
Mikael duduk termenung di kursi kerjanya, setelah melihat kepergian Gladys dari ruangannya.
Pagi ini Gladys hanya bertugas mengantarkannya kopi dan beberapa keping biskuit, karena Teddy belum memberitahukan pada Gladys jadwal Mikael hari ini.
Tidak berselang berapa lama, Teddy masuk ke dalam ruang kerja Bossnya.
"Selamat pagi Pak Mika." Sapa Teddy.
"Pagi." Balas Mikael.
"Oh iya, kamu tau kan kalau Gladys sedang cari tempat tinggal murah."
"Iya Pak, saya tau."
"Saya ingin kamu melakukan sesuatu." Perintah Mikael.
***
Gladys sedang fokus mengerjakan dokumen-dokumen yang belum sempat di selesaikan Teddy.
"Hai Dys." Sapa seseorang.
"Hai Kak Gilang." Sapa Gladys balik.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Gilang.
"Seperti yang Kak Gilang lihat, saya udah sehat."
"Sorry yah waktu kamu sakit saya gak sempet jenguk, kerjaan numpuk banget."
"Iya Kak, gak papa kok."
"Saya ada kabar gembira untuk kamu."
"Apaan Kak?" Tanya Gladys penasaran.
"Nanti aja, pas makan siang. Kita ketemu di House Cafe dekat kantor."
"Kalian mau gapain? Pak Gilang ingat yah, Gladys udah ada yang punya." Ujar Teddy memperingati Gilang.
"Sebelum janur kuning melengkung saya masih punya kesempatan dong." Canda Gilang lalu masuk ke dalam ruangan Mikael.
Gladys tersenyum melihat wajah cemberut teman kerja itu.
"Oh iya Ted, hari ini jadwal Kak Mika padat yah?"
"Tidak begitu padat. Bay the way saya kembalikan buku jadwal Pak Mika sama kamu." Ujar Teddy sembari memberikan buku jadwal Mikael yang sudah menjadi tugas Gladys mengurus jadwal Boss mereka.
"Hari ini Kak Mika ada jadwal makan siang bersama klien?" Tanya Gladys setelah membaca jadwal Bossnya hari ini.
"Iya, tapi Pak Mika minta di batalin." Jawab Teddy.
"Kenapa?"
"Katanya dia ingin makan siang dengan kamu."
"Apa!! Kamu gak salah ngomong? Ngapain Kak Mika batalin makan siang dengan klien hanya untuk makan siang bareng saya. Ngaco."
"Emang gitu kenyataannya."
Gladys merasa heran dengan Bossnya itu. Dia memutuskan masuk ke ruangan Bossnya untuk menanyakan langsung kebenaran dari perkataan Teddy padanya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk"
Setelah di persilahkan masuk Gladys membuka pintu dan melangkah mendekati Mikael.
"Ada apa?" Tanya Mikael begitu melihat Gladys yang melangkah mendekatinya.
"Kenapa Kak Mika membatalkan jadwal makan siang bersama klien?" Tanya Gladys.
"Karena saya ingin makan siang dengan kamu." Jawab Mikael.
Deg.
Jantung Gladys kembali berdetak cepat. Tidak biasanya Mikael secara terang-terangan mengatakan ingin makan siang bersamanya, bahkan menolak untuk makan siang bersama klien.
"Ta tapi... Saya tidak bisa." Ujar Gladys yang mendadak menjadi gagap.
Mikael melihat ke arah Gladys. "Kenapa?"
"Saya sudah janji makan siang dengan orang lain." Jawab Gladys.
"Dengan siapa?" Tanya Mikael lagi.
"Dengan Ka..."
"Biarin ajalah Gladys makan siang dengan orang lain, paling dia makan siang bersama temannya." Potong Gilang yang sedari tadi memperhatikan Mikael dan Gladys.
"Kenapa Kak Gilang gak jujur kalau saya akan makan siang dengan dia? Yah sudahlah saya nurutnya sama Kak Gilang." Ujar Gladys dalam hati lalu melihat sesaat ke arah Gilang.
"Iya Kak Mika saya akan makan siang bersama teman saya." Timpal Gladys.
"Nih anak kenapa sih malah melihat ke arah Gilang dan dia kenapa lagi kek orang panik gitu." Batin Mikael.
"Iya dengan teman kamu tapi siapa?" Tanya Mikael yang mulai geram dengan Gladys.
"Dion." Jawab Gladys spontan, hanya nama itu yang terlintas di benaknya.
"Dion yang tadi pagi kamu bilang lucu itu?" Tanya Mikael.
Dengan terpaksa Gladys menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan Mikael.
"Kamu lebih pilih makan siang dengan dia daripada dengan pacar kamu?" Tanya Mikael yang sedikit meninggikan suaranya.
Gilang tersenyum melihat wajah sahabatnya itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Mikael pada Gilang.
"Saya baru tau aja, kalau wajah kamu cemburu itu ternyata lucu."
"Sialan kamu, lagian siapa yang cemburu. Diakan cuman temennya Gladys." Kelit Mikael.
"Kak Mika tenang aja. Saya tidak hanya berdua makan siang bersama Dion, ada Mira juga." Ujar Gladys bohong.
"Terserah kamu." Ujar Mikael datar.
Gladys segera keluar dari ruangan Bossnya dan langsung menuju ke meja kerja Mira.
"Ra nanti makan siang kamu makan dimana?" Tanya Gladys.
"Di kantin kantor." Jawab Mira.
"Kamu makan siang di luar kantor aja." Pinta Gladys.
"Enggak mau, mahal tau. Kecuali kamu mau traktir." Ujar Mira.
__ADS_1
"Iya saya traktir tapi kamu harus makan siang di luar, kamu ajak siapa kek gitu untuk temenin kamu. Nih uangnya." Ujar Gladys dan memberikan Mira selembar uang berwarna biru.
"Emang segini cukup?" Tanya Mira yang memegang uang pemberian Gladys.
"Memangnya kamu mau makan apa di laur sana? Emas?"
"Caviar Almas." Jawab Mira dengan bangga.
"Gila, kamu morotin saya kalau gitu namanya." Protes Gladys.
"Canda doang. Walaupun saya gak tau alasan kamu menyuruh saya makan siang di laur tapi saya akan turutin permintaan kamu." Ujar Mira lalu memonyongkan bibirnya dengan gaya centil seakan ingin mencium Gladys.
"Jangan gitu ah, geli tau lihatnya." Perkataan Gladys membuat mereka tertawa kecil. Mereka tidak ingin menganggu yang lain karena suara tawa mereka.
Gladys kembali ke meja kerjanya, dia melanjutkan kerjaannya yang sempat tertunda.
Di sela-sela dia mengerjakan kerjaannya Gladys sempat memikirkan apa yang ingin dibicarakan Gilang padanya, sampai-sampai Gilang tidak membiarkan Mikael tau kalau Gilang mengajak Gladys ketemuan.
"Dys kamu udah kerjain dokumen-dokumen yang saya suruh tadi?" Tanya Teddy.
"Belum, dikit lagi selesai kok." Jawab Gladys.
"Kamu masih ingin cari tempat tinggal murah kan?" Tanya Tedy tiba-tiba.
"Masih lah. Kenapa? Kamu dapat tempat tinggal murah." Tanya Gladys yang mengalihkan pandangannya pada Teddy.
"Iya, di Apertemen Sky Garden." Jawab Teddy.
"Kamu gak salah omong ? Apertemen Sky Garden kan milik Pak Mika, lagian apertemen Sky Garden itu apertemen termahal dan termewah di Indonesia bahkan se-Asia. " Ujar Gladys yang mengingatkan Teddy betapa mewahnya apertemen yang di sebut Teddy tadi. "Saya gak mau menyewa unit apertemen di sana." Tolak Gladys.
"Kamu jangan main nolak dulu." Ujar Teddy.
"Gimana ngomongnya yah, lagian Pak Mika kasib tugas susah bener." Batin Teddy. Dia memikirkan cara agar Gladys mau menyewa unit apertemen di Sky Garden.
"Hello Teddy, nyawa kamu masih disini kan. Tiba-tiba mematung gitu sih." Ujar Gladys heran.
"Gini loh Dys, salah satu unit apertemen di sana tuh punyanya.... temen saya. Dia udah pindah keluar negeri. Nah apertemennya itu dia mau sewain murah daripada kosongkan lebih baik ada yang tinggalin. Hitung-hitung ada yang rawatlah apertemen itu." Jelas Teddy yang berusaha merangkai setiap kata yang di ucapkannya menjadi sebuah cerita yang meyakinkan.
"Memangnya harganya berapa?" Tanya Gladys.
"Tiga puluh juta per tahun." Jawab Teddy bohong, laki-lali itu menjadi gugup. Dia hanya ingin agar Gladys mau menyewa unit apertemen di Sky Garden sesuai perintah Mikael sehingga dia hanya memikirkan angka termurah dan sesikit masuk akal.
"Untuk sekelas Sky Garden biaya sewa yang kamu sebutkan tadi gak masuk akal."
"Masuk akal dong. Temen saya ini sebenranya gak butuh uang sewanya, dia hanya butuh ada orang yang merawat dan tinggal di apertemennya, itu aja. Kamu mau yah?" Bujuk Teddy.
"Saya pikir-pikir dulu"
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣