam tangan yang di pakainya yang menunjukkan jam 5.45.
"Kak Mika apa restorannya dekat dari sini? Sekarang sudah hampir jam 6 loh." Tanya Gladys yang mengeluarkan peralatan make upnya dari tas kantornya.
Isi tas yang selalu dibawa Gladys kemana pun memang tidak pernah alpa dari BB cream, pensil alis dan lip tint. Gladys selalucmembawa tiga inti peralatan make up nya itu buat jaga-jaga jika di butuhkan seperti saat ini.
__ADS_1
"Gak begitu jauh mungkin 30 menit kalau tidak macet. Lagian gak perlu ontime juga, paling mereka jam karet." Jawab Mikael sambil melirik sebentar ke arah Gladys.
"Kamu lagi gapain?" Tanyanya.
"Lagi kerapihin make up aja." Jawab Gladys sembari memakai lip tint ke bibirnya.
"Gapain di rapihin sih? Lagian mau di apain aja kamu tetap aja jelek." Ledek Mikael.
"Kamu mau di apain aja tetap aja cantik." Ujar Mikael dalam hati.
Gladys menatap kesal ke arah Mikael.
"Pak Mika daritadi menyebelin banget tau gak." Ujar Gladys kesal.
Selesai dengan lip tintnya Gladys menyimpan peralatan make upnya dan menaruh tas kantornya di kursi belakang.
Gladys menatap ke luar jendela mobil dengan perasaan kesal.
Setelah 50 menit perjalanan mobil Mikael telah memasuki area parkir restoran.
Mereka lalu keluar dari mobil menuju ke restoran.
"Selamat malam tuan dan nona. Reservasi atas nama siapa?" Tanya pelayan dengan ramah.
"Atas nama Tito." Jawab Mikael.
"Hai Mika." Sapa Gilang yang baru saja tiba.
"Apa-apaan ekspresinya itu." Batin Mikael kesal.
"Kamu kok mau sih di ajak Mikael? Tapi ngomong-ngomong kamu malam ini cantik banget." Goda Gilang.
"Terimakasih Kak Gilang. Kak Gilang juga ganteng malam ini." Balas Gladys gak mau kalah.
Mikael di buat kesal melihat Gladys dan Gilang yang saling memuji.
"Jelas aja Gladys mau, dia kan pacar saya." Ujar Mikael kesal lalu memegang telapak tangan Gladys.
Gilang hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Mereka bertiga malangkah menuju ke ruang Vvip yang telah di pesan Tito.
Pelayan yang mengantar mereka ke ruang Vvip membukakan mereka pintu.
"Hai bro." Sapa Tito begitu melihat Gilang dan Mikael.
"Akhirnya kamu mau datang juga." Ujar Joni.
"Siapa nih? Cantik juga." Yanya Tito, kini pandangannya beralih pada Gladys.
"Namanya Gladys, dia pacar saya." Ujar Mikael.
__ADS_1
"Widih sekarang Mika udah punya pacar aja. Kamu kapan Gilang?" Ledek Joni.
"Kapan-kapan." Balas Gilang bete.
"Duduk yuk. Berdiri aja." Ujar Tito.
Belum sempat Mereka duduk, pintu kembali terbuka.
"Hai semua, sorry telat. Jalanan macet parah." Ujar wanita yang baru saja masuk.
"Memangnya sejak kapan seorang Marsha datangnya gak telat. Sudah dari jaman kuliah kali." Ledek Gilang.
"Princess emang gitu, datangnya selalu belakangan." Canda Tito.
"Iya dong." Ujar Marsha yang menganggap candaan Tito sebagai pujian. Dia lalu melihat ke arah Mikael.
"Mika. Tumben banget kamu datang." Ujar Marsha terkejut. Dia lalu berdiri di samping Mikael dan mengandeng tangan Mikael, kepalanya pun di sandarkan di bahu Mikael
Gladys terkejut melihat tingkah Marsha yang tiba-tiba mengandeng tangan Mikael. Dia terus melihat ke arah Marsha keheranan.
Mereka pun duduk. Marsha sengaja menyuruh Joni untuk pindah kursi agar dia duduk di samping Mikael.
"Kamu kok gak bilang kalau mau datang? Kalau tau gitu kan saya bisa dandan lebih cantik lagi." Ujar Marsha dengan gaya centil yang membuat Mikael menjadi risih.
"Marsha kenalin Gladys, dia pacar saya." Ujar Mikael.
"Hai Mbak Marsha." Ujar Gladys sambil menjulurkan tangannya.
"Mbak Mbak, enak aja panggil saya Mbak. Emang saya kelihatan kayak mbak mbak apa?" Bentak Marsha kesal. Bukannya membalas uluran tangan Galdys, Marsha malah melihat sinis pada Gladys lalu memandangi wajah Mikael sambil tersenyum centil.
"Baru juga kenalan tapi udah resek." Ujar Gladys dalam hati
Mikael sengaja memperkenalkan Gladys kepada Marsha agar Marsha bisa menjaga jarak darinya. Tapi sia-sia Marsha malah mengeser kursinya agar lebih dekat dengan Mikael tapi Mikael malah menggeser kursinya menjauh dari Marsha dan memjadi dekat pada Gladys.
"Kamu kenapa menjauh sih?" Tanya Marsha.
"Kenapa kamu semakin mendekat?" Tanya Mikael balik.
"Kapan kamu mau membuka hati kamu sih buat saya?" Tanya Marsha lagi.
"Gak akan pernah." Jawab Mikael singkat.
Mendengar jawaban Mikael, Marsha di buat kesal.
Gladys yang mendengarnya tertawa kecil di samping Mikael.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...