
Gladys yang duduk di samping kemudi, merasa heran dan menatap Mikael seakan meminta jawaban, kenapa mobil Mikael tidak di berhenti di depan lobby apertemennya. Namun Mikael yang memang tidak melihat ke arahnya hanya diam saja.
Mikael melepas seatbeltnya lalu hendak turun dari mobil. Namun dia menghentikan aktivitasnya setelah menyadari Gladys yang sedang menatap kearahnya.
"Katanya kamu mau ke apertemen kamu? Kenapa sekarang tidak turun?" Tanya Mikael sinis.
"Ah iya Kak saya turun sekarang." Ujar Gladuys yang terhenyak mendengar ucapan laki-laki itu.
Mereka melangkah menuju ke lift dan kelantai 18, lantai unit apertement Gladys.
Setelah membuka kunci unit apertemennya, langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat melihat kamar yang seharusnya di pakai Leon terbuka.
"Apa dia sedang berada di dalam kamarnya?" Tanya Gladys dalam hati.
Dengan Perasaan ragu Gladys melangkah mendekati kamar itu. Setelah melihat ke dalam ruangan, matanya di suguhkan dengan kamar yang kosong yang hanya terisi tempat tidur, lemari, meja dan kursi.
"Apa dia benar-benar akan mengakhirinya? Dia bahkan telah mengambil seluruh barang-barangnya tanpa mengatakan apapun." Lirih Gladys dalam hati.
"Kamar ini kembali seperti semula saat pertama kali kita berdua menginjakkan kaki di unit apertemen ini." Gumam Gladys.
Cairan bening kembali tergenang di kedua mata Gladys, namun dengan cepat dia menghapusnya. Sebelum cairan itu keluar dari tempatnya dan membasahi pipinya.
Sementara Mikael menatap sekeliling setiap sudut ruang tamu, tatapannya berhenti pada sebuah foto yang terpajang di atas Tv di ruang tamu.
Dia mengambil foto itu dan mengeluarkannya dari bingkai foto.
"Sekarang semuanya telah selesai begitupun dengan foto ini. Foto kalian berdua yang sudah tidak seharusnya di pajang lagi." Ujar Mikael dalam hati lalu merobek foto itu menjadi berkeping-keping.
"Kamu gapain Kak Mika?" Tanya Gladys yang tiba-tiba saja muncul di samping Mikael dan membuatnya terkejut.
Robekan foto itu langsung di simpan Mikael ke saku celananya.
"Saya hanya sedang lihat-lihat saja." Kelit Mikael dan mengarahkan pandangannya ke sembarang tempat seakan dia memang sedang memeprhatikan isi ruangan.
Gladys mengangkat alisnya, dia tidak perduli jika laki-laki itu sedang berbohong. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
"Apa laki-laki brengsek itu sering kemari?" Tanya Mikael tiba-tiba yang membuat langkah Gladys kembali terhenti.
"Laki-laki brengsek siapa?" Tanya Gladys balik.
__ADS_1
Mikael menghela nafas panjang. "Siapa lagi kalau bukan si Leon brengsek itu." Ujar Mikael yang terpaksa menyebut nama Leon.
"Sebelumnya saya minta maaf sama Kak Mika karena melanggar perjanjian kita." Ujar Gladys yang memghentikan kalimatnya lalu duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sampingnya berdiri. "Jika kecelakaan itu tidak terjadi, saya dan Leon akan tinggal bareng di unit apertemen ini. Kami berdua telah membayar biaya sewanya selama setahun dan Leon akan kerja di gedung tinggi itu sebagai staff accounting. Dia ingin memulai hidupnya yang baru, tanpa mengandalkan siapapun." Gladys menunjuk keluar jendela ke arah gedung tinggi berwarna putih biru.
"Tunggu tunggu, berarti kamu dan laki-laki brengsek itu akan tinggal berdua saja di sini? Seperti suami istri?" Mikael terkejut mendengar Gladys dan Leon yang tinggal bersama jika kecelakaan itu tidak terjadi.
"Bukan seperti suami istri. Kami pisah kamar, kamar dia di sana sedang saya di sebelah sini." Jawab Gladys sambil menunjuk kamarnya dan Leon bergantian.
"Sama aja. Terus orang tua kamu dimana? Kenapa mereka mau mengizinkan kamu tinggal berdua dengan dia?" Tanya Mikael lagi.
"Orang tua saya di Korea. Mereka tidak tau kalau saya akan tinggal bersama Leon. Sebenarnya bisa di bilang saat itu saya kabur dari mereka."
"Kabur?"
"Iya. Saya bilang ke Papa kalau saya akan balik ke Indonesia dan papa telah mengurus semuanya hingga tempat tinggal dan tempat kerja saya di Indonesia. Tapi karena saya telah berjanji dengan Halmoni akan putus hubungan dengan papa dan Eomma makanya saya kabur sehari sebelum keberangkatan saya ke Indonesia." Jelas Gladys yang kembali mengingat saat terakhir dia berada di ruang kerja Papanya. Yah saat itulah pertemuan terakhirnya dengan papanya.
"Terus Hal.. Hal.. siapa tadi yang kamu sebut itu dan Oma-Oma tadi itu siapa?" Tanya Mikael bingung.
"Eomma itu ibu sambung saya, dia baik banget dan Halmoni itu mamanya ibu sambung saya atau sebutan nenek kalau di Indonesia. Nah Halmoni itu gak suka dengan saya, katanya saya ini benalu di keluarga papa dan menyuruh saya meninggalkan mereka. Dari pernikahan Papa dan Eomma mereka di karuniai sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan." Jelas Gladys.
"Kalau boleh tau siapa nama papa kamu?"
"Terus kamu kenal Leon dimana?" Tanya Mikael lagi. Dia ingin tau lebih banyak tentang kehidupan Gladys dan orang di sekitarnya.
"Kami satu kampus, dia dapat beasiswa kuliah di Korea. Awalnya orang tua saya tidak menyukainya, mereka berpikir Leon itu bukan laki-laki yang cocok untuk saya dan ternyata benar. Omongan mereka terbukti sekarang." Gladys menundukkan pandangannya yang mulai tertutupi dengam cairan bening yang mulai bergenang.
"Saya gak ingin kamu menitihkan air mata lagi karena laki-laki brengsek itu. Sudah cukup air mata kamu keluar untuk dia." Mikael benar-benar benci dengan Leon.
Gladys megangkat kepalanya dan kini dia mengalihkan pandangannya pada Mikael. Gladys memaksakan seulas senyum pada laki-laki di hadapannya. Ingin membuktikan kalau dirinya tidak sedang menangisi Leon lagi, setelah sebelumnya dia menghapus air matanya.
***
"Sudah cukup penderitaan yang kamu rasakan dari nenek yang tidak menyukai keberadaan kamu dan laki-laki brengsek itu. Berikan saya waktu, untuk menghapus semua penderitaan dan luka di hatimu. Honey"
Mikael melajukan mobilnya ke jalan raya yang cukup renggang. Pandangan fokus pada jalan raya, sambil sesekali mencuri pandang ke arah wanita yang duduk di sampingnya, di samping kemudi.
"Kamu harus ingat, jika terjadi sesuatu di rumah kontrakan Mira segera telepon saya. Kapanpun itu, hp kamu harus stand by di samping kamu." Ujar Mikael.
"Kak Mika, saya ini gak lagi mau pergi perang. Saya hanya nginap di rumah kontrakan Mira, di sana juga ada satpam komplek kok. Jadi Kak Mika tenang aja."
__ADS_1
Mobil Mikael telah terparkir tepat di depan rumah kontrakan Mira.
Gladys langsung keluar dari mobil dan mencari kunci rumah yang di sembunyikan Mira di sela-sela pot bunga yang berada di samping pintu masuk.
"Kamu cari apaan?" Tanya Mika.
"Cari kunci rumah Mira." Jawab Gladya sambil meraba di sela-sela pot bunga. "Nah ketemu." Lanjutnya setelah menemukan kunci rumah yang di maksud.
Gladys segera membuka pintu rumah Mira.
Mereka di sambut dengan seekor kucing persia berwarna abu-abu tua, hewan peliharaan teman kontrakan Mira.
"Hai Moci." Sapa Gladys.
"Namanya Moci?"
"Iya, lucu kan?"
"Enggak"
Gladys mengkerucutkan bibirnya mendengar jawaban Mikael.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣