
Di perjalanan menuju ke rumah Winjaya, Gladys melihat sederet gerobakan jajanan dan matanya tertuju pada gerobak yang bertuliskan batagor.
"Kak Mika saya pengen makan batagor. Berhenti di depan gerobak batagor di depan yah?" uUar Gladys.
"Makan di rumah aja." Ujar Mikael.
"Tapi saya lagi pengen makan batagor." Rengek Gladys.
Dengan terpaksa Mikael mengikuti keinginan Gladys, dia meberhentikan mobilnya tepat di depan gerobak batagor.
"Tunggu bentar." Ujar Gladys lalu keluar dari mobil Mikael.
"Mas Batagornya 2 yah." Ujar Gladys.
"Bentar yah Mbak." Ujar penjual batagor.
Tidak menunggu lama pesanan Gladys telah selesai.
"Terimaksih yah Mas." Ujar Gladys setelah membayar pesanannya lalu kembali masuk ke dalam mobil Mikael.
Mikael kembali melajukan mobilnya ke jalan raya. Sementara Gladys sibuk menyantap batagornya.
"Kak Mika mau gak?" Tawar Gladys.
"Aa..." Ujar Mikael yang membuka mulutnya minta di suap.
Gladys memasukkan sepotong kentang ke dalam mulut Mikael.
"Kok kentang sih. Mana gak enak lagi." Ujar Mikael yang terpaksa mengunyah kentang rebus di dalam mulutnya.
"Kentang rebus enak lagi." Ujar Gladys.
"Sekarang buka mulutnya." Lanjut Gladys lalu menyuapi Mikael lagi.
"Kamu sengaja yah? Yang kamu masukin ke mulut saya kentang lagi ini." protes Mikael lalu mengambil tisue untuk melepehkan kentang dari mulutnya.
Gladys yang melihat tampang Mikael merasa lucu dan membuatnya tertawa. Gladys memang sengaja memasukkan kentang lagi ke mulut Mikael untuk mengerjainya. Mikael memang tidak begitu menyukai rasa kentang atau ubi rebus.
"Dasar yah kamu." Ujar Mikael lalu mengusap kasar kepala Gladys sampai membuat rambut Gladys yang tadinya rapi karena terikat menjadi berantakan.
"Kak Mika, rambutnya saya jadi berantakan gini." Ujar Gladys lalu menurunkan sun vissor untuk melihat rambutnya yang sudah acak-acakkan.
Mikael membalas Gladys dan tertawa melihat Gladys yang sudah seperti orang gila. Tapi walaupun sudah seperti orang gila tetap aja cantik. Pikir Mikael.
Kali ini perjalanan mereka yang sebelumnya hanya terdengar suara mesin mobil Mikael, kini di penuhi dengan suara canda tawa mereka.
***
__ADS_1
"Kita udah sampai." Ujar Mikael lalu keluar dari mobilnya dan langsung menuju ke belakang mobil untuk mengambil belanjaan mereka.
"Saya rapihin rambut dulu. Kak Mika ada sisir gak?" Tanya Gladys.
"Ada." Jawab Mikael sambil mengambil kantung plastik.
"Mana? Pinjam dong."
"Di kamar." Jawab Mikael singkat.
"Kak Mikaaaaa.... Maksud saya di dalam mobil Kak Mika. Bukan di kamar."
Mikael tertawa melihat wajah kesal Gladys dari cermin di sun vissor yang cukup besar.
"Tuan Mika biar kami saja yang bawa." Ujar salah satu satpam yang bekerja di rumah Winjaya. Mereka langsung menghampiri Mikael setelah mendengar suara tawa Mikael.
"Yah udah nih. Terimaksih yah."
Mikael memberikan kantong-kantong plastik pada 2 orang satpam tadi.
"Kamu mau sampai kapan di mobil?" Tanya Mikael kembali duduk di kursi kemudi dengan pintu mobil terbuka.
"Tunggu bentar lagi." Ujar Gladys yang merapikan rambutnya.
"Hebat juga kamu jari-jari tangan bisa jadi sisir gitu." Ujar Mikael yang terus memperhatikan Gladys.
"Selesai." Ujar Gladys.
"Bagian mana?" Tanya Gladys yang terus melihat rambutnya yang tidak terlihat berantakan lagi.
"Kalian kok masih di mobil aja sih? Barang-barang udah masuk ke dalam tapi orangnya masih di luar." Protes Nana yang melihat Mikael dan Gladys masih di dalam mobil.
"Tungguin nih perempuan satu ngerapihin rambut lama banget." Ujar Mikael yang mengahmpiri Nana.
"Ulah Kak Mika Tan. Rambut saya terus di berantakin, jadinya tadi rapihin dulu sebelum turun." Ujar Gladys yang ikut menghampiri Nana.
"Kalian ini benar-benar yah. Yah udah masuk yuk." Ajak Nana.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Winjaya.
"Yulin mana Tante?" Tanya Mikael yang tidak melihat keberadaan keponakannya.
"Di taman belakang sama Opanya." Jawab Nana.
"Yah udah saya ke taman belakang dulu." Ujar Mikael semangat lau meniggalkan Nana dan Gladys.
"Yulin itu keponakan Kak Mika Tan?" Tanya Gladys penasaran.
__ADS_1
"Iya. Anak dari adiknya Mikael, Yuan."
"Sama seperti nama keponakan saya Tan. Tapi saya hanya melihat fotonya saat bayi." Ujar Gladys.
"Kalau gak salah nama suami Kak Elin.... Yuan juga kan? Tapi saya gak yakin juga sih. Udah ah." Ujar Gladys falam hati yang berusaha mengingat nama suami sepupunya itu
"Bisa kebetulan gitu yah." Ujar Nana. "Oh iya Tante mau ke dapur dulu, mau masak makanan kesukaan Yulin. Kamu kalau mau ke taman belakang gabung sama mereka kesana aja." Lanjutnya.
"Gak ah Tan. Saya lebih baik bantu tante aja di dapur. Bolehkan tante?" Tanya Gladys.
"Boleh dong. Asal gak gerepotin kamu aja"
"Gak Tan. Saya malah senang bisa bantu tante, kebetulan saya juga suka masak"
"Tante pikir kamu hanya suka buat kue. Yah udah yuk" Ajak Nana.
Saat mereka tiba di dapur, sudah ada Yuyun yang sedang mengeluarkan belanjaan dari bungkusan plastik.
"Nyonya ini bahan-bahan untuk masakan Nyonya. Mau saya potong-potongkan?" Tanya Yuyun.
"Gak usah Bi. Bibi lanjutin aja kerja Bibi yang lain. Saya di bantu sama Gladys. Terimakasih yah Bi." Ujar Nana.
"Iya Nya. Kalau gitu saya pergi dulu, sekalin simpan bungkusan plastik." Ujar Yuyun lalu meniggalkan Nana fan Gladya di dapur.
"Kalau boleh tau Tante Nana mau masak apa? Biar saya agak gampang bantu Tante."
"Yulin itu suka sama chicken katsu dengan saus mayo mix saus tomat dan capcay. Tapi kalau Paman Winjaya, dia lebih suka chicken katsu dengan saus teriyaki. Jadi nanti kita buat 2 saus." Jelas Nana sambil mengambil dada ayam dari plastik.
"Kalau Kak Mika suka dengan saus apa?" Tanya Gladys.
"Kalau Nak Mika dia saus apa aja sih yang penting satu, gak ada sayur." Jawab Nana yang kini membelah dada ayam menjadi lebih lebar dan pipih.
" Benar tuh Tante dia benar-benar gak suka sama yang namanya sayur." Ujar Gladys yang mendukung perkataan Nana.
"Tante saya tuang tepung-tepungannya ke pikiran yah?" Tanya Gladys.
"Iya. Sama telur juga kamu kocok kasih garem dikit yah."
Gladys menuruti perkataan Nana.
"Permisi Nya." Ujar salah satu pelayan yang baru saja mengajmpiri mereka. Nana dan Gladys pun melihat ke arah pelayan itu.
"Ada apa Tuti?" Tanya Nana.
Nana hanya memanggil nama Tuti karena usia Tuti yang masih muda berbeda dengan Yuyun yang sudah berusia lanjut.
"Ini Nya ada telepon dari Bu Beno." Jawab Tuti.
__ADS_1
"Gladys kamu bisa lanjutin masaknya kan? Tante harus terima telepon dari klien penting Tante."
"Iya Tan santai aja. Biar saya yang lanjutin."