Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #62


__ADS_3

Dengan lincah jari jemari Gladys memotong daun bawang, slice demi slice Ia terus mengayunkan pisaunya hingga tersisa ujung daun bawang lalu memasukkannya hasil potongannya ke dalam bubur panas yang telah di angkatnya dari panci ke rantang stainless steel.


Selesai dengan masakannya Gladys bersiap untuk menuju ke rumah sakit, tempat Leon di rawat.


Sudah seminggu sejak Leon sadar dari komanya.


Jalan raya yang tidak begitu rame menyebabkan Gladys dapat sampai dengan waktu tidak lama.


Gladys mempercepat langkahnya dia tidak sabar ingin melihat Leon menikmati hasil masakannya, tapi dia juga sangat berhati-hati agar tidak terlalu memgayunkan rantang bubur yang di bawanya. Gladys tidak ingin toping bubur yang telah di plating menjadi berantakan di dalam rantang.


Setelah tiba di depan pintu rawat, tanpa mengetok Gladys langsung membuka pintu berwarna putih di hadapannya.


"Selamat siang Leon." Sapanya sambil melangkah ke meja nakas samping tempat tidur pasien untuk menaruh rantang yang di bawanya tadi.


"Selamat siang." Balas Leon yang mengalihkan pandangannya dari Tv ke Gladys. "Kamu bawa apa? aromanya harum."


"Saya buatkan kamu dakjuk." Jawab Gladys sembari membuka rantang yang di bawanya


(Dakjuk adalah masakan khas korea yang bahan utamanya itu terbuat dari beras, daging ayam, bawang putih, bawang merah. Setelah matang menjadi bubur ayam yang kental dengan rasa khas bawang)


"Waktu di korea kamu suka buatkan saya yachaejuk. Kenapa sekarang gak buat yachaejuk aja?" Tanya Leon sambil mengarahkan remote Tv yang sedari tadi berada di tanganya ke arah Tv flat untuk mengecilkan suara Tv.


(Yachaejuk adalah masakan khas korea yang terbuat dari nasi, biji wijen dan aneka sayuran seperti lobak, wortel dan lain-lain)


"Bukannya kamu gak suka..."


Gladys menghentikan perkataannya, dia memikirkan sesuatu


"Yah Tuhan, bisa-bisa saya berpikir kalau Leon itu gak makan sayur. Ini pasti karena sudah kebiasaan dengan Kak Mika yang tidak memakan sayur." batin Gladys.


"Adys kok diam? Memangnya saya gak suka apa?" Tanya Leon heran melihat Gladys yang tiba-tiba saja menjadi bengong.


"Gak. Kamu suka segala jenis makanan." Jawab Gladys asal.


Selera makan Leon dan Mikael memang berbanding terbalik. Mikael yang pemilih dalam hal makanan, terutama sayur-mayur yang di hindarinya sedangkan Leon menyukai segala makanan, bahkan Leon menyukai sannakji, gurita yang disajikan dalam keadaan hidup.


Kini Gladys telah duduk di samping tempat tidur pasien lalu memberikan makanannya pada Leon.


"Kamu lagi mikirin kerjaan kamu di kantor?" Tanya Leon yang sedaritadi memperhatikan Gladys.


"Gak kok. Saya kan lagi cuti, jadi untuk sementara gak usah mikirin kerjaan dulu."


Flashback On.


Gladys telah selesai menyajikan kopi dan beberapa keping biskuit di ruang kerja Bossnya, dia kembali ke meja kerjanya.


Hatinya yang sedang berbahagia sangat nampak terlihat dari raut wajahnya. Sambil mengerjakan pekejaannya tanpa sadar dia terus membuat segaris senyum yang nampak sangat bahagia.

__ADS_1


"Sepertinya lagi ada yang berbunga-bunga." Ledek Teddy yang sedaritadi memperhatikan Gladys sejak keluar dari ruangan Bossnya hingga sekarang.


"Iya dong, pagi-pagi itu kita harus semangat dan ceria." Balas Gladys. "Oh iya Ted saya rencananya akan mengambil hak cuti tahunan." Lanjut Gladys.


"Memangnya kenapa? Kamu sakit?" Tanya Teddy kaget.


"husss.... saya gak sakit kok. Teman saya baru sadar dari koma jadi saya mau menjaga dia." Jawab Gladys.


"Teman kamu itu gak punya keluarga, kenapa mesti kamu Yang jaga? Memangnya kamu mau cuti berapa lama?"


"Dia itu temen deket saya, saya rindu dengan dia. Saya mau cuti seminggu."


"Kamu mau pakai semua kuota cuti kamu tahun ini?"


Gladya meresponnya dengan anggukan kepala.


"Pak Mika sudah tau? Apa dia ngizinin?" Tanyanya lagi.


PT. Winjaya Development memang memberikan kebijakan bagi karyawan yang tergolong baru memiliki hak untuk cuti paling lama seminggu dan untuk karyawan yang telah bekerja minimal setahun memiliki hak curi paling lama 12 hari. Namun semua itu tergantung dari atasan masing-masing depertement.


***


Selesai dengan pekerjaannya, Gladys segera mengisi formulir cutinya yang telah di ambilnya dari Gilang selaku kepala HRD perusahaan.


Sama seperti Teddy, saat Gladys mengambil formulir cutinya Gilang juga mempertanyakan pertanyaan yang sama pada Gladys.


"Selesai." Gumam Gladys yang memeriksa kembali formulir yang baru saja di isinya.


Gladys segera mengangkatnya.


"Ada apa Kak Mika?" Tanya Gladys setelah menempelkan gagang telepon ke telinganya.


"Bawakan saya dokumen kerjasama dengan PT. Neomedia, sekarang." Perintah Mikael.


"Baik Kak."


Sambungan telepon terputus.


Gladys segera mengambil dokumen yang di minta oleh Bossnya.


Tanpa mengetok pintu Gladys membukanya dan melangkah masuk mendekati meja kerja Bossnya.


"Permisi, ini dokumen yang Kak Mika minta." Ujar Gladys.


"Taruh aja dulu." Ujar Mikael tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


Gladys yang mendengarnya menuruti keinginan Bossnya.

__ADS_1


"Oh iya Kak Mika, Kak Mika sekalian saya mau izin cuti."


Mendengar kata cuti yang keluar dari mulut Gladys, refleks Mikael langsung melihat ke arah wanita yang kini berdiri tepat di depan meja kerjanya.


"Saya gak izinin." Ujar Mikael singkat tanpa mengetahui alasan wanita itu meminta cuti darinya


"Gak bisa gitu dong Kak Mika, saya punya hak untuk mengambil cuti saya." Gerutu Gladys.


"Tapi saya juga punya untuk menolak." Ujar Mikael dingin.


Gladys menggigit pelan bibir bawahnya melihat Bossnya sok perfectnya.


"Apa alasan Pak Mika tidak mengizinkan saya cuti?"


"Karena ... siapa nanti yang akan mengatur jadwal saya? Siapa yang membawakan saya makan siang? siapa yang akan mengurus semua pekerjaan kamu? dan yang tidak kalah pentingnya kamu harus ingat kalau kamu sudah terikat kontrak pacar pura-pura dengan saya."


"Pak Mika tenang aja, soal jadwal, makan siang, smua pekerjaan saya sebelum-sebelumnya sudah saya kerjakan semua dan untuk pekerjaan saya selama 1 minggu kedepannya saya sudah minta tolong ke Teddy..." Gladys menghentikan kalimatnya, dia memikirkan jawaban dari pertanyaan terakhir Bossnya.


"Kenapa diam? Bagaimana dengan perjanjian kontrak kita?" Mikael menatap kesal pada Gladys.


"Kak Mika bisa bilang ke Paman Winjaya dan Tante Nana kalau sedang keluar kota... dinas maybe." Hanya alasan itu yang terpikirkan di kepala Gladys.


Mikael tersenyum kecut mendengar kalimat Gladys yang menyuruhnya berbohong pada orang tuanya.


"Jadi kamu mengajarkan saya untuk berbohong? Mana bohongnya gak masuk akal lagi. Kamu dinas keluar kota sementara Boss kamu ada di kantor."


"Kalau gitu Kak Mika bilang aja kalau saya sedang keluar kota mengujungi sepupu saya yang sedang sakit atau jujur aja kalau saya menjaga temannya saya di rumah sakit. Gampangkan?" Usul Gladys yang berusaha agar Bossnya menyetujui keinginannnya.


Gladys merasa khawatir jika Boss sok perfectnya ini tidak berubah pikiran dan masih tetap tidak mengizinkannya untuk cuti.


Sebenarnya tidak ada masalah baik dengan pekerjaan kantor maupun dengan kontrak perjanjian pacar pura-puranya dengan Gladys tapi yang menjadi masalah adalah dari dalam diri Mikael sendiri karena jika dia mengizinkan Gladys untuk mengambil semua kuota cuti tahunannya itu berarti Mikael tidak dapat melihat wanita itu selama satu minggu kedepan, dia tidak dapat mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Gladys di luar sana dan sedang bersama siapa.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣


__ADS_2