
Tidak menunggu lama pelayan kantin telah menaruh pesanan mereka di atas meja.
"Pacar Kak Gilang apa gak marah kalau dia tau kak Gilang makan siang dengan wanita lain?" Tanya Gladys sembari memberikan piring berisikan nasi goreng yang di bawa pelayan tadi pada Gilang
"Kamu ini bertanya karena benar-benar gak tau atau lagi menyinggung?" Tanya Gilang yang berpura-pura tersinggung dengan omongan Gladys.
"Maaf Kak saya gak bermaksud menyinggung Kak Gilang." Ujar Gladys sedikit panik.
Gilang tersenyum puas melihat ekspresi panik Gladys. "Saya belum punya pacar" Ujarnya.
"Benarkah?" Tanya Gladys tidak percaya sembari menuangkan sambal pada semangkok baksonya.
Gilang menjawabnya dengan anggukan lalu memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
🎵 you, you love it how i move...
Gladys mengambil hp dari saku celananya dan melihat nama yang tertera pada layar hpnya.
"Dari Kak Mika." Ujar Gladys seakan meminta izin pada Gilang untuk menerima telepon dari Mikael
"Angkat aja." Ujar Gilang.
Gladys menggeser tombol hijau pada layar hpnya.
Belum sempat Gladys berbicara orang di seberang sudah terlebih dulu berbicara.
"Kamu dimana?" Tanya Mikael
"Saya lagi di kantin." Jawab Gladys.
Sambungan telepon langsung terputus.
"Kenapa?" Tanya Gilang yang melihat Gladys yang sedang melihat ke layar hpnya seperti orang bingung
"Gak tau. Udah Kak lanjut makan aja." Jawab Gladys.
Belum cukup 10 menit setelah Gladys berbicara dengan Mikael di telepon tadi.
"Itu Mika." Ujar Gilang yang terlebih dulu melihat keberadaan Mikael.
Gladys mengikuti arah pandang Gilang dan melihat Mikael yang sedang menghampiri mereka.
"Geser." Perintah Mikael pada Gladys.
Gladys menuruti perintah Mikael, dia pindah ke kursi kosong di sampingnya begitupun dengan mangkok berisikan bakso miliknya.
Kini Mikael duduk tepat di samping Gladys, dia lalu melihat kearah Gladys.
"Bakso kamu kelihatannya enak, sayang." Ujar Mikael.
"Kak Mika apa-apaan sih pake manggil sayang segala." Maki Gladys.
"Loh kenapa? Kamu kan pacar saya." Ujar Mikael lalu melihat kearah Gilang.
__ADS_1
"Wajar kan kalau orang pacaran panggilannya sayang ke pacarnya. Iya kan Gilang?" Ujar Mikael.
Gilang tersenyum geli melihat Mikael.
Mikael sebenarnya merasa kesal ketika melihat Gladys sedang makan siang bersama Gilang tapi dia tidak mungkin marah-marah di depan para karyawan yang sedang melihat ke arahnya. Alhasil dia menunjukkan kepada orang-orang kalau Gladys itu pacarnya dan tidak ada laki-laki manapun yang boleh mendekatinya walau sahabatnya sekalipun.
"Sayang aaa...." Mikael membuka mulutnya, dia ingin Gladys menyuapinya.
Gladys di buat tidak nyaman, dia melihat ke Mikael dengan kesal. Namun dengan terpaksa Gladys menyuapi Mikael.
"Racikan bakso kamu enak. Buat saya saja yah" ujar Mikael lalu menggeser mangkok bakso ke hadapannya. Dia mulai melahap semangkok bakso milik Gladys.
"Nih anak nyebelinnya kebangetan. Mana karyawan lain pada lihatin lagi." Maki Gladys dalam hati.
"Memangnya kamu gak jadi makan siang bareng pak Gubernur?" Tanya Gilang.
"Jadi." Jawab Mikael dengan mulut yang penuh bakso.
"Kalau gitu kamu udah makan siang dong. Tapi kenapa bakso saya kamu embat?" Omel Gladys
"Makan dengan pak Gubernur rasanya gak nyaman jadi perut saya belum kenyang."
"Dasar perut karet." Maki Gladys dalam hati.
"Dys kalau kamu belum kenyang kamu pesan lagi aja. Biar saya yang traktir." Ujar Gilang.
"Gak usah kak Gilang. Saya udah kenyang lihat si perut karet makan."
Gilang tertawa kecil mendengar Gladys menyebut Mikael si perut karet. Sedangkan Mikael yang mendengarnya melirik kesal ke arah Gladys.
"Akhirnya kenyang juga." Ujar Mikael sambil mengusap perut ratanya.
"Nih minum." Ujar Gladys sambil memberikan botol minum yang baru saja di belinya pada Mikael.
"Mikael emang orangnya doyan makan, apalagi kalau lagi gak ada kerjaan. Makan aja terus kerjanya." Ujar Gilang.
"Tapi kenapa gak gendut-gendut?" Tanya Gladys heran.
"Itu karena saya rajin olahraga. Makanya kamu juga harus rajin olahraga biar pipi tembem kamu ini bisa hilang." Ledek Mikael.
"Kak Mika! Pipi saya gak tembem kok." Ujar Gladys kesal.
Gilang dan Mikael tertawa bersama melihat Gladys yang kesal.
"Balik yuk." Ajak Gilang.
Mereka bertiga pun melangkah menuju ke lift.
"Hai." Sapa seseorang wanita.
"Sarah." Ujar Mikael.
"Ternyata kamu masih ingat dengan saya." Ujar Sarah.
__ADS_1
" Ingatlah! Kamu si cewek sok akrab itu." Ujar Mikael dalam hati.
"Oh iya kenalin kepala HRD kami." Ujar Mikael.
"Hai saya Gilang, kepala HRD Winjaya Development" ujar Gilang lalu mengulurkan tangannya pada Sarah.
"Hai saya Sarah, anak dari pemilik PT Ayustya." Ujar Sarah ramah sambil menjabat tanga Gilang.
"Mbak Sarah rapatnya bukannya di perusahaan PT Ayustya yah dan bukannya masih ada waktu 2 jam lagi sebelum rapat?" Tanya Gladys heran setelah melihat ke jam tangan yang dipakainya.
"Saya ingin bertemu dengan Mika, ada beberapa hal yang ingin saya bahas terkait pembangunan pabrik di Desa A." Jawab Sarah lalu mendekati Mikael. Gladys yang berada di dekat Mikael langsung tergeser ke samping Gilang.
"Ups maaf jangan terlalu dekat, pacar saya ada disini." Ujar Mikael yang menjauhi Sarah.
"Mana? Saya gak lihat." Tanya Sarah sambil melihat sekeliling kantor.
"Orang yang kamu geser posisinya tadi adalah pacar saya." Jawab Mikael lalu menarik tangan Gladys untuk mendekatinya.
"Dia kan asisten kamu. Gak banget kamu pacaran sama asisten sendiri." Ujar Sarah sinis.
"Saya sayang sama dia." Ujar Mikael.
Gladys mulai merasa tidak nyaman, pasalnya beberapa pasang mata mulai melihat ke arah mereka.
"ee... Mbak Sarah gimana kalau kalian lanjutkan pembicaraannya di ruang rapat aja, biar lebih nyaman." Ujar Gladys.
"Gak mau. Saya mau ke ruangan Mika." Ujar Sarah ketus
"Kenapa harus ke ruangan saya?" Tanya Mikael yang tidak kalah ketus.
"Yah udah kalau gitu ke ruangan Kak Mika aja." Ujar Gladys.
Gilang lalu memencet tombol di samping lift.
"Kamu kenapa setuju sih sayang?" Tanya Mikael geram pada Gladys yang mendukung keinginan Sarah.
"Gak papa, kamu ikuti aja keinginan dia. Dia kan klien terpenting di perusahaan, kalau sampai di batalin kerjasamanya gimana? Bisa gawat." Bisik Gladys pada Mikael.
Pintu lift terbuka dan mereka berempat masuk ke dalam lift.
Gladys menekan tombol bertuliskan angka 25
Mikael memegang telapak tangan Gladys, dia merasa kesal melihat Sarah yang terus berada di dekatnya.
"Perasaan saya kok jadi gak enak yah." Batin Mikael.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...