Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #79


__ADS_3

Mikael masuk ke dalam apertemennya dan langsung menuju ke kamar megahnya.


"Rasanya kek sepi banget yah. Padahal hanya 2 hari kamu tinggal di sini tapi saya sudah terbiasa dengan keberadaan kamu." Gumam Mikael lalu melihat pakaian yang di pakai Gladys di dalam keranjang pakaian kotornya di kamar.


Bi Jum memang tidak mencuci pakaian Mikael, laki-laki itu biasa memakai jasa laundry.


Mikael mengambil baju bekas di pakai Gladys. "Baju ini memang cocok di pakai sama kamu, baju saat saya masih duduk di bangku SMP. Untung Bi Jum masih ingat saya punya baju ini." Gumam Mikael dan mengembalikan baju tadi ke keranjang pakaian kotor.


***


Selesai mandi dan berpakaian Mikael menuju ke tempat tidurnya. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat dia melihat sekumpulan robekan kertas dekat keranjang pakaian kotornya.


"Kertas apaan nih?" Gumam Mikael lalu memungut kumpulan kertas tadi.


Beberapa robekan itu memperlihatkan setengah wajah Gladys.


"Yah Tuhan inikan foto Gladys dan laki-laki brengsek itu yang saya robek di apertemen Gladys tadi siang. Kenapa kebawa sampai di sini sih?"


Mikael melempar semua robekan foto itu ke tempat sampah.


Dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Mikael membuka kulkasnya yang hanya terisi telur dan nasi goreng bikinan Bi Jum pagi tadi.


"Bi Jum ngapain sih simpan nasi goreng di kulkas? Seharusnya bawa pulang aja ke rumahnya, saya juga gak tau cara manasinnya bagaimana."


Mikael mengambil telur dan membuat telur dadar sebagai makan malamnya bersama nasi putih yang telah di masak Bi Jum di ricecooker.


Apa Gladys udah makan? Apa dia baik-baik aja di sana? Apa dia udah minum obat? Pikir Mikael


Selesai makan malam, Mikael membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu. Dia lalu mengeluarkan hpnya dari saku celananya.


💬 To : Kepala Batu


Apa kamu baik-baik aja? Obatnya udah di minum belom?


"Chatnya udah terkirim tapi kenapa belum di baca?" Batin Mikael. Dia terus melihat ke layar hpnya, berharap Gladys segera membalaa chat WA-nya.


Mikael melihat jam di hpnya


3 enit telah berlalu tapi laki-laki iitu merasa sudah berjam-berjam Menunggu balasan chat dari Gladys.


Mikael membolak balikkan badannya lalu duduk di sofa, dia merasa gelisah sendiri menunggu balasan chat dari Gladys.


Drrrt drrt drrrt...


Dengan cepat Mikael melihat notifikasi yang tertera di layar hpnya.


💬 From : Kepala Batu.


Saya baik-baik aja Kak. Obatnya juga udah saya minum.


💬 To : Kepala Batu


Kenapa lama banget sih balas chatnya? Kamu dari mana?


💬 From : Kepala Batu


Sorry Kak Mika tadi saya lagi masak, nih sekarang lagi makan sama Mira.


💬 To: Kepala Batu


Kamu masak? Memangnya udah merasa baikan?


💬 From : Kepala Batu

__ADS_1


Udah kok Kak. Lagian tadi saya masaknya makanan simple dan di bantu Mira juga.


💬 To : Kepala Batu


Yah udah. Kamu makan aja dulu.


Tidak ada lagi balasan dari Gladys.


Mikael berdiri dari sofa dan menuju ke kamarnya, dia mencari obat yang biasa di minumnya.


Sudah menjadi kebiasaan Mikael sebelum dia tidur untuk meminum obat agar dia bisa tertidur dengan nyenyak.


"Bahkan bedcaver ini seperti tidak rela di tinggal sama kamu." Gumam Mikael yang mencium aroma tubuh Gladys dari bedcover.


***


Keesokannya


"Cepetan Ra, udah hampir jam 7 loh. Kata kamu perjalanan dari sini ke kantor 30 menit kan. Entar telat ke kantornya." Desak Gladys yang kini telah berada di teras rumah.


"Wait wait... Saya lupa ambil hp." Ujar Mira yang telah keluar namun kembali masuk ke dalam rumah.


"Selamat pagi Gladys." Sapa Dion.


"Selamat pagi Dion." Balas Gladys.


"Mobil Mira kemana?" Tanya Dion yang tidak melihat mobil Mira terparkir depan pagar seperti biasa.


"Mobil saya lagi di bengkel." Samber Mira yang baru saja menutup pintu rumahnya.


"Itu mobil udah kek pasien rumah sakit aja. Rajin banget keluar masuk bengkel." Celetuk Dion.


"Diam kamu. Mobil itu pemberian papa dari hasil kerja kerasnya, penuh kenangan tuh." Ujar Mira


"Enggak merepotkan?" Tanya Gladys.


"Enggak lah Dys, anter Ella aja hampir tiap hari dia bisa apalagi anter kita ke kantor yang lebih deket dari kantor dia dibandingkan kantor Ella." Gerutu Mira


"Kalau Ella mah beda urusan." Gumam Dion yang mengecilkan suaranya.


"Kamu bilang apa?" Tanya Mira yang sedikit mengeraskan suaranya.


"Gak ngomong apa-apa. Cepetan naik." Ujar Dion yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


Mira yang hendak membuka pintu mobil depan samping kemudi langsung di kunci oleh Dion dari dalam mobil.


"Kenapa di kunci Dioooon? Saya mau masuk." Ujar Mira geram.


"Kamu duduk di belakang." Ujar Dion lalu mempersilahkan Gladys untuk duduk di samping kemudi.


"Dasar, sama Gladys aja kamu sopan banget. Saya laporin Ella baru tau rasa kamu. Belum juga jadian udah mau selingkuh aja kamu." Gerutu Mira.


"Eh burung beo bisa diem gak sih? Masih pagi-pagi udah gerocos aja. Pantesan gak laku-laku." Balas Dion.


"Sialan kamu."


***


Mereka telah sampai di Lobby Pusaran kantor PT Winjaya Development.


"Terimakasih yah Dion, udah mau nganterin kita." Ujar Gladys sebelum mereka keluar dari mobil Dion.


"Terimakasih Bapak Dion terhormat." Canda Mira


"Sama-sama Gladys. Oh iya hati-hati yah ketularan tua sama orang di samping kamu. Bye" Ujar Dion dan langsung mentancap gas mobilnya.

__ADS_1


"Resek tuh orang emang." Gerutu Mira.


Gladys tersenyum mendengar ucapan Mira.


"Memangnya setiap kalian ketemu selalu kek gitu yah? Kek Tom & Jerry." Tanya Gladys sambil melangkah menuju lift kantor bersama Mira.


"Begitulah. Padahal awalnya tuh anak kalem banget semakin di kenal dia semakin kek orang gila. Tapi beda cerita lagi kalau dia bersama Ella." Jelas Mira.


"Tapi Dion lucu sih orangnya." Ujar Gladys setelah menekan tombol di samping pintu lift.


"Siapa yang lucu?" Tanya Mikael yang sedari tadi mengikuti mereka dari pintu masuk kantor.


"Kak Mika." Panggil Gladys yang terkejut dengan keberadaan Bossnya yang tiba-tiba.


"Selamat pagi Pak Mika." Sapa Mira yang tak kalah terkejutnya dengan Gladys.


"Jawab pertanyaan saya." Ujar Mikael datar tanpa membalas sapaan Mira padanya.


"Itu tetangga Mira di kontrakan. Yang kemarin panggil kamu..."


"Pintu liftnya udah terbuka. Kita masuk." Potong Mikael yang sebenarnya tidak ingin agar Gladys melanjutkan kalimatnya dan Mira sampai mengetahui kalau dirinya kemarin di panggil Paman dengan tetangga Mira itu.


Gladys menuruti perintah Mikael dan melangkah masuk ke dalam lift.


"Kamu gak masuk Ra?" Tanya Gladys yang melihat Mira hanya diam di tempatnya berdiri.


"Duluan aja. Saya naik di lift berikutnya aja." Ujar Mira.


Mikael langsung menekan tombol samping lift.


"Kenapa di tutup? Saya kan masih mau bicara dengan Mira." Protes Gladys.


"Kenapa? Mau bujuk dia? Ngapain, orang aja gak mau masuk." Ujar Mikael ketus.


"Tapi kenapa Kak Mika gak pake lift khusus aja sih? Selalu pakai lift karyawan." Protes Gladys.


"Terserah saya. Perusahaan, perusahaan saya juga." Celetuk Mikael.


"Kak Mika kenapa sih? Pagi-pagi udah nyebelin." Ujar Gladys.


"Siapa suruh gatain laki-laki lain lucu." Batin Mikael.


Setelah pintu lift terbuka Gladys dan Mikael langsung menuju ke ruangan masing-masing.


Gladys menyimpan tasnya di atas meja dan melangkah menuju ke dapur untuk menyiapkan kopi dan beberapa biskuit. Lebih dari satu minggu Gladys tidak melakukan kegiatan rutin paginya di kantor.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Hai Readers


Jangan lupa dukung author yah😉


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣

__ADS_1


__ADS_2