Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #42


__ADS_3

Dengan terburu-buru Gladys menaiki ojol yang telah di pesannya.


Dia memegang erat tas kantornya yang berisikan sejumlah uang yang akan diberikannya kepada Lina.


Setelah 1 jam perjalanan Gladys telah tiba di tempatnya janjian dengan Lina, House cafe.


Sesuai dengan namanya cafe ini memang seperti rumah dan ketika masuk para pengunjung akan di sambut dengan foto-foto para pengunjung yang terpajang di dinding cafe seperti kita memasuki rumah seseorang yang di dinding di hiasi dengan foto-foto pemilik rumah.


Gladys mencari keberadaan Lina, namun dia tidak menemukannya. Gladys memutuskan untuk mencari meja kosong dan menunggu Lina datang.


Salah satu pelayan menghampiri Gladys untuk menyakan pesanan Gladys.


Gladys sebenarnya ingin memesan kopi bukan karena dia menyukai minuman itu tapi dia ingin agar rasa ngantuk dan lelahnya karena menjaga Mikael semalaman bisa hilang. Namun sayangnya Gladys tidak menyukainya.


"Saya pesan susu cokelat anget 1." Ujar Gladys ramah.


"Masih ada yang lain Mbak?" Tanya pelayan cafe.


"Untuk saat ini, itu aja dulu." Jawab Gladys.


"Baik. Di tunggu yah Mbak." Ujar pelayan cafe lalu meninggalkan Gladys.


Tidak menunggu lama pesanannya telah datang, dia meniup susu cokelat hangatnya lalu menyeruputnya.


Gladys melihat ke pintu masuk cafe, Lina baru saja turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam cafe dengan gaya khasnya bak ibu-ibu pejabat dan menghampiri Gladys.


"Mana uangnya?" Tanya Lina sambil melepas kacamata hitamnya.


"Tante gak ingin duduk dulu, biar saya panggilkan pelayan." Ujar Gladys sopan.


"Gak usah. Saya masih banyak urusan." Ujar Lina datar.


Gladys memgeluarkan amplop cokelat tebal dari dalam tasnya dan langsung memberikan pada Lina.


"Ternyata kamu cukup bisa di andalkan." Ujar Lina lalu meninggalkan Gladys.


"Dasar bodoh." Gumam Lina lalu tersenyum sinis.


***


Jarak house cafe dan kantornya sangat dekat, Gladys memutuskan untuk berjalan kaki.


Sesampainya di kantor Gladys langsung menuju ke toilet untuk memperbaiki riasan dan penampilannya.


Setelah selesai Gladys menuju ke lift, dia menekan tombol samping lift untuk menuju ke lantai 25.


Pintu lift terbuka.


"Kamu darimana saja?" Tanya Teddy ketika melihat Gladys.


"Saya tadi ada urusan." Jawab Gladys sembari mengeluarkan buku jadwal Mikael untuk menunda jadwal Mikael hari ini.


Pintu di hadapan mereka terbuka.


"Kamu masuk sekarang." Perintah Mikael lalu kembali menutup pintu ruangannya.


"Kak Mika kok ada di kantor?" Tanya Gladys yang pada Teddy, dia terkejut melihat Mikael yang datang ke kantor. Tanpa menunggu jawaban Teddy, Gladys masuk ke dalam ruang CEO.


Ruang CEO


"Kak Mika kenapa ke kantor? Tadi saya sudah menyuruh Teddy mengantar Kak Mika ke apertemen Kak Mika." Ujar Gladys yang menghampiri Mikael di meja kerjanya.


"Saya sudah merasa baikan." Jawab Mikael datar. "Kamu tadi dari mana? Kamu kan sudah janji untuk menunggu saya di luar." Tanya Mikael yang berdiri dari kursinya.

__ADS_1


"Tadi saya ada urusan makanya saya tidak menunggu Kak Mika keluar dari ruang rawat." Jawab Gladys.


"Urusan apa? Sampai kamu mengingkari janji kamu." Tanya Mikael geram.


"Urusan pribadi. Lagian saya hanya berjanji untuk menunggu kak Mika di laur saja dan tadi sudah ada Teddy yang mengurus Kak Mika."


Mikael tersenyum sinis. "Urusan pribadi? Saya ini pacar kamu." Bentak Mikael yang membuat Gladys terkejut.


"Iya kamu memang pacar saya, pacar di atas kertas. Lagian di dalam perjanjian yang Kak Mika buat itu sudah tertulis untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kenapa kak Mika sekarang seak..."


"Stop. Saya gak suka mendengarnya." Ujarnya Mikael yang meninggikan suaranya. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan Gladys bahwa hubungan mereka hanya diatas kertas.


"Tapi memang itu kenyataannya." Ujar Gladys yang berusaha menahan amarahnya.


Mikael mendekati Gladys dan dengan cepat dia mendaratkan bibirnya pada bibir Gladys untuk membuat wanita itu berhenti berbicara tentang hubungan mereka. Hatinya benar-benar sakit mendengar kata-kata itu keluar dari bibir mungil Gladys.


Gladys yang menerima ciuman Mikael hanya terdiam, dia membelalakkan matanya seakan biji matanya akan keluar dari tempatnya saking terkejutnya.


Mikael melepaskan kecupannya dari bibir Gladys dan dia ikut terkejut dengan apa yang di lakukannya pada Gladys.


"Gladys saya ..."


Tanpa mendengar ucapan Mikael, Gladys pergi meninggalkan Mikael.


Dia berlari keluar menuju ke lift dengan air mata terus mengalir di pipinya. Dia sudah tidak memperdulikan Teddy dan Mira yang terus memanggilnya.


Di dalam lift dia terus membayangkan Mikael yang mencium bibirnya.


Dia ingin pulang tapi dia juga tidak ingin orang-orang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Gladys memutuskan menuju ke rooftop untuk menenangkan pikirannya.


Rooftop kantor


Gladys duduk di kursi batu dekat gazebo.


"Ada apa dengan kamu Gladys? Kenapa kamu hanya diam saja. Kenapa kamu tidak mendorongnya ketika dia mencium kamu tadi?" Tanya Gladys pada dirinya.


Apa saya sudah berselingkuh dari Leon? Pikirnya.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, pandangannya menjadi kabur. Dia merasa dirinya seakan melayang.


"Gladys." Panggil seseorang.


Gladys hanya melihatnya samar-samar dan seketika itu juga semuanya terasa gelap, tubuhnya ambruk.


***


Ruang CEO


"Gimana keadaan Gladys dokter? Dia baik-baik sajakan? kenapa dia belum sadar Dok?" Tanya Mikael tidak sabar.


Setengah tersadar Gladys mendengar suara seseorang yang terdengar panik.


Gladys membuka matanya dan melihat sekeliling ruang, dia mendapati Mikael yang sedang memegang telapak tangannya dan melihat kearahnya dengan ekspresi panik.


"Dokter Gladys sudah sadar." Ujar Mikael.


"Lihat kan dia sudah sadar. Nona Gladys hanya perlu istirahat saja dan ini resep obatnya. Jadi anda tenang saja Pak Mikael." Ujar dokter sembari memberikan selembaran kertas pada Gilang.


"Nona Gladys semoga cepat pulih yah." Ujar Dokter tadi pada Gladys.


"Iya Dok terimakasih." Ujar Gladys yang merasa kepalanya masih berat.


"Mari dok saya antar." Ucap Teddy.

__ADS_1


Gladys berusaha bangun tapi Mikael menahannya.


"Sudah kamu gak usah bangun dulu, kamu istirahat saja." Ujar Mikael pelan lalu mengusap lembut kepada Gladys.


"Saya kok bisa di ruangan Kak Mika?" Tanya Gladys.


"Gilang menelepon saya katanya kamu pingsan di rooftop. Jadi saya mengendong kamu kesini." Jawab Mikael datar lalu melepas genggaman tangannya pada Gladys.


Flashback On


Gilang keluar dari lift, dia melangkah menuju ke ruang CEO tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Gladys tidak ada di meja kerjanya. Dia hanya melihat Teddy dan Mira yang sedang mengobrol.


"Gladys kemana Ted?" Tanya Gilang.


"Baru saja Gladys pergi. Sepertinya dia habis bertengkar dengan Pak Mika, tadi dia keluar dari ruang CEO dalam keadaan menangis." Jawab Teddy.


"Kamu tau dia kemana?" Tanya Gilang lagi.


"Sepertinya dia ke lantai atas Pak Gilang." Jawab Mira.


Apa dia ke rooftop? Pikir Gilang.


"Yah sudah kalau begitu. Terimakaaih yah." Ujar Gilang lalu kembali ke masuk ke dalam lift.


Dia menekan tombol yang bertuliskan angka 28 di samping pintu lift.


Sesampainya, dia langsung menuju ke rooftop.


"Gladys." Panggil Gilang.


Betapa terkejutnya Gilang melihat wajah Gladys yang pucat dan seketika itu juga tubuh Gladys ambruk. Gilang dengan sigap langsung menahan tubuh Gladys agar tidak terjatuh ke lantai.


Ketika dia ingin menggendong Gladys untuk di bawa ke rumah sakit. Tiba-tiba saja hp di saku celananya berbunyi.


Gilang mengeluarkan hp dan mengeser tombol hijau di layar hpnya.


"Halo Teddy."


"Pak Gilang sudah menemukan Gladys? Pak Mika menyuruh saya mencari tahu keberadaannya." Ujar Teddy.


"Dia pingsan di rooftop."


Panggilan telepon terputus.


.


.


.


.


.


Bersambung....


hai guys


jangan lupa tinggalkan jejak yah 😉


like, dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2