
Gladys melangkah menuju ke mobil Mikael untuk mengeluarkan semua barang-barang bawaannya dari apertemen Sunrise.
Melihat tidak ada pergerakan dari Mikael untuk membantunya memindahkan barang-barangnya ke rumah kontrakan Mira. "Kak Mika kok diam aja sih, bukannya bantuin." Protes Gladys.
"Pindahin aja sendiri, saya kan udah bilang gak setuju kamu pindah." Balas Mikael.
"Kak Mika tenang aja, saya akan baik-baik saja di sini. Saya hanya gak mau aja merepotkan Kak Mika terus, lagian kalau nanti saya sudah dapat tempat tinggal yang murah saya bakalan pindah." Ujar Gladys lalu mendorong kopernya masuk ke dalam rumah.
"Lagian saya juga takut jika semakin lama saya tinggal di apertemen kamu, saya jadi tidak bisa membedakan mana yang sungguhan dan tidak karena perlakuan kamu yang perhatian sama saya." Lirih Gladys dalam hati.
"Ini mau ditaruh dimana?" Tanya Mikael sambil menenteng dua dus barang Gladys.
"Taruh aja di sini."Ujar Gladys setelah meletakkan kopernya di dalam kamar, yang di yakini Gladys adalah kamar Mira.
"Kamu bawa apaan sih? Berat banget"
"Itu Buku-buku." Jawab Gladys.
"Tapi sepertinya kamu gak bawah semua boneka kamu yah? Dikit banget di dalam kresek."
"Iya. Boneka pemberian Leon saya tinggal di apertemen sama barang-barang lainnya."
"Bagus lah kalau begitu." Ujar Mikael yang merasa sedikit legah mendengar Gladys sepertinya akan melupakan Leon.
Barang-barang bawaan Gladys telah terpindahkankan semua ke rumah kontrakan Mira yang berukuran minimalis, hanya terdapat 2 kamar.
"Barang kamu udah gak ada di mobil." Ujar Mikael lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Baru pindah yah?" Tanya seorang pemuda yang baru saja akan melewati rumah kontrakan Mira.
"Iya, saya hanya numpang sementara. Saya temannya Mira, kebetulan temannya lagi dinas keluar kota." Jawab Gladys ramah.
"Pantesan Ella gak kelihatan dari kemarin rupanya dia lagi keluar kota. Oh iya kenalin saya Dion, tetangga sebelah." Ujar Dion sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Saya Gladys." Ujar Gladys yang menjabat tangan Dion.
"Yah sudah kalau begitu saya pamit dulu yah, mau ke warung beli mie instan." Pamit Dion
Gladys meresponnya dengan senyuman.
"Mari Paman." Ujar Dion saat berpamitan pada Mikael lalu meninggalkan mereka berdua.
"Dia bilang apa tadi? Paman?" Mikael merasa geram mendengar dirinyabl yang di panggil paman oleh pemuda yang baru di lihatnya.
Gladys tersenyum mengejek mendengar Mikael yang tidak terima di panggil Paman oleh pemuda yang umurnya mungkin lebih muda dari Gladys.
"Udah Kak Mika gak usah marah, mungkin dia lagi bingung mau panggil apa. Mau panggil kakak tapi udah kelihatan tua, jadi sekalian aja panggil Paman." Ledek Gladys.
"Emang saya udah kelihatan tua banget yah?" Tanya Mikael.
"Pokoknya saya gak mau tau kamu jangan deket-deket sama orang tadi, dia orangnya nyebelin."
"Tenang tenang jangan marah-marah nanti tuanya tambah kelihatan loh." Ledek Gladys lagi.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" Tanya Mikael lalu berdiri dari kursinya dan mendekatkan telinganya pada Gladys.
"Paman jangan marah-marah, nanti tambah tua loh"
Mikael langsung menggelitik pinggang Gladys yang membuat wanita itu spontan tertawa kegelian.
"Kak Mika geli" Teriak Gladys yang berusaha menahan tangan Mikael agar tidak mengelitik pinggangnya lagi. pekarangan rumah yang kecil membuat ruang gerak Gladys memjadi terbatas.
"Minta maaf gak."
"Iya iya iya maaf maaf." Ujar Gladys di sela tawanya.
Mikael langsung berhenti menggelitik Gladys saat mendengar wanita itu meminta maaf padanya. Dia benar-benar merasa senang melihat Gladys bisa tertawa lepas.
Gladys menundukkan badannya berusaha mengatur napasnya akibat tertawa tadi dan membuat dadanya menjadi kembang kempes. Setelah di rasa napasnya mulai normal Gladys kembali berdiri tegak.
"Gimana olahraga tawanya? Baguskan?" Ledek Mikael.
"Bagus apa aja, bikin sesek napas"
"Masih mau?" Canda Mikael yang melangkah mendekati Gladys. Sementara Gladys yang melihat Mikael yang akan mengelitiknya lagi langsung melangkah mundur untuk menghindarinya. Tapi tiba-tiba saja kaki Gladys menginjak batu besar di belakangnya dan membuatnya akan terjatuh.
Mikael yang melihatnya dengan sigap langsung menarik Gladys kepelukannya daaaannn....
Deg..
Mata Mikael dan Gladys langsung berpapasan. Mereka saling memandang satu sama lain dan membuat jantung mereka yang berdetak kencang.
"Permisi, selamat sore menjelang malam." Sapa seseorang ketika melihat adengan romantis mereka berdua.
"Mira, kamu bikin kaget saja. Saya kira siapa tadi." Ujar Gladys.
"Maaf udah mengganggu waktu kalian, kalau begitu silahkan di lanjutin. Saya permisi mau masuk dulu." Pamit Mira sambil menahan tawanya melihat ekspresi Bossnya yang mendadak menegang karena melihatnya.
"Mira sudah datang, kalau begitu saya pergi dulu." Pamit Mikael.
Saat dia akan melangkah menuju ke mobilnya, tiba-tiba ia berbalik ke arah Gladys yang berada di belakangnya.
"Kamu harus ingat, jika terjadi...."
"Jika terjadi sesuatu di rumah kontrakan Mira segera telepon Kak Mika. Kapanpun itu, hp harus selalu stand by di samping saya." Potong Gladys.
"Anak pintar." Ledek Mikael.
"Kak Mika udah berapa kali ucapin kalimat itu. sejak di jalan, di rumah Mira bahkan mau pergi pun." Ujar Gladys yang mengingatkan Mikael.
Mikael tersenyum senang melihat Gladys.
"Ya sudah saya pergi."
Setelalah mobil Mikael pergi, Gladys langsung masuk ke dalam rumah Mira.
"Hem hem hem...."
__ADS_1
"Mira kamu ini bikin kaget saja, tiba-tiba berdiri di samping pintu." Ujar Gladys.
"Gimana rasanya pacaran sama Pak Mika?"
"Biasa-biasa aja. Saya tidur di kamar kamu kan?" Tanya Gladys memastikan.
"Iya, saya yang tidur di kamar Ella. Tapi seandainya aja kamar di rumah kontrakan ini besar kamu bisa tinggal seterusnya di sini. Sayangnya hanya muat untuk satu orang"
"Iya. Apalagi perempuannya kayak kamu yang banyak pernak-perniknya." Canda Gladys.
"Saya mandi dulu yah" Ujar Gladys.
***
Di perjalanan pulang, Mikael terus tersenyum mengingat kejadian di teras rumah kontrakan Mira. Baru kali ini dia melihat Gladys yang tertawa lepas di hadapannya.
Mikael terus bersenandung mengikuti irama musik yang di putarnya di dalam mobil.
Kini Mikael telah tiba di lantai unit apertemennya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melewati satu unit apertemen kosong. Mikael memikirkan sesuatu.
"Permisi Tuan." Ujar Bi Jum saat keluar dari apertemen Mikael.
"BI Jum udah mau pulang?" Tanya Mikael yang melihat melihat Bi Jum membawa tas kecil berisikan pakaiannya.
"Iya Tuan. Non Gladys kan udah tidak tinggal di apertemen Tuan. Saya juga sudah membersihkan apertemen Tuan."
"Terimakasih yah Bi Jum. Oh iya ini pesangon tambahan karena Bi Jum udah mau bantuin jaga Gladys." Ujar Mikael lalu memeberikan sejumlah uang berwarna merah pada Bi Jum.
"Apa gak kebanyakan ini Tuan?" Tanya Bi Jum setelah menerima beberapa lembar kertas merah di tangan.
"Gak papa. Sebagai tanda terimakasih saya juga."
"Terimakasih banyak yah Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu"
"Hati-hati di jalan yah Bi."
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣