Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #93


__ADS_3

"Saya dan Kak Mika sebenarnya gak pacaran beneran, ada kontrak perjanjian di antara kami." Ujar Gladys dengan senyum di paksakan, entah sejak kapan wanita itu merasa tidak suka ketika mengingat surat perjanjian itu.


"Maksud kamu... kamu pacar kontrak Pak Mika?" Tanya Mira yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Gladys menjawabnya dengan anggukan kepala. "Tapi semua itu karena waktu itu saya lagi membutuhkan uang lebih dan Kak Mika membutuhkan wanita untuk di jadikan pacar pura-puranya agar orang tuanya tidak menjodohkannya lagi." Jelas Gladys yang tidak ingin di salah pahami Mira.


"Kamu gila Dys, gak seharusnya kamu mau jadi pacar pura-pura orang lain." Ujar Mira yang tidak menyangka sahabatnya itu mau melakukan hal seperti itu.


"Kamu dengar dulu. Waktu itu saya butuh biaya perawatan untuk pacar saya Leon, dia koma. Dia di tabrak mobil karena menolong saya. Di tambah lagi mamanya yang mengatakan kalau saya wanita pembawa sial untuk Leon." Gladys menceritakan semua yang di alaminya dan butiran bening mulai membasahi pipinya.


Gladys bahkan menceritakan tentang keluarganya di Korea hingga Gilang yang selalu membantunya mencari tau keberadaan mamanya.


Semua telah Gladys beritahukan pada Mira hingga membuat wanita itu beringsut ke samping Gladys, dia memeluk erat wanita cantik di sampingnya berusaha membuat Gladys lebih tegar menghadapi segala lika-liku kehidupannya dan seketika itu juga segala pikirannya yang beranggapan jika Gladys telah hidup bahagia dengan segala kemewahan sirnah dari pikirannya.


Mira sempat mendapat kabar dari teman kuliahnya yang dulu teman sekolah dengan dirinya dan Gladys bahwa Papa Gladys telah menikah dengan wanita kaya raya di Korea. Entah orang itu mendapat kabar darimana tapi Mira percaya dengan kabar itu.


"Kamu harus ingat kalau saya akan selalu mendukung kamu, selalu ada untuk kamu kapanpun itu." Ujar Mira sambil menghapus air matanya.


"Terimakasih Ra, kamu bahkan sampai nangis dengar cerita saya."


"Iya sama-sama. Saya sayang kamu Dys." Ujar Mira. "Tapi Dys kapan-kapan saya boleh yah main di apertemen kamu?" Lanjut Mira.


"Gak perlu saya jawab, kamu udah tau jawabannya." Gladys tersenyum melihat wajah Mira yang seakan merengek padanya sambil memeluk.


Bay the way bagaimana kabar Tante Mar sekarang?" Tanya Gladys.


"Mama udah meninggal 2 tahun lalu dan disusul papa 1 tahun kemudian." Jawab Mira berusaha tegar.


"Maaf Ra saya gak tau..."


"Iya gak papa, sekarang saya tinggal sebatangkara orang tua gak ada saudara gak ada." Potong Mira.


"Sekarang kamu udah punya saudara kok, kalau kamu mau saudaraan dengan saya." Ujar Gladys yang memeluk Mira.


"Tentu saja Kak Gladys."


"Kok Kak?"


"Kamu kan tua bulan dari saya. Itu artinya kamu lebih tua dari saya."


"Saya jadi merasa mendadak jadi tua banget dari kamu." Canda Gladys yang membuat mereka tertawa kecil.

__ADS_1


Mereka melanjutkan percakapan mereka, sesekali mereka tertawa lepas ketika mengingat kenangan yang menurut mereka lucu.


***


Apertemen Sky Garden


Pagi-pagi sekali Mikael telah terbangun untuk melakukan aktivitas paginya, Ia sedang berolahraga di ruang Gym pribadinya. Hari ini laki-laki tampan itu tidak ada niat untuk menjemput Gladys, dia masih merasa sedikit kesal dengan Gladys yang tidak menuruti permintaannya.


Selesai berolah raga Mikael bersiap untuk ke kantor. Saat dirinya sedang menikmati sarapan pagi yang telah di siapkan Bi Jum, dia teringat dengan Gladys.


"Sepertinya bakalan susah membuat wanita kepala batu itu untuk pindah ke unit apertemen Sky-2002 dan Teddy gagal membuat Gladys pindah. Saya harua segera memikirkan caranya." Batin Mikael gusar.


"Ada apa Tuan.?" Tanya Bi Jum yanh sesang memperhatikan majikannya.


"Oh iya Tuan, pagi tadi saat Bibi melewati apertemen sebelah. Bibi melihat pintu apertememnya terbuka."


"Pak Noh kali Bi nyuruh orang ngerbersihin kek biasa." Tebak Mikael.


"Gak Tuan, bibi tau kok suara orang suruhan Pak Noh tapi ini suaranya beda ketika mereka bercakap."


Mikael di buat penasaran dengan ucapan Bi Jum. Belum selesai dia menikmati sarapannya, laki-laki itu memutuskan untuk keluar mengecek yang di katakan oleh Bi Jum.


"Mira." Panggil Mikael yang terkejut melihat keberadaan Mira yang sedang duduk mengeluarkan barang dari dalam kardus di ruang tamu.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Mikael ragu.


"Mira kamu lama banget sih?" Teriak seseorang laki-laki yang entah dimana keberadaannya karena hanya terdengar suaranya saja.


"Sabar napa, ini lagi di bongkar juga kardusnya." Protes Mira.


"Kak ada tamu." Teriak Mira lalu meninggalkan Bossnya tanpa menjawab pertanyaan Mikael.


"Kakak?" Mikael semakin heran.


Sejak kapan dia mengizinkan orang lain untuk tinggal di unit apertemennya ini, dia hanya ingin Gladys tinggal di sini. Tapi ada orang lain yang di panggil Mira tadi sebutan kakak. Pikir Mikael. Dia merasa kesal.


"Mira bereskan semua barang-barang ini, sejak kapan saya mengizinkan kakak kamu tinggal di..." Ucapan Mikael terhenti ketika melihat seseorang keluar dari kamar utama.


"Kenapa? Apa sekarang Kak Mika berubah pikiran dn tidak ingin saya menyewa apertemen ini lagi?" Tanya wanita itu.


"Enggak." Mikael ikut menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia seakan tidak percaya siapa wanita yang sedang di lihatnya sekarang.

__ADS_1


"Jadi orang yang di panggil Mira dengan sebutan kakak tadi adalah kamu?" Tanya Mikael.


"Tadi Mira hanya bercanda memanggil saya dengan sebutan Kakak." Jawab Gladys yang menghampiri Bossnya.


"Saya pikir kamu gak mau sewa apertemen ini." Ujar Mikael yang sudah terlihat lebih santai.


"Awalnya sih iya, tapi saya sudah tidak ada pilihan lain."


Mikael merasa legah sekaligus senang karena ternyata Gladys mau tinggal di apertemen ini. Tanpa sadar dia membawa Gladys ke dalam pelukannya saking senangnya. Dan apa yang di lakukan oleh Mikael tentu saja membuat Gladys sontak terkejut.


Terlihat dengan jelas kalau laki-laki tampan itu sangat senang, karena dia hampir menyerah dengan Gladys.


"Apa segitu senangnya Kak Mika, sampai memeluk saya sebegini erat?" Tanya Gladys yang hanya dapat pasrah berada di oelukan Mikael dan tubuh Mikael yang lebih tinggi dari gladys membuat wanita itu harus membuat kepalanya mendongak keatas di bahu Mikael.


"Iya saya senang kamu bisa selalu ada di sisi saya." Ucap Mikael tanpa sadar.


"Kak Mika bilang apa? Selalu di sisi Kak Mika?" Tanya Gladys memastikan apakah pendengaran tidak lagi bermasalah.


Mikael sontak melepas pelukannya pada Gladys dan menbuatnya menjadi salah tingkah.


Tanpa mereka sadari dua pasang mata sedang memperhatikan mereka dari balik pilar di meja makan.


"Saya gak bilang gitu, tadi itu... saya...saya hanya merasa senang karena udah punya tetangga jadi gak sepi lagi." Ujar Mikael yang me dadak gagap dan hanya kebohongan itu yang dapat keluar dari mulutnya.


"Bukannya Kak Mika gak suka punya tetangga karena takut nanti berisik, kenapa sekarang jadi suka?" Tanya Gladys yang lebih terlihat meledek.


"Iya karenaaa..... karena itu kamu." Ujar Mikael yabg sedetik kemudian menyesali ucapannya. "Udah ah saya mau melanjutkan sarapan yang tertunda karena kamu." Lanjutnya dingin.


Laki-laki tampan itu dengan cepat telah menghilang dari pandangan Gladys.


.


.


.


Bersambung...


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2