
Gladys telah selesai untuk bersiap berangkat di hari pertamanya bekerja, dia juga telah memesan ojol.
"Semoga hari pertama masuk kerja semuanya lancar-lancar saja." Gumam Gladys, dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya mencoba menghilangkan rasa gugupnya. "Tenang tenang, semuanya akan baik-baik saja. Orang-orang di kantor itu pasti semuanya baik-baik juga CEO-nya." Lanjutnya.
PT Winjaya Development Tbk
"Selamat siang Mbak, saya Gladys Santoso, pegawai baru di perusahaan ini. Saya disuruh Pak Gilang untuk datang tapi saya gak tau ruangannya dimana."
" Maaf sebelumnya, Mbak kapan di terima kerjanya yah? karena setahu saya perusahaan kami terakhir buka lowongan kerjaan itu tahun lalu." Jelas wanita itu yang bekerja di bagian reseptionis.
"Hari sabtu kemarin Mbak." Jawab Gladys.
"Kalau gitu saya hubungi Pak Gilang dulu yah."
"Iya Mbak."
Selesai menelpon, wanita di resepTionis itu menyuruh Gladys ke ruangan Gilang di lantai 15.
Gladys telah sampai di lantai 15, keluar dari lift Gladys melihat ke arah kiri dan dia bisa langsung melihat tulisan HRD.
"Permisi, saya mencari Pak Gilang." Tanya Gladys pada seorang wanita yang lewat di hadapannya.
Belum sempat wanita itu menjawab, namanya telah di panggil.
"Gladys."
"Selamat pagi Kak Gilang." Sapa Gladys.
"Selamat pagi. Kamu ikut saya yah." Ujar Gilang.
Gladys mengikuti Gilang. Mereka masuk ke dalam lift menuju ke lantai 20.
"Maaf Kak Gilang, tadi sewaktu saya bertanya di resepTionis..." Ucapan Gladys terpotong oleg Gilang.
"Dia bilang kalau perusahaan terakhir buka lowongan kerja tahun lalu, itu memang benar. Saya mencari asisten CEO secara sembunyi-sembunyi karena jika si CEO itu sampai tau dia pasti akan menolak untuk di carikan tapi kalau orangnya sudah ada, dia gak mungkin nolak." Jelas Gilang.
Begitu lift terbuka Gladys langsung melihat beberapa orang yang sedang sibuk dan terdengar jelas suara seseorang yang sedang menerima telepon, suara ketikan, suara kursi beroda yang terus bergeser.
Ruangan ini benar-benar sibuk. Pikir Gladys.
"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar." Ujar Gilang dengan meninggikan sedikit suara agar dapat di dengar.
Seketika itu juga pandangan mereka teralihkan kepada Gilang.
"Saya ingin memperkenalkan ke kalian asisten CEO yang baru." Ujar Gilang lalu mempersilahkan Gladys untuk memperkenalkan diriny.
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Gladys Santoso, saya asisten CEO yang baru. Mohon bantuannya." Ujar Gladys yang diakhiri dengan membungkukkan badannya 45 derajat.
"Ohh Pak Gilang thank you so much. Akhirnya kamu menemukan orang yang bisa membantu saya." Ujar Teddy.
Gilang tersenyum pada Teddy.
"Dia namanya Teddy, dia sekretaris CEO yang juga akan mengajari kamu untuk bekerja di sini."
"Salam kenal, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ujar Teddy ramah.
"Dia Kirana sebagai Manajer Umum. Dia Anton sebagai manajer... Dia vicky dan yang terakhir ..." Gilang menghentikan ucapannya karena tidak melihat keberadaan orang yang akan di perkenalkannya.
"Dia sedang ke toilet." Sahut Anton.
"Yah sudah yang terakhir nanti kamu kenalan sendiri aja." Ujar Gilang kepada Gladys. "Untuk selanjutnya saya serahkan ke kamu." Ujar Gilang kepada Teddy.
"Siapa dia?" Tanya orang yang baru saja keluar dari lift.
__ADS_1
Semua mata tertuju padanya tak terkecuali Gladys.
"Dia asisten baru kamu." Jawab Gilang.
"Sejak kapan saya minta kamu carikan asisten?" Tanya orang itu, dingin.
"Kita bicara di ruangan kamu." Ajak Gilang.
Mereka lalu masuk ke dalam ruangan CEO.
"Mika kamu gak kasihan apa dengan Teddy, dia bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten kamu. Dia harus mengurus perusahaan dan mengurus segala urusan pribadi kamu. Saya merasa kasihan dengan dia."
"Itukan memang sudah tugas dia. Lagian wanita itu apa bisa bertahan bekerja disini?" Tanya Mikael yang kini telah duduk di kursi kekuasaannya.
"Saya tau asisten-asisten kamu sebelumnya gak tahan bekerja dengan kamu karena sifat kamu yang super disiplin dan semuanya harus serba profesional tapi saya yakin dengan Gladys, dia pasti bisa bertahan." Jelas Gilang.
"Ok. Kita lihat saja." Ujar Mikael.
Gilang tersenyum melihat Mikael yang akhirnya setuju menjadikan Gladys asistennya. Dia lalu memanggil Gladys untuk masuk keruangan CEO.
Gilang adalah senior Mikael saat kuliah dan mereka satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) olahraga basket saat kuliah dari situlah mereka akrab. Hingga selesai kuliah Mikael langsung masuk ke perusahaan begitupun dengan Gilang yang langsung melamar di perusahaan PT Winjaya Development.
"Perkenalkan diri kamu." Ujar Gilang.
"Selamat pagi pak, saya Gladys Santoso. Asisten baru Bapak."
"Santoso?" Tanya Mikael.
"Itukan marga keluarga Elin. Apa dia ada hubungan keluarga dengan Elin?" Tanya Mikael dalam hati.
"Iya Pak." Jawab Gladys.
"Kamu keluar aja. Untuk kerjaan, kamu tanya Teddy." Ujar Mikael.
"Baik Pak."
Gladys keluar dari ruangan CEO dan duduk di kursi kerjanya yang bersampingan dengan meja kerja Teddy.
Meja mereka tepat di depan ruangan CEO dan di sebelahnya adalah ruangan manajer umum yang dipisahkan dengan tembok kaca..
"Semangat yah Gladys." Ujar Gilang sembari melewati Gladys.
"Semuanya saya pamit dulu. Selamat bekerja." Ujar Gilang.
Teddy menghampiri Gladys dan memberikannya beberapa dokumen.
"Ini jadwal Pak Mikael untuk 1 minggu kedepan, ini daftar serta kegiatan para tamu dalam dan luar negeri bersama Pak Mikael, ini mitra kerja perusahaan, dan masih banyak lagi dokumen yang harus kamu pelajari saya sudah siapkan semuanya. Oh iya ini buku catatan yang saya buat khusus jika nanti ada asisten baru, buat kamu. Semua yang di sukai dan tidak di sukai pak Mikael ada disini semua. Kamu harus ingat pak Mikael orangnya disiplin dan profesional, jadi usahakan meminimalisir kesalahan-kesalahan." Jelas Teddy yang telah memberikan semua dokumen yang perlu di pelajari Gladys.
"Terimakasih Pak Teddy, saya akan mempelajari semuanya dan mengingat perkataan Pak Teddy."
"Satu lagi jangan panggil saya Pak Teddy. Kesannya saya tua banget, panggil Teddy aja." Ujar Teddy lalu kembali melanjutkan kerjaannya.
Gladys melihat semua dokumen yang harus dia pelajari "Oh My God, sebanyak ini yang harus saya pelajari." Ujarnya dalam hati. Dia mulai membuka lembar demi lembar dari dokumen-dokumen itu dan mempelajarinya.
"Akhirnya jam makan siang juga, laper banget." Ujar Vicky.
"Hei anak baru, kamu gak makan siang?" Tanya Kirana.
"Iya bu Kirana sebentar lagi saya makan siang." Jawab Gladys sopan.
"Yah sudah kami ke kantin duluan yah." Ujar Vicky.
Gladys tersenyum pada mereka lalu melihat ke Teddy yang masih fokus pada kerjaannya.
__ADS_1
"Kamu gak makan Teddy?" Tanya Gladys.
"Sebentar lagi. Oh iya kamu ke ruangan CEO sekarang dan tanya pada pak Mika, dia ingin makan siang apa." Ujar Teddy yang masih fokus pada kerjaannya.
"Baik."
Tok tok tok
"Masuk."
Setelah di persilahkan masuk Gladys membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan CEO yang kelihatan sangat megah.
"Selamat siang, Pak Mika ingin makan siang apa?" Tanya Gladys.
"Kenapa kamu? Teddy mana?" Tanya Mikael begitu melihat Gladys yang ada di hadapannya.
"Pak Teddy masih sibuk dengan pekerjaannya Pak. Lagian ini sudah menjadi tugas saya." Jawab Gladys
"Benar juga." Ujar Mikael dalam hati.
"Pesankan saja saya Mie goreng di restoran depan kantor."
"Baik. Saya permisi dulu." Pamit Gladys lalu meninggalkan riangan CEO.
Dia melihat Teddy yang masih saja fokus dengan pekerjaannya.
"Teddy, kamu mau saya belikan sekalian makanan?" Tanyanya.
"Soto ayam aja." Ujar Teddy.
Gladys telah sampai di restoran chinese depan kantor.
"Mbak saya pesan Mie goreng gak pakai sayur yah, kecapnya gak usah terlalu banyak. Minumnya Es teh tawar, esnya gak usah terlalu banyak." Jelas Gladys.
Untungnya tadi saya audah pelajari buku catatan yang di buat Teddy. pikir Gladys.
Selesai dengan pesanannya. Dia lalu kembali ke kantor dan memindahkan makanan yang di belinya tadi ke piring dan mangkok.
"Teddy ini pesanan kamu, saya antar pesanan pak Mika dulu." Ujar Gladys dan memberikan soto ayam pesanan Teddy.
Tok tok tok
"Masuk."
Gladys melangkah masuk sambil membawa pesanan Mikael dan menaruhnya di meja ruang tamu ruangan CEO.
"Pak Mika pesanannya sudah tiba." Ujar Gladys.
Mikael berdiri dari kursinya menuju ke sofa panjang ruang tamu dan mulai memakanan menu makannnya.
"Nih orang boleh juga, menu makanan yang dia pesan sesuai selera saya, minumannya juga." Ujar Mikael dalam hati.
Mikael melihat Gladys yang masih belum pergi.
"Apa lagi? mau lihatin saya makan?" Tanya Mikael.
"Apa gak ada lagi yang Bapak perlukan?" Tanya Gladys.
"Gak ada. Kamu keluar aja."
"Baik Pak."
Gladys telah keluar dari ruangan CEO dengan kesal.
__ADS_1
"Bukannya Terimakasih, malah kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya." Gumam Gladys kesal.