Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #35


__ADS_3

"Kamu kenapa bilang begitu?" Tanya Mikael.


"Kak Mika ingat gak tadi waktu Mbak Marsha ambilin saya orange jus? Kak Gilang berbisik ke saya dan menyuruh saya berhati-hati. Makanya ketika Mbak Marsha memberikan gelas yang di tangan kanannya, saya malah memilih gelas yang ada di tangan kirinya. Dan untung aja saya tidak meminum orange jus yang diberikan Mbak Marsha. Kalau gak saya tuh tadi yang malu di depan teman-teman kak Mika." Jelas Gladys.


"Jadi itu yang kalian bahas saat kamu dekat dengan Gilang tadi?" Tanya Mikael yang melonggarkan genggaman tangannya pada stir mobil.


"Iya memangnya bahas apalagi. Tapi untung banget tadi ada kak Gilang." Ujar Gladys.


Kini mobil Mikael telah terparkir di depan lobby apertemen Gladys.


"Terimakasih sudah anterin pulang." Ujar Gladys lalu mengambil barang-barangnya di kursi belakang dan membuka pintu mobil Mikael.


Tangan gladys di tahan oleh Mikael.


"Lain kali kamu gak usah berurusan dengan Marsha lagi, lebih baik kamu menghindar saja." Ujar Mikael.


Gladys yang mendengarnya ingin membantah perkataan Mikael tapi Mikael sudah lebih dulu berbicara.


"Kamu bisa keluar sekarang."


Gladys keluar dari mobil Mikael dan langsung menuju ke apertemennya.


Setibanya dia membuka sepatunya dan duduk di sofa empuk miliknya.


"Yah kali saya harus diam aja gitu di hina sama orang baru di kenal." Gumamnya.


Gladys mengeluarkan pakaian kantornya dari paperbag dan menaruhnya ke keranjang pakaian kotor lalu masuk ke dalam kamarnya.


Saat hendak menggantung tas kantornya sebuah gantungan kunci terjatuh dari tasnya.


"Inikan gantungan kunci yang di butik tadi. Kok bisa ada disini?" Gumam Gladys. Gladys kembali mengingat jika gantungan kunci yang di dapatnya tadi di taruhnya di gantungan baju yang terdapat di ruang fitting.


Gladys lalu mengambil gantungan kunci itu "Gantungan kunci ini.... Mirip....." Ucapan Gladys menggantung, dia mengingat sesuatu.


Gladys mengeluarkan kotak yang di simpannya di atas lemari pakaiannya.


Kotak itu berisikan barang-barang kenangan Gladys dan juga barang-barang milik mamanya yang tidak di bawa pergi oleh mamanya.


Dia mengambil gantungan kunci dari dalam kotak dan menyambungkannya dengan gantungan kunci yang di dapatnya dari butik. Dia juga melihat inisial yang terdapat dibalik gantungan kunci itu.


"Yah Tuhan" Gumam Gladys kini air matanya mulai membasahi pipinya, dia benar-benar syok dengan apa yang di lihatnya.

__ADS_1


Flashback On


"Mama lihat gambaran Adys." Ujar Gladys kecil sambil menunjukkan hasil gambarannya pada mamanya.


Anne lalu mengambil kertas yang diberikan Gladys dan melihat hasil gambaran putrinya.


"Anak Mama sekarang udah bertambah pintar, udah bisa gambar Mama, Papa dan Adys." Puji Anne.


Anne memang memanggil putrinya dengan nama Adys.


Gladys kecil yang mendengarnya tersenyum bangga pada dirinya.


"Adys berharap kita semua akan selalu bersama dan hidup bahagai selaaama-lamaaanya." Ujar Gladys senang dengan memperpanjang pengucapan kata selama-lamanya


Anne tersenyum senang mendengar ucapan putrinya. Namun terselip perasaan sedih yang dirasakan Anne.


"Sayang, ini untuk kamu. Satu untuk mama satu untuk Adys." Ujar Anne sambari memberikan gantungan kunci kayu berbentuk puzzle buatannya yang baru saja selesai ia buat.


Anne memang suka memahat tapi ini kali pertamanya membuat gantungan kunci khusus untuk putrinya. Dia berharap agar putrinya selalu mengingatnya ketika putrinya menggantungkan gantungan kunci pemberiannya di barang yang selalu di bawa putrinya kemanapun.


"Gantungan kunci bentuk puzzle. Adys suka." Ujar Gladys kecil kegirangan.


Anne lalu mencium kening putrinya.


"Adys gak ngerti mama bilang apa?" Tanya Gladys kecil bingung.


Anne kembali tersenyum melihat kepolosan putrinya.


Flashback Off


Gladys meneteskan air matanya melihat ke dua kepingan puzzle di tangannya.


"Apa ini titik terang dari Tuhan untuk saya bisa menemukan mama?" Gumam Gladys dengan suara serak lalu menaruh kedua kepingan puzzle itu ke dadanya. "Adys rindu dengan Mama" Gumamnya lagi.


Keesokannya


05.30


dring dring dring....


Setengah sadar Gladys, menekan tombol jam weker yang terletek di meja nakas samping tempat tidurnya.

__ADS_1


Kini dia tengah duduk di tempat tidur dengan menyandarkan badannya di sandaran tempat tidur. Tanpa sengaja Gladys memegang sesuatu, dia lalu melihatnya dan ternyata dia meniduri gantungan kunci puzzle semalaman.


"Untungnya gantungan kuncinya gak rusak dan saya harus menemukan mama dengan gantungan kunci ini." Gumam Gladys.


Dia lalu berdiri dari tempat tidur dan menyimpan gantungan kunci tadi ke dalam tas kantornya untuk memudahkannya jika nanti dia menemukan petunjuk pemilik gantungan kunci itu.


Gladys bersiap untuk ke kantor


Setelah selesai dia berjalan kaki menuju ke minimarket dekat apertemennya.


Saat hendak memesan ojol, ada sebuah mobil Lexus LC berwarna merah yang berhenti tepat di depan Gladys berdiri.


Gladys mengalihkan pandangannya dari hp ke mobil di depannya.


"Hai Gladys." Sapa laki-laki yang baru saja keluar dari mobil.


"Hai Kak Aaron." Sapa Gladys balik


"Kamu mau ke kantor juga kan?" Tanya Aaron yang berjalan menghampiri Gladys.


"Iya Kak." Jawab Gladys.


Aaron membukakan pintu mobil untuk Gladys lalu tersenyum.


"Gak usah kak Aaron biar saya naik ojol aja." Tolak Gladys.


"Masa wanita secantik kamu saya biarkan menunggu di pinggir jalan gini. Gak mungkin dong." Gombal Aaron.


"Gak papa Kak, biar saya naik ojol aja."


"Gak ada penolakan. Sekarang masuk." Ujar Aaron.


Dengan terpaksa Gladys menuruti keinginan Aaron.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2