
"Selamat Sore Pak Mika." Sapa Mira yang lebih dulu berbalik ke sumber suara.
"Ada apa Kak?" Tanya Gladys yang ikut berbalik.
"Kalian udah mau mau pulang?" Tanya Mikael.
"Iya Pak Mika kita sudah mau pulang." Jawab Mira.
"Teddy mana?" Tanya Mikael yang tidak melihat keberadaan sekretarisnya.
"Dia ke kepala marketing, katanya ada yang ingin di urusnya." Jawab Gladys.
"Kak Mika belum mau pulang?" Tanya Gladys.
"Nih mau pulang, gak lihat saya bawa tas?" Jawab Mikael lalu mengangkat tas kerjanya sedikit ke atas.
Mira menyenggol tangan temannya yang tepat berdiri di sampingnya karena pertanyaan bodoh Gladys.
"Oh." Ujar Gladys.
"Pertanyaan saya bodoh banget sih, bikin malu aja." Batin Gladys.
"Saya antar kalian balik." Ujar Mikael menawarkan diri.
"Kalian? Berarti saya juga di antar dong Pak Mika?" Ujar Mira antusias.
"Iya, kamu juga." Jawab Mikael datar.
"Yuk Ra." Gladys mengandeng tangan Mira.
Mereka berjalan bersama menuju ke lift lalu ke parkiran.
Mikael sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Mira dan Gladys yang duduk di kursi belakang.
"Kamu kira saya supir, kamu duduk di belakang?" Tanya Mikael datar.
"Maaf Kak Mika."
Gladys keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di samping kemudi, dia duduk di samping Mikael.
Mikael melajukan mobilnya ke jalan raya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga yang terdengar hanya suara mesin mobil dan klakson mobil yang berlalu lalang.
"Sepi banget, masa mereka gak ada percakapan sama sekali." Batin Mira.
"Dys katanya kamu mau pindah, kamu mau pindah kemana?" Tanya Mira yang memecahkan keheningan di antara mereka.
"Kamu sudah dapat tempat tinggal baru?" Tanya Mikael yang ingin memastikan apakah Gladys akan pindah ke gedung apertemen miliknya.
"Belum tau juga. Besok rencananya Teddy akan membawa saya ke apertemen Sky Garden."
"Oh yah, berarti kita bakalan tentanggaan kalau begitu." Ujar Mikael.
"Tapi saya gak yakin untuk sewa apertemen di sana?"
"Pasti karena kemahalan yah?" Tanya Mira.
"Bukan, malahan harganya kemurahan jadi bikin saya agak ragu untuk nyewa." Jawab Gladys.
__ADS_1
"Memangnya Teddy bilang apa tentang apertemen itu?" Tanya Mikael yang merasa tidak tenang mendengar jawaban Gladys.
"Teddy bilang harganya 30 juta per tahun."
"Kok murah banget?" Tanya Mira heran.
"Kata Teddy sih yang punya rumah ada di luar negeri jadi daripada rumahnya kosong, tidak terawat. Orangnya menyewakan dengan harga murah agar cepat dapat penyewa."
"Kalau memang karena itu berarti bagus dong. Kamu sewa aja, udah elit, mewah, fasilitas lengkap, murah lagi." Ujar Mira.
"Bagus Mira, bujuk Gladys terus agar dia mau pindah." Batin Mikael yang mendapat secerca harapan.
"Makanya besok saya mau ke sana untuk melihat apertemennya bersama Teddy." Ujar Gladys. "Saya bolehkan ijin besok pergi bersama Teddy?" Tanya Gladys pada Mikael.
"Pergi aja, gak papa kok. Semoga kamu suka dengan apertemennya." Jawab Mikael.
Setelah hampir 1 jam mereka di perjalanan karena jalanan yang padat di jam pulang kantor, akhirnya mereka tiba di depan rumah kontrakan Mira.
"Terimakasih Pak Mika." Ujar Mira lalu keluar dari mobil Mikael.
"Terimakasih Kak Mika, hati-hati di jalan." Ujar Gladys.
"Tunggu." Mikael memegang tangan Gladys menahan wanita itu keluar dari mobilnya.
"Bagaimana tidur kamu semalam?" Tanya Mikael.
"Maksud Kak Mika?" Tanya Gladys tidak mengerti
"Waktu di rumah papa, katanya kamu gak bisa tidur karena tempat tidurnya bukan tempat tidur yang biasa kamu pakai." Jelas Mikael.
"Boneka?"
"Iya, boneka beruang. Dulu Leon memberikannya untuk saya dan sekarang sudah jadi kebiasaan memeluk boneka itu saat susah tidur." Jelas Gladys.
Mendengar penjelasan Gladys membuat hati dan pikiran Mikael mendadak terasa panas.
"Apa kamu akan terus mengingat dia?" Tanya Mikael dalam hati.
"Bukannya kamu bilang tidak membawa barang-barang pemberian dia?" Tanya Mikael datar yang berusaha terlihat tenang, walau hatinya sedang gusar.
"Saya hanya membawa boneka beruang itu." Jawab Gladys. "Saya keluar yah Kak Mika, hati-hati di jalan." Ujar Gladys yang membuat Mikael melepas genggaman tangannya pada wanita itu.
Mikael kembali melajukan mobilnya.
***
"Ra kamu udah mandi?" Teriak Gladys yang masih di dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Mira.
"Tunggu bentar lagi, saya kasih makan Moci dulu." Jawab Mira sambil berjongkok menuangkan makanan kucing dan mengelus punggung Moci.
"Moci mulu di urus, sampai belum mandi. Udah malam tau." Celoteh Gladys sambil membawa sepiring lauk hasil masakannya ke meja makan.
"Iya iya, kamu udah kayak emak-emak yang nyuruh anaknya mandi. Mana itu handuk masuk di kepala lagi." Ledek Mira yang melirik sebentar ke arah Gladys.
Gladys tersenyum mendengar ledekan Mira padanya.
"Selesi. Saya mandi dulu yah Emak." Ledek Mira lalu menuju ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.
__ADS_1
"Pakaian kamu udah di bawa?" Tanya Gladys yang melihat Mira hanya membawa handuk menuju ke kamar mandi.
"Oh iya lupa." Mira langsung membelokkan langkahnya menuju ke kamarnya.
"Dasar nih anak semuanya harus diingatkan." Gumam Gladys sembari menyusun makanan di atas meja makan.
🎵 you, you love it how i move...
"Siapa sih yang menelpon malam-malam gini?" Gumam Gladys lalu menuju ke meja kecil dekat pintu kamar Mira, tempat Ia menaruh hpnya.
"Perut Karet."
Begitu yang tertera di layar hp Gladys. Yah wanita cantik itu telah mengganti contact name Bossnya di hp miliknya.
Gladys segera menggeser tombol hijau di layar hpnya.
"Halo." Sapa Gladys.
"Halo Sayang, kamu lagi bikin apa?" Tanya Mikael di seberang.
"Lagi siapin makan malam, Kak Mika udah makan?"
"Baru habis pesen delivery." Jawab Mikael. "Sayang kalau sudah selesai makan nanti kamu fotoin kamar kamu yah lalu di kirim ke saya." Lanjut Mikael.
"Untuk apa?" Gladys merasa heran mendengar permintaan Bossnya itu, tidak biasanya Mikael memintanya mengambil gambar kamarnya.
"Foto aja."
"Saya tidak mau, kalau tidak ada alasan yang jelas." Ujar Gladys.
"Ada. Saya hanya ingin tau apa kamar kamu nyaman atau tidak." Ujar Mikael bohong. Bukan itu sebenarnya tujuannya meminta wanita itu mengambil gambar kamarnya.
Gladys mengernyitkan dahinya, dia merasa heran dengan alasana yang di lontarkann Bossnya. "Kak Mika baik-baik aja kan?" Tanya Gladys ragu.
Belum sempat Mikael menjawab, terdengar suara orang mengetuk pintu rumah Mira.
Tok tok tok...
"Kak Mika tunggu bentar, sepertinya ada orang datang." Ujar Gladys tanpa memutuskan sambungan telepon.
Gladys melangkah menuju pintu utama rumah kontrakan Mira.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1