
Hari ini cuaca sangat cerah, begitu pun juga dengan suasana hati Gladys.
Wanita itu begitu bahagia karena hari ini dia bisa bertemu dengan Leon.
"Selamat siang Leon." Sapa Gladys ketika membuka pintu ruang rawat Leon.
Tidak ada balasan dari orang yang di sapa.
Leon tetap fokus pada aktivitasnya menonton Tv.
Seperti nya dia sedang marah, begitu pikir Gladys.
Gladys membuka rantang yang di bawanya lalu memberikan Leon makanan yang di masaknya hari ini spesial untuk Laki-laki di hadapannya itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Gladys tanpa tau penyebab Leon marah padanya.
"Gak. Saya gak kenapa-kenapa." Jawab Leon yang telah mengambil makanan yang diberikan Gladys.
"Kita pacaran udah lama, saya tau kalau kamu sekarang sedang marah. Kamu kenapa? Kalau kamu gak cerita saya gak tau apa salah saya." Jelas Gladys.
"Saya ingin kita selalu bersama selama-lamanya. Saya ingin kita traveling berdua aja." Ujar Leon datar.
Gladys tau kalau dari dulu kekasihnya memiliki keinginan untuk traveling berdua dengannya tapi Gladys merasa ada yang aneh dengan ucapan Leon yang Gladys sendiripun tidak paham keanehan itu.
"Ok. Setelah kamu di izinkan keluar dari rumah sakit kita atur waktu untuk traveling berdua." Ujar Gladys setuju.
Leon hanya meresponnya dengan senyuman lalu menyendokkan sesuap yachaejuk ke dalam mulutnya, pandangannya masih pada layar Tv.
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Gladya ragu. Dia merasa heran dengan respon yang diberikan Leon.
"Saya ingin kita travelingnya sekarang. Bukan saat saya telah keluar dari rumah sakit." Ujar Leon ketus.
Gladys semakin merasa ada yang salah dengan kekasihnya.
"Tapi kamu harus benar-benar pulih dulu baru kita bisa traveling."
Leon mengalihkan pandangannya dari layar Tv ke Gladys, dia melihat Gladys dengan tatapan tajam. Leon menyimpan makanannya di atas tempat tidur lalu menggeser posisi duduknya hingga seluruh tubuhnya menghadap ke Gladys.
"Saya sudah sehat dan saya hanya ingin berdua saja dengan kamu. Kamu sudah gak ingin kita traveling berdua? Kenapa Tuhan gak bisa membiarkan saya bahagia?" Bentak Leon tiba-tiba yang membuat Gladys sontok berdiri dan melangkah mundur beberapa langkah.
Gladys tergegau melihat sikap Leon padanya. Ternyata memang benar firasatnya kalau ada yang aneh dengan Leon hari ini. Pikir Gladys
"Kamu membuat saya takut." Lirih Gladys yang masih melihat Leon yang terlihat marah tanpa sebab yang jelas.
Perkataan Gladys membuat Leon tersadar, dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar mencoba menenangkan dirinya.
"Saya minta maaf. Gak seharusnya saya membentak kamu." Ujar Leon yang merasa bersalah dengan kekasihnya itu.
Leon kelepasan, dia meluapkan amarahnya pada Gladys, semua beban pikiran yang terus menganggunya, yang otaknya sendiripun seperti sudah tidak dapat menampung beratnya beban pikirannya.
__ADS_1
"Saya ingin ke kamar mandi dulu." Ujar Leon pelan.
Dengan perasaan sedikit ragu Gladys mendekatkan dirinya pada Leon, dia membantu laki-laki itu melangkah menuju ke kamar mandi.
Setelah membantu Leon, Gladys menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk di dalam ruang rawat. Wanita itu tidak habis pikir apa yang menyebab Leon bisa berubah seperti orang yang tidak kenalnya tadi.
"Apa maksud perkataannya kalau Tuhan tidak membiarkannya bahagia? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia ngotot ingin traveling sekarang? Padahalkan sebelum-sebelumnya Leon hanya sekedar mengucapkan keinginannya saja karena Leon sendiripun tidak tau kapan rencana itu bisa terjadi." Tanya Gladys dalam hati dengan perasaan gusar.
Dia ingin sekali menanyakan langsung pada Leon semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya, tapi Leon tidak mungkin menceritakan semua permasalahannya pada Gladys. Dia cukup tertutup.
Sejak awal mereka berpacaran Leon akan selalu menyembunyikan permasalahannya pada Gladys, padahal wanita itu selalu menceritakan pada Leon setiap cerita dari kehidupannya tanpa di tutup-tutupin.
Leon hanya sering menceritakan pada Gladys masa-masa kecilnya, perasaan Leon ketika papanya jatuh sakit, kakaknya yang sangat baik padanya.
Bahkan Leon tidak menceritakan jika mamanya tidak menyukai Gladys. Hingga suatu ketika Gladys mengangkat telepon dari Lina dan dari situ Gladys tau kalau Lina tidak menyukainya dan mengganggapnya sebagai pembawa sial bagi anaknya berdasarkan perkataan dari seorang peramal.
"Tunggu dulu, apa masalah Leon ada hubungannya dengan Tante Lina?" Tanya Gladys dalam hati.
"Tapi tidak mungkin. Tante Lina kan tau kalau sekarang Leon sedang masa pemulihan dan tidak boleh banyak beban pikiran. Mana ada orang tua yang tidak ingin anaknya cepat pulih. Oh My God, What's wrong with you Honey? " Batin Gladys.
Dia ingin sekali untuk membantu Leon keluar dari permasalahannya.
"Sekarang saya harus bagaimana untuk membantu kamu?" Batin Gladys.
"Sayang." Panggil Leon yang telah berdiri si amban pintu kamar mandi.
"Gladys Santoso." Panggil Leon sekali lagi.
"Aa iya.... kamu sudah selesai?" Ujar Gladys terkejut. Segera dia membantu Leon kembali ke tempat tidurnya.
"Saya minta maaf. Tadi kamu pasti kagetkan? Tapi saya gak bermaksud membentak kamu Sayang." Ujar Leon lalu membawa Gladys ke dalam pelukannya.
Gladys meresponnya dengan anggukan.
Setelah Leon melepas pelukannya, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tidak mrlanjutkan makannya. Leon sudah hilang selera.
"Kamu istirahat aja dulu." Ujar Gladys.
"Apa kamu jngin menemani saya ke taman rumah sakit?" Tanya Leon lembut.
"Apa lagi ini jalan-jalan?"
"Iya, saya ingin menghirup udara segar."
Gladys mengambil kursi roda Leon yang di simpan dekat pintu keluar lalu mendekatkannya ke tempat tidur untuk mempermudahkan Leon memindahkan posisinya ke kursi roda.
Taman Rumah Sakit
"Sayang, kita berhenti dulu." Pinta Leon.
__ADS_1
Gladys langsung menghentikan mendorong kursi roda Leon.
"Kamu coba berdiri di antara bunga-bunga itu." Ujar Leon sambil menunjukkan ke bunga-bunga yang sedang bermekaran indah, menambah kecantikan taman rumah sakit yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tenang.
Gladys menuruti keinginan Leon walau dia masih belum mengerti alasan Leon menyuruhnya, dia melangkah menuju bunga-bunga dan berdiri diantaranya.
Sementara Leon, mengaluarkan benda kecil dari dalam saku bajunya.
"Kamu udah punya hp?" Tanya Gladys.
"Iya. Baru kemarin Kak Lea memberikannya." ja
Jawab Leon. "Sekarang kamu pose secantik mungkin, saya ingin mengambil beberapa foto kamu." Lanjut Leon.
"Nggak ah malu, di lihatin orang." Ujar Gladys.
"Gak papa, buat kenang-kenangan aja. Sekarang kamu siap-siap 1.... 2.... 3" Mikael menekan tombol di layar hpnya.
Gladys hanya berpose biasa-biasa saja, dia merasa malu di lihat dengan orang-orang yang sedang berada di taman.
Setelah Gladys merasa cukup dengan fotonya, dia ingin foto berdua dengan Leon.
"Sekarang kita foto berdua yah." Ujar Gladys lalu melangkah menghampiri Leon yang telah menyetujui idenya.
"Gladys." Panggil seseorang yang membuat Gladys menghentikan langkahnya dan berbalik ke sumber suara.
Betapa terkejutnya Gladys saat melihat orang yang memanggilnya.
"Kak Mika." Ujar Gladys yang membelalakkan matanya melihat Mikael yang sedang melangkah mendekatinya.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣
__ADS_1