Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #56


__ADS_3

Kamar Yulin


Gladys terus bolak-balik di atas tempat tidur, nanti posisi tidurnya di sebelah kanan, belum cukup beberapa detik dia mengubah posisi tidurnya lagi. Dia merasa gelisah sendiri. Sementara Yulin telah tetidur nyenyak di sampingnya.


Apa karena pindah tempat tidur makanya jadi susah tidur? sama seperti saat pertama pindah ke apertemen. Pikir Gladys.


"Padahal udah ngantuk." Keluhnya dalam hati.


Akhirnya Gladys beranjak dari tempat tidur Yulin, dia takut akan menganggu tidur gadis kecil itu.


Gladys keluar dari kamar Yulin, matanya langsung tertuju pada rak sudut berisikan patung-patung kayu yang di lihatnya siang tadi.


Rasa penasaran Gladys kembali muncul, dia tidak mengingat lagi peringatan yang di berikan Bi Yuyun padanya siang tadi.


Gladys mengambil patung kayu berbentuk kucing, dia memperhatikan sekeliling patung, terus membolak balikkan patung di tangannya itu. Bukan karena Gladys kagum akan kemahiran pemahatnya tapi dia ingin memastikan sesuatu.


Gladya berhenti membolak balikkan patung kucing di tangannya saat dia melihat satu huruf di bagian bawah patung yaitu A.


"Tapi gak hanya mama seorang yang mengukir inisial namanya di karyanya, bisa saja orang lain. Yang memiliki inisial sama dengan mama." Gumam Gladys setelah menyadarinya.


Gladys hanya ingin mencari tau apakah patung-patung hewan yang di pajang oleh Nana adalah hasil karya dari mamanya atau bukan. Namun Gladys tersadar bahwa bukan hanya mamanya yang memberi inisial namanya pada karyanya.


Dengan hati-hati Gladys mengembalikan patung kayu kucing yang diambilnya tadi ke tempatnya.


"Sayang." Panggil seseorang yang membuat Gladys sontak terkejut, pasalnya dia sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki siapapun.


"Yah Tuhan, Kak Mika. Hmapir saja tangan saya menyenggol patung-patung lainnya." Gladys merasa sedikit kesal dengan laki-laki dihadapannya ini.


"Memangnya kamu ngapain sih?" Tanya Mikael heran.


"Saya hanya lihat-lihat koleksi patung-patung Tante Nana. Bay the way Kak Mika kok belum tidur?"


"Saya susah tidur. Kita ke teras belakang yuk." Ajak Mikael.


Selain penyakit Nyctophobia yang di derita Mikael, dia juga memiliki penyakit Insomnia. Oleh karena itu dia membutuhkan bantuan obat untuk membuatnya bisa tertidur. Mikael tidak menyangka akan menginap di rumah orang tuanya hingga dia tidak membawa obat insomnia miliknya.


Mereka hanya perlu melangkah beberapa langkah dan sudah berada di depan pintu teras belakang.


Mikael membuka pintu teras lalu melangkah ke kursi besi beralaskan sponge empuk diikuti oleh Gladys.


"Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Mikael balik.


"Saya susah tidur, mungkin karena bukan tempat tidur yang biasa saya pakai di apertemen." Jawab Gladys.


"Kak Mika, apa kak Mika gak merasa kasihan dengan orang tua Kak Mika?" Tanya Gladys penasaran.


"Maksud kamu? Kenapa saya harus kasihan dengan mereka?" Mikael merasa heran dengan pertanyaan yang di ajukan Gladys padanya.

__ADS_1


"Maksud saya Kak Mika gak kasihan sama orang tua Kak Mika karena sudah membohongi mereka?"


"kalau kamu tanya begitu pasti saya kasihan, apalagi mereka terus memaksa saya untuk menikahi kamum" Jawab Mikael.


"Tuh kan, mereka berharap lebih dari hubungan kita Kak, sementara hubungan kita itu hubungan palsu. Saya merasa tidak enak dengan orang tua kak Mika."


"Kalau begitu kita menikah saja." Batin Mikael.


"Mau gimana lagi. Untuk sementara ini yang bisa saya lakukan, sampai saya mendapatkan wanita yang cocok dengan saya." Jelas Mikael.


Entah mengapa terselip rasa kecewa yang di rasakan Gladys mendengar kalimat Mikael. Gladys sebenarnya merasa bingung sendiri dengan perasaannya. Ketika di dekat Mikael, jantungnya tiba-tiba berdebar dengan cepat, dia bahkan membiarkan Mikael untuk menciumnya walaupun dia tidak membalas ciuman itu.


Apakah dia telah jatuh cinta dengan Bossnya? Tapi bagaimana dengan Leon? Apakah posisi Leon perlahan telah tergantikan oleh Mikael?


Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam pikiran Gladys. Karena dia sendiri belum mendapatkan jawabannya.


"Kak Mika saya kembali ke kamar duluan." Pamit Gladys yang hendak beranjak Namun tiba-tiba saja Mikael memegang tangannya membuat Gladys berbalik melihat kearah Mikael.


"Bisakah kau menemani ku lebih lama?" Pinta Mikael.


"Ok." Jawab Gladys pasrah dan kembali duduk di samping Mikael.


Gladys sudah merasa mengantuk tapi pasti ketika dia kembali ke tempat tidur Yulin, dia akan kembali sulit untuk tertidur.


"Apa Kak Mika gak berasa dingin?" Tanya Gladys yang mulai merasakan dinginnya angin malam.


Tanpa menunggu jawaban dari Gladys dia mengambil sehelai selimut berukuran besar dari lemari kecil di samping meja.


Nana memang sengaja menyuruh asisten rumah tangganya untuk selalu menyimpan selimut lebar di dalam lemari kecil itu untuk di pakainya ketika bersantai saat malam hari ketika cuaca dingin seperti sekarang.


Mikael menyelimuti badan Gladys.


"Sudah merasa hangat?" Tanya Mikael memastikan


Gladys menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Kak Mika, apa saya boleh tanya sesuatu lagi?"


"Soal apa?"


"Soal.... penyakit Kak Mika."


"Kamu mau tanya apa?"


"Saya pernah search di google, tentang penyebab seseorang bisa menderita penyakit nyctophobia. Katanya salah satunya itu karena trauma masa kecil dan kata Teddy Kak Mika waktu kecil pernah di culik. Apa itu benar atau hanya gosip?" Tanya Gladys penasaran.


Mikael tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Waktu umur 6 tahun saya memang pernah di culik oleh rival Papa."


"Kok bisa?" Tanya Gladys heran.


"Bisa di bilang dulu papa itu pemian baru dalam bidang pembangunan proyek dan saat itu pemerintah mau melakukan pembangunan stadion terbesar dan termegah di Indonesia. Banyak para developer berbondong-bondong ingin mendapatkan proyek itu dan saat itu ada satu perusahaan yang sudah banyak melakukan pengorbanan untuk mendapatkan proyek itu, namun gagal dan yang mendapatkannya itu perusahaan Papa, Papa memenangkan tender proyek itu."


"Loh bukannya perusahaan itu sudah melakukan banyak pengorbanan tapi kenapa dia tidak mendapatkan proyek itu?" Tanya Gladys.


"Dia menyogok orang dalam dan di ketahui oleh salah satu karyawan Papa. Karyawan Papa itu langsung melaporkan perusahaan itu tanpa seizin dari Papa."


"Jadi perusahaan itu mengira kalau Paman yang telah melaporkannya?"


"Iya dan karena itu juga perusahaannya di ambang kebangkrutan hingga akhirnya dia mengancam Papa dengan menculik saya."


"Orang itu kok jahat banget." Ujar Gladyas yang merasa geram mendengarnya.


"Saya ditemukan di dalam gudang yang tanpa pencahayaan sama sekali dan dalam kondisi yang kelaparan di tambahkan lagi ada luka lebam di bahu dan pundak, begitu kata Papa tapi saya sendiri tidak mengingatnya sebenarnya apa yang telah terjadi di sana saya hingga saya mempunyai luka lebam."


Tanpa sadar Gladys memegang punggung tangan Mikael seakan ingin menenangkan laki-laki di hadapannya ini, walau kejadiannya sudah lebih dari 20 tahun lalu.


Mikael merasakan genggaman tangan Gladys dan membalikkan tangannya untuk membalas genganggaman tangan Gladys.


Gladys tersenyum sambil memandangi wajah Mikael "Kak Mika tenang aja, saya akan membantu Kak Mika untuk lepas dari penyakit itu."


"Benarkah?"


Gladys menjawabnya dengan anggukan kepala.


Mikael merasa nyaman ketika gadis itu berada di sisinya dan keinginan Gladys untuk membantunya sembuh dari pentakit nyctophobia membuatnya merasa senang dan entahlah ada perasaan legah juga yang dirasakan Mikael.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai guys


Jangan lupa dukung author yah😉


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊

__ADS_1


Terimakasih❣


__ADS_2