
Piringan matahari berlahan menenggelamkan dirinya, sinarnya kini sudah tidak seterik saat di siang hari.
Gladys melihat ke arah sofa yang di duduki Winjaya dan Nana, namun tidak menemukan keberadaan orang tua Mikael.
"Paman dan Tante kemana Kak Mika?" Tanya Gladys.
"Gak tau " Jawab Mikael tanpa memalingkan wajahnya pada Gladys, dia sibuk memainkan hpnya.
Gladys lalu melihat Yulin yang masih menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Pamannya.
"Kak Mika, Yulin udah tidur." Ujar Gladys sedikit berbisik.
Mikael menghentikan aktivitasnya dan melihat keponakannya. Benar saja Yulin telah tertidur pulas di pangkuannya.
"Pegang dulu." Mikael memberikan hpnya pada Yulin lalu pelan-pelan dia mengubah posisi Yulin untuk memudahkannya membawa Yulin ke tempat tidur.
"Kamarnya dimana?" Ujar Gladys pelan.
"Disebelah sana, dekat kamar Papa dan Tante Nana." Jawab Mikael sambil menunjuk arah kamar Yulin dengan memajukan dagunya.
Mereka melangkah menuju ke kamar Yulin.
Saat mereka hampir sampai di depan kamar Yulin, Gladys memepercepat langkahnya untuk membuka pintu kamar.
Dengan lembut Mikael menurunkan Yulin dari gendongannya ke atas tempat tidur.
Yulin yang merasa tidurnya terusik membuatnya menggeliat dan hendak menangis. Untungnya dengan sigap Gladys langsung duduk di samping tempat tidur dan menepuk pelan pantat Yulin sambil mengeluarkan suara "ssshh" dari bibirnya agar anak itu kembali tertidur pulas.
Mikael yang memperhatikan apa yang dilakukan Gladys tanpa sadar menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.
"Selain pintar masak, kamu juga ternyata telaten dalam mengurus anak kecil. Kamu bisa membujuk Yulin untuk tidak lagi makan permen, kamu bisa menenangkan Yulin seperti sekarang ini. Apa nantinya saya bisa mendapatkam wanita seperti kamu? Tapi alangkah lebih bagusnya jika wanita itu adalah kamu, Gladys" ujar Mikael dalam hati.
Setelah melihat Yulin yang telah kembali tertidur, Gladys menarik selimut di bawah kaki anak itu dan menyelimutinya dengan lembut.
"Sekarang kita keluar." Ujar Gladys dengan suara berbisik pada Mikael.
Saat Gladys akan keluar dari pintu kamar Yulin, dia berbalik dan mendapati Mikael yang masih berdiri di tempatnya.
"Gapain masih berdiri di situ?" Tanya Gladys heran yang membuat Mikael kembali tersadar.
"Ayo." Gladys setengah mendorog Mikael keluar dari kamar Yulin.
Kini mereka telah berada di depan kamar Yulin.
"Pak Sugi, tolong suruh suruh mbak Pia buat nemenin Yulin, dia lagi tidur sekarang di kamarnya." perintah Mikael pada kepala pelayannya ketika pak Sugi lewat di sepan mereka.
"Maaf Tuan Mbak Pia hanya mengantar Nona Kecil ke ibu kota dan langsung balik ke kota M setelah bertemu dengan Nyonya dan Tuan besar di bandara." Ujar Pak Sugi.
"Loh bukannya Mbak Pia yang selalu nemenin Yulin?" Tanya Mikael heran.
"Katanya Mbak Pia, dia harus segera kembali ke kota M, ada yang harus dia urus katanya bersama Nona." Jawab Pak Sugi.
"Yah sudah kalau gitu. Suruh Mbak Sinar aja yang nemenin, dia juga dekat dengan Yulin. Takutnya nanti Yulin bangun2 nangis lagi gak ada yang dengar." Ujar Mikael.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Pak Sugi berpamitan lalu meninggalkan mereka berdua untuk melaksanakan perintah Mikael.
"Emang Yulin kalau bangun langsung nangis yah?" tanya Gladys yang sedaritadi mendengar percakapan Pak Sugi dan Mikael.
"Iya. Setiap kali bangun biasa Yulin akan menangis jika dia tidak melihat siapapun di sampingnya." Jawab Mikael.
"Oh iya Kak, Paman dan Tante kemana?" Tanya Gladys lagi.
"Mungkin tidur." Jawab Mikael sambil berjalan menuju ke ruang tengah yang diikuti oleh Gladys.
"Kak Mika." Panggil Gladys.
"Yah." Mikael menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Gladys yang berada di belakangnya.
"Kita bakalan pulang jam berapa? Soalnya saya belum ajarkan Tante Nana tentang cupcake tapi hari sudah sore gini." Ujar Gladys.
"Tunggu Tante Nana bangun aja." Jawab Mikael yang berharap Nana akan tidur lebih lama dari biasanya agar dia bisa berdua saja dengan Gladys.
"Takutnya kemalaman Kak Mika." Ujar Gladys sedikit panik.
"Terus maunya gimana?" Tanya Mikael.
"Gimana kalau kita masak sekarang cup cakenya?" Usul Gladys.
"Terus Tante Nana gimana?"
"Saya tulis aja kali yah resepnya." Ujar Gladys bingung.
"Enggak." Jawab Gladya singkat.
"Yah udah sekaramg kita ke dapur, saya bantuin kamu masak. Gimana?" Tanya Mikael.
"Memangnya Kak Mika bisa?" Tanya Gladys tidak percaya.
"Bisalah."
"Yah udah kita ke dapur sekarang."
Mereka melangkah menuju ke dapur. Ketika sudah sampai di dapur Gladys dan Mikael melihat Bi Yuyun yang sedang mempersiapkan bahan-bahan masakan.
"Tuan Mika, Non Gladys." Sapa Bi Yuyun ketika menyadari keberadaan mereka berdua.
"Bi kantongan plastik yang isinya bahan-bahan kue Bibi taruh dimana? Saya mau buat cupcake." Tanya Gladys.
"Ada di lemari atas, di sudut Non. Isi nya semua bahan-bahan kue di lemari itu." Jawab Bi Yuyun. "Non mau saya bantu buat cupcakenya?" Lanjut Bi Yuyun.
"Gak usah Bi biar saya saja yang bantu Gladys." Ujar Mikael cepat. Dia tidak ingin Gladys menyetujui tawaran Bi Yuyun.
Mikael memberi kode dengan menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar kepada Bi Yuyun. Posisi Mikael yang berada tepat di belakang Gladys membuat Gladys tidak dapat melihat kode yang diberikan Mikael pada Bi Yuyun.
"Yah udah kalau gitu Tuan, non. Bibi pamit dulu." Bi Yuyun yang memgerti dengan kode yang diberikan Tuan mudanya itu segera pergu meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Loh kenapa keluar Bi? Di sini aja. Kita sama-sama di dapur." Ujar Gladys heran. Sebab sayur yang di kerjakan oleh Bi Yuyun tadi di simpannya kembali ke kulkas.
"Bibi masih ada kerjaan di luar Non." Jawab Bi Yuyun bohong.
"Yah udah kalau gitu Bi." Ujar Gladys.
Sepeninggalnya Bi Yuyun.
Gladys melangkah menuju lemari sudut yang di tunjuk oleh Bi Yuyun tadi untuk mengambil bahan-bahan cupcakenya.
"Bisa ambil gak?" Tanya Mikael ketika melihat Gladys yang sedikit kesulitan mengambil bahan-bahan kuenya.
"Bisa." Jawab Gladys singkat sambil menjinjitkan kakinya berusaha menggapai tepung terigu yang telah tersentuh ujung jarinya.
"Kalau gak bisa gomong." Ujar Mikael lalu mendekati Gladys yang berjarak sekirar 2 meter darinya.
Teggg
Tiba-tiba saja tepung terigu yang sedikit lagi di pegang oleh Gladys terjatuh.
Mikael yang melihatnya sedikit berlari untuk menangkis tepung terigu agar tidak mengenai Gladys. Dan seketika itu juga terjadi hujan tepung terigu.
Ketawa Gladys meledak ketika melihat penampilan Mikael yang dipenuhi dengan serbuk tepung terigu.
"Gak usah di ketawain. Penampilan kamu juga gak jauh beda dengan saya." Ujar Mikael sambil tertawa melihat penampilan Gladys.
Gladys menundukkan kepalanya melihat penampilannya lalu berbalik ke pintu lemari kaca, samar-samar dia melihat wajahnya yang kini telah memutih bagaikan orang yang akan tampil di opera cina tanpa pewarna wajah.
Gladys melihat sinis ke arah Mikael.
"Ini semua karena Kak Mika, bukannya menangkap bungkusan tepung terigu tadi, malah menangkisnya ke udara." Protes Gladys.
"Gak usah protes, lihat penampilan kita berdua." ujar Mikael yang mendorong tubuh Gladys menghadap ke kaca lemari.
Berlahan rasa kesal Gladys berganti dengan tawa, dia merasa lucu melihat penampilannya dan Mikael di depan kaca. Begitupun dengan Mikael yang ikut tertawa.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣