
"Nih orang jadi tambah resek tau gak." Maki Gladys dalam hati sambil melirik sinis ke arah Mikael.
Sementara Mikael yang melihatnya merasa senang, dia merasa Gladys memperhatikannya. Namun ada sedikit rasa kesal yang di rasakan Mikael, pasalnya wanita itu tidak langsung menuruti keinginannya dan ekspresi Gladys yang seakan mengatakan kalau diamerasa kesal memilihkan sayur untuk Mikael.
"Sudah." Ujar Gladys singkat lalu mendorong piring berisikan mie goreng kembali kepada pemiliknya.
"Masih ada nih satu." Ujar Mikael setelah mengaduk mie gorengnya.
Gladys mendorong piring yang ditempatinya tadi untuk menampung sayur-sayur dari piring Mikael ke samping piring laki-laki itu lalu kembali meracik soto ayam miliknya.
Gladys yang hendak memasukkan sesuap soto ayam ke dalam mulutnya, tanpa sengaja melihat ke arah Mikael yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Ada apa? Kenapa mie gorengnya gak di makan?" Tanya Gladys bingung.
"Pilih sayurnya dengan benar." Ujar Mikael.
"Kak Mika tinggal pindahin aja." Gladys geram melihat laki-laki dihadapannya.
"Kenapa dia jadi cuek? Di rumah papa dia perhatian banget saat makan. Menyebalkan." Maki Mikael dalam hati.
"Sekarang kenapa melamun?" Tanya Gladys.
Mikael hanya diam saja dan mulai memakan mie gorengnya.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Mikael melihat Gladys yang hanya fokus pada makanannya.
"Kenapa gak di lanjut makanmya Kak Mika?" Tanya Gladys yang telah selesai melahap habis soto ayamnya.
"Saya udah gak nafsu makan." Ujar Mikael dingin.
"Sayang banget tinggal beberapa sendok aja." Ujar Gladys.
Apa dia masih marah. Pikir Gladys.
Gladys mengambil piring mie goreng Mikael. "Aa." Ujarnya lagi sambil mengarahkan sesuap mie goreng ke mulut Mikael.
Mikael hanya diam dan memandangi wajah Gladys.
"Kak Mika buka mulutnya, udah pegel nih." Omel Gladys.
Laki-laki itu mendengarkan kata-kata Gladys, dia langsung membuka mulutnya.
"Gitu kek daritadi, udah pegel tau." Protes Gladys yang langsung memasukkan sesuap mie goreng ke dalam mulut Mikael.
"Sekarang Kak Mika makan sendiri. Dikit lagi." Ujar Gladys yang mengembalikan piring Mikael.
"Aaa." Mikael kembali membuka mulutnya, dia ingin Gladys menyuapinya lagi.
"Kak Mika makan sendiri aja, gak enak nanti di lihatin orang." Ujar Gladys.
"Bodoh amat. Lagian kita kan emang pacaran dan asal kamu tau papa itu punya banyak mata-mata, di tambah lagi cafe ini milik adik saya." Jelas Mikael.
"Tapi Kak Mika...."
__ADS_1
"Suap." Potong Mikael.
Dengan terpaksa Gladys menarik piring makan Mikael ke arahnya untuk mempermudahkannya menyuapi Mikael.
Gladys mengarahkan sesendok mie goreng ke mulut Mikael.
"Saya udah gak mood lagi. Kita balik ke kantor." Ujar Mikael dingin lalu menaruh sejumlah uang di atas meja makan dan berlalu keluar dari cafe.
Gladys bingung dengan Bossnya itu.
"Tadi ngotot minta di suap, giliran udah mau di suap malah pergi. Nih orang maunya apa sih?" Batin Gladys, dia sedikit berlari untuk mengejar Bossnya yang sudah tidak terlihat lagi.
***
Di dalam mobil, sesekali Gladys melirik Bossnya yang sedang fokus menyetir. Dari raut wajah Bossnya, Gladys dapat melihat kalau mood Bossnya kini lagi tidak baik. Tapi Gladys sendiri tidak tau apa penyebab Mikael seperti itu.
"Dia kenapa sih?" Gladys hanya bisa bertanya dalam hati, dia tidak ingin memperburuk suasana.
Sesampainya di kantor. Mikael yang biasa meminta Gladys berjalan di sampingnya, mempercepat langkahnya meninggalkan wanita cantik itu yang masih jauh berjalan di belakangnya. Bahkan Mikael menaiki lift khusus untuk yang jarang di gunakannya saat bersama sedang bersama Gladys.
"Itu orang kenapa sih? sumpah yah nyebelin banget tuh orang." Maki Gladys dalam hati sambil menuggu pintu lift terbuka.
***
Gladys telah berada di lantai 25 dan kembali ke meja kerjanya.
"Loh kok kamu balik sendiri? Boss mana?" Tanya Teddy heran ketika melihat keberadaan Gladys.
"Saya dari tadi kerja di sini, makan siang pun tadi saya suruh pegawai Bu Ani yang anterin ke sini dan Boss gak ada."
"Kalau gitu Boss kemana?" Tanya Gladys
"Nih anak di tanya, malah balik bertanya."
"Gak tau ah. Dia memang orang aneh."
"Kalian habis berantem?" Tanya Teddy penasaran.
"Gak tau. Dia aja sendiri gak jelas."
***
Ruang Departemen Desain
Tanpa mengetuk pintu, Mikael langsung membuka pintu ruangan kepala desain dan mendaratkan pantatnya di sofa empuk yang berada di dalam ruangan itu. Dia merasa tidak bersemangat saat ini.
"Tumben Boss besar datang ke ruangan saya?" Tanya Aaron.
"Saya cuman sebentar 15 menit lagi saya ada rapat." Jawab Mikael. "Ada yang ingin saya tanyakan." Lanjut Mikael.
"Keknya serius banget. Memangnya Boss mau tanya apa? pake izin segala." Ujar Aaron yang berpindah dari kursi kekasaannya ke sofa tunggal dekat Mikael duduk.
"Kalau misalkan ada seorang wanita yang perhatian sama kita saat makan tapi tiba-tiba saja saat makan bersama berikutnya itu dia jadi cutek. Kira-kira itu kenapa?" Tanya Mikael.
__ADS_1
"Maksud Boss, Gladys. Dia udah berubah cutek?" Tebak Aaron.
"Jawab aja."
"Ok ok. Ada 3 kemungkinan. Pertama Gladys udah bosan sama Boss, kedua...."
"Wait wait, saya kan gak bilang kalau wanita itu Gladys." Protes Mikael.
"Gak usah di bilang, udah tau kale."
"Yah udah terserah kamu mau pikir siapa. Yang kedua dan ketiga apa?" Tanya Mikael pasrah.
"Kedua hati-hati Gladys mungkin udah punya laki-laki lain, ketiga mungkin dia lagi PMS. Tapi kalau misalkan Gladys udah bosan sama Boss berarti saya ada kesempatan dong." Ledek Aaron.
"Jangan pernah kamu berharap dan jangan pernah sedikitpun kamu berpikir untuk mendekatinya. Awas aja." Ujar Mikael yang merasa kesal dengan sahabatnya itu.
Mikael lalu berdiri dan menyempatkan kakinya mendarat dengan cukup keras di kaki Aaron sebelum keluar dari ruangan sahabatnya.
"Aaaggr.." Teriak Aaron dari dalam rungannya.
Dia tidak memperdulikan teriakan kesakitan sahabatnya itu akibat ulahnya. Mikael terus melangkah keluar dari ruangan Aaron.
Sebenarnya Aaron tidak serius dengan perkataannya. Pasalnya ada banyak faktor yang mempengaruhi seorang wanita berubah dan dia sendiripun tidak mengetahui dengan pasti penyebab perubahan Gladys.
***
Kini Mikael dan Gladys tengah berada di proyek pembangunan mall terbesar di Indonesia, setelah rapat dengan departemen marketing sebelumnya.
Gladys telah memakai sepatu kets yang selalu di simpannya di bawah meja kerjanya setelah kejadian saat dirinya terjatuh di proyek pembangunan sebelumnya.
"Ternyata ingatan kamu lumayan juga." Puji Mikael yang lebih terlihat seperti mengejek.
Gladys tidak merespon perkataan Bossnya, dia hanya terus berjalan dan memperhatikan setiap langkahnya. Tepat di belakang Mikael.
"Nih anak kenapa sih, malah diam aja." Batin Mikael heran, dia sempat berbalik sebentar untuk melihat Gladys tanpa di sadari oleh wanita itu.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1