
"Gladys." Panggil Mikael yang merasa panik melihat kondisi Gladys.
"Pak Mika , Gladys kenapa?" Tanya Teddy yang baru saja tiba di cafe rumah sakit.
"Dia pingsan." Jawab Mikael lalu menggendong Gladys. "Kita ke mobil sekarang." Lanjut Mikael.
Tanpa berkata apa-apa Teddy mengikuti keinginan Bossnya.
Untungnya Teddy memarkir mobil tidak jauh dari pintu keluar cafe rumah sakit.
Teddy membantu membukakan pintu tengah mobil.
Mikael membaringkan Gladys agar wanita itu merasa lebih nyaman dengan posisi paha Mikael mejadi bantal dikepala Gladys.
Mikael mengeluarkan hpnya dari saku celananya dan mengetikkan nama seseorang lalu menempelkan hpnya ke telinga.
Tidak menunggu lama terdengar suara di seberang.
"Halo Dokter Nano sekarang bisa apertemen saya?" Tabya Mikael dengan suara panik.
"Bisa bisa, saya kesana sekarang." Terdengar suara di seberang.
"Terimaķasih Dok."
Panggilan telepon terputus.
"Aneh banget, jelas-jelas tadi Gladys pingsannya di rumah sakit kenapa mesti susah-susah panggil Dokter ke apertemen. Kan bisa langsung....." Batin Teddy yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Bossnya.
Mereka telah tiba di pusaran apertemen termewah di ibu kota atau mungkin termewah di seluruh Indonesia.
Dengan sigap Teddy langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Bossnya yang sedang menggendong Gladys.
"Sekarang kamu telepon Dokter Nino tanya posisinya sekarang dimana." Perintah Mikael lalu melangkah dengan cepat menuju ke lift.
Tidak menunggu lama lift telah terbuka dan mereka melangkah masuk.
"Apa kata Dokter Nano?" Tanya Mikael setelah melihat Teddy menekan tombol merah di layar hpnya.
"Katanya dia sudah dekat dengan apertemen." Jawab Teddy.
"Bagus." Ujar Mikael lalu melihat ke wajah Gladys yang terlihat sedang tertidur lelap di gendogan Mikael.
"Kamu harus segera sadar." Gumam Mikael.
Pintu lift kembali terbuka.
Hanya melangkah beberapa langkah saja dari lift mereka telah sampai di depan pintu unit apertemen Mikael.
Mikael menempelkan jempol jari kanannya ke gagang pintu dan seketika itu juga pintu unit apertemen Mikael terbuka.
Begitu masuk Teddy langsung membuka pintu kamar tamu, dia tau kalau Bossnya paling tidak suka jika tempat tidurnya di tiduri oleh orang lain.
"Kenapa buka pintu kamar tamu sih? Buka pintu kamar saya." Perintah Mikael yang merasa geram dengan sekretarisnya.
__ADS_1
"Semakin kesini keknya Boss semakin aneh. Yang pertama dia sekarang udah makan sayur, kedua orang lagi pingsan bukannya di rawat di rumah sakit malah di bawa ke apertemen, ketiga ..... Bodoh ah. Kalau orang jatuh cinta emang bawaannya aneh." Batin Teddy.
"Kenapa begong, gak denger suara bell bunyi?" Bentak Mikael.
Teddy langsung tersadar dari lamunannya dan segera ke pintu.
***
"Gimana keadaannya Dok?" Tanya Mikael.
"Apa sebelum Nona Gladys pingsan dia ada mengeluh sakit perut?" tanya dokter Nano.
"Iya dok, benar Gladys sempat mengeluhkan perutnya sakit." Jawab Mikael.
"Kemungkinan besar nona Gladys mengalami Irritable Bowel Syndrome atau iritasi usus besar." ujar dokter Nano.
"Apa itu berbahaya?" Tanya Mikael.
"Jika tidak obati dengan tepat maka bisa berbahaya." jawab dokter Nano.
"Kalau boleh tau apa yang menyebabkan Gladys mengalaminya Dok?"
"Bisa jadi karena makanan, bisa jadi karena faktor genetik, atau karena stres yang cukup berat."
"Stress? Apa karena laki-laki itu?" Batin Mikael.
"Oh iya ini saya berikan resep tolong di tebus." Ujar Dokter Nano lalu memberikan selembar kertas pada Teddy.
"Jika nanti setelah meminum resep obat yang saya berikan dan nona Gladys masih saja sakit perut atau bahkan diare, segera hubungi saya." Jelas Dokter Nano.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter Nano.
"Mari dok saya antar." Ujar Teddy.
"Oh iya Ted kamu telpon Bi Jum, suruh dia datang menggantikan pakaian Gladys." Perintah Mikael.
"Baik Pak."
Bi Jum adalah asisten rumah tangga Mikael yang telah bekerja sejak Mikael memiliki apertemen sendiri. Awalnya Bi Jum bekerja di rumah utama namun Mikael memutuskan untuk memperkajan Bi Jum hanya untuk di apertemennua saja.
Sepeninggal Dokter Nano dan Teddy, Mikael langsung menghempaskan badannya ke sofa tunggal samping tempat tidurnya. Dia menatap Gladys lekat.
"Sakit rasanya melihat kamu terbaring lemah seperti ini. Apa sampai segitunya kamu menyukai laki-laki brengsek itu? Sampai membuat kamu pingsan." Tanya Mikael yang tentunya tidak ada respon dari Gladys.
"Saya berjanji akan selalu melindungi kamu dan tidak akan membiarkan walau satu orang pun untuk menyakiti kamu terutama keluarga dari laki-laki brengsek itu." Lanjutnya yang mengingat saat kejadian di cafe rumah sakit saat Lina mendorong Gladys.
Mengingat kejadian itu membuat amarah Mikael kembali memuncak, dia mengepal kedua tangannya.
***
"Tuan Mika." Panggil seseorang.
Mikael yang merasa terganggu dengan tidurnya menggeliat dan berusaha membuka matanya yang terasa berat. Di lihatnya seorang wanita parubaya yang sudah tidak asing baginya.
__ADS_1
"Ada apa Bi Jum?" Tanya Mikael dengan suara parau.
"Maaf saya menganggu tidur Tuan. Apa hari ini tuan tidak ke kantor?" tanya Bi Jum
"Tidak Bi Jum." Jawab Mikael singkat lalu memperbaiki posisinya dan melihat Gladys masih terbaring dengan mata tertutup.
"Baik tuan."
"Bi Jum apa sejak kemarin Gladys masih belum sadar?" Tanya Mikael.
"Tidak tuan, non Gladys belum sadarkan diri sejak kemarin."
"Yah sudah Bi" Ujar Mikael. "Oh iya Bi Jum tolong buatkan saya kopi yah." Pintah Mikael.
"Baik Tuan. Saya pamit ke dapur dulu." Bi Jum keluar dari kamar Mikael dan menutup pelan pintu kamar.
Mikael memindahkan posisinya duduknya ke tepi tempat tidur, dia ingin melihat Gladys lebih dekat.
Dia mengusap lembut kepala Gladys.
Tiba-tiba saja Gladys nampak seperti orang yang sedang panik, wanita itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri berulang kali.
"Gladys." Panggil Mikael pelan mencoba membangunkan wanita itu dari tidurnya.
Gladys langsung membuka matanya dan hembusan napasnya yang tidak beraturan seperti orang yang habis lari maraton.
"Kamu gak papa kan Dys?" Tanya Mikael.
Begitu melihat keberadaan Mikael membuat Gladys terkejut, dia langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Kak Mika gapain di sini? Kak Mika gak bisa berada disini. Gimana nanti kalau Leon melihat Kak Mika ada di apertemen kami, dia bisa salah paham. Sekarang saya minta kak Mika keluar." Bentak Gladys.
"Kamu tenang dulu. Ini apertemen saya, kemarin kamu pingsan di cafe rumah sakit. Apa kamu ingat?" Tanya Mikael mencoba membuat Gladys menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Perkataan Mikael membuat Gladys terdiam, dia mulai mengingat apa yang terjadi kemarin padanya di cafe rumah sakit.
"Nggak, Leon gak mungkin minta putus dari saya. Kita bahkan sudah berjanji untuk pergi traveling berdua setelah dia keluar dari rumah sakit. Tidak.... tidak...." Ujar Gladys dengan suara gos-gosan dan dada yang kembang kempes. wanita itu masih belum bisa menerima kenyataan.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣