
Gladys membuat sebuah senyuman yang cukup lebar di wajah mungilnya, mengingat ucapan Mikael jika laki-laki itu hanya setuju kalau Gladys yang menjadi tetangganya. Di tambah lagi Mikael yang selalu ingin berada di sisinya.
"Senyumin aja terus sampai tuh bibir lebarnya panjangnya semeter." Ledek Mira yang telah keluar dari tempat persembunyiannya bersama Teddy.
"Ternyata Boss saya itu bisa juga salah tingkah di depan orang." Ujar Teddy. "Iya saya senang kamu bisa selalu berada di sisi saya." Ledek Teddy yang mengulang kembali kalimat Bossnya.
"Jadi saya benar-benar tidak salah dengar tadi?" Tanya Gladys dalam hati.
Gladys berusaha menyembukan senyumnya, hatinya sudah seperti terisi dengan berbagai bunga yang bermekaran indah.
"Apa saya sudah jatuh cinta pada Kak Mika?" Batin Gladys.
"Udah ah lanjutin kerjanya, bentar lagi kita ke kantor." Perintah Gladys yang kembali ke kamar utama untuk melanjutkan kerjanya.
"Lanjutin sepulang kantor aja. Capek." Keluh Teddy.
***
"Nih mulut gak bisa apa tahan dikit, jujur amar sih." Maki Mikael pada dirinya saat dia telah memasuki apertemennya.
Mikael kembali ke meja makannya, bukan untuk melanjutkan sarapannya tapi dia hanya duduk sambil memikirkan ucapannya tadi pada Gladys.
"Bi beresin aja makanannya saya udah gak nafsu makan." Titah Mikael pada Bu Jum.
"Baik Tuan. Apa Tuan udah tau siapa orang di dalam unit apertemen depan?" Tabya Bi Jum lalu mengambil piring bekas Mikael.
"Iya Bi, itu suara Gladys, Mira dan Teddy."
" Non Gladys jadi pindah? Wah bagus tuh, Tuan jadi bisa lebih dekat dengan Non Gladys."
"Semoga saja." Sahut Mikael lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kantornya.
"Bi Jum saya pamit yah." Mikael melangkah menuju ke pintu apertemennya dan sebelum Ia membuka pintu di hadapannya Mikael menarik napas lalu menghembuskannya lewat mulut sampai tiga kali.
"Tenang Mika, kamu harus bersikap normal. Anggap kata-kata itu gak pernah kamu ucapkan. Jangan sampai kamu terlihat canggung di depan Gladys." Gumam Mikael lalu membuka pintu apertermennya.
"Selamat pagi Pak Mika." Sapa Teddy saat sedang menunggu dua wanita yang masih berada di dalam unit apertemen Sky-2002.
"Pagi. Lingkaran mata kamu kenapa, kulit kamu juga kelihatan kusam gitu?" Tanya Mikael heran.
"Ini karena calon Nyonya Mikael Winjaya yang sudah menghantui saya sedari subuh. Bayangin aja Pak Mika saya tidur jam 2 subuh, di telponin terus jam 4 subuh dan jam 5.30 saya audah harus ada di deoan rumah kontrakan Mira." Keluh Teddy.
__ADS_1
Mikael terkekeh mendengar ucapan Teddy yang menyebut Gladys sebagai Calon Nyonya Mikael Winjaya.
"Pak Mika malah senyum mendengar penderitaan saya." Protes Teddy.
"Memangnya kamu habis ngapain? Sampai tidur jam 2 subuh."
"Main game online." Jawab Teddy singkat
"Itu mah salah kamu sendiri, saya kan udah bilang jam 4 saya akan telepon kamu untuk bangun dan siap-siap untuk jemput saya." gerutu Gladys yang baru saja keluar dari apertemennya lalu menekan tombol di samping lift.
"Kenapa kamu gak suruh saya untuk jemput kamu?" Tanya Mikael yang mencoba menepis rasa canggungnya di deoa Gladys
"Saya hanya gak mau merepotkan Kak Mika saja." Jawab Gladys.
"Gak mau merepotkan Pak Mika, tapi malah saya yang jadi korban." Protes Teddy.
"Jadi ceritanya kamu gak ikhlas nolongin Gladys?" Ucap Mira yang melirik tajam ke arah Teddy.
"Tatapan kamu ngeri amat sih. Ikhlas sih tapi capek."
"Itu namanya gak ikhlas, dasar tukang ngeluh." Omel Mira.
"Belum." Jawab Gladys.
"Yah sudah sekarang kita ke kantor, nanti sepulang kantor biar saya yang bantuin Gladys." Ujar Mikael setelah pintu lift terbuka.
***
Gladys berada satu mobil dengan Mikael, sementara Teddy bersama Mira.
"Kak Mika yakin ingin mrmbantu saya rapihin barang-barang sepulang kerja?" Tanya Gladys.
"Iya yakin, memangnya kenapa kamu tanya begitu?" Tanya Mikael tanoa mengalihkan pabdangannya dari jalan raya.
Gladys terus melihat wajah Mikael yang tampak serius dengan aktivitas yang sedang di kerjakannya, menyetir mobil. Wanita cantik itu seakan terhipnotis dengan wajah tampan milik Mikael, walau dia hanya melihatnya dari arah samping wajah Mikael.
Mikael yang merasa terabaikan olleh Gladys yang tak kunjung menjawab pertanyaannya mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Gladys dan mendapati wanita itu sedang menatapinya.
"Hello Sayang, tatapannya biasa aja dong. Sampai segitunya ngelihatnya."
Gladys kembali tersadar karena ucapan Mikael barusan.
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Gladys yang berusaha kembali mengingat apa yang di katakan laki-laki di sampingnya tadi.
"Ohh... Saya hanya tidak ingin Kak Mika merasa capek setelah seharian kerja dan masih harus membantu saya." Lanjut Gladys setelah kembali mengingat pertanyaan Mikael sebelumnya.
"Gladys Santoso kamu kenapa sih? Sadar sadar." Batin Gladys.
"Gak papa. Saya senang kok bisa bantu kamu." Ujar Mikael lalu mengusap lembut pucuk rambut Gladys
Gladys kembali tersenyum malu-malu dengan perlakuan yang di terimanya tapi diaberusaha menyembunyikannya agar tidak terlihat oleh laki-laki di sampingnya.
30 menit perjalanan mereka telah tiba di lobby pusaran kantor Winjaya Development.
Mikael dan Gladys keluar dari mobil lalu Mikael memberikan kunci mobilnya pada satpam kantor untuk memarkirkan mobilnya di aprkiran khusus.
"Hai." Sapa seorang wanita yang baru saja menghampiri mereka membuat langkah merrka berdua terhenti.
"Kamu ngapain di kantor saya?" Tanya Mikael ketus, dia benar-benar tidak suka melihat keberadaan wabita di hadapannya ini.
"Kamu kapan sih bisa berubah sama saya?" Tanta wanita itu dengan gaya centilnya.
"Selamat pagi Mbak Marsha." Sapa Gladys.
"Kamu masih aja panggil saya Mbak." Protes Marsha dengan ketus.
"Sabar sabar sabar, masih pagi Dys." Batin Gladys.
"Sayang gak usah perduliin dia, kita pergi sekarang."
Mikael dan Gladys melanjutkan langkah mereka yang tertunda karena Marsha.
Marsha melihat sinis kepergian mereka, dia mengulas sebuah senyum.
"Kali ini saya tidak akan gagal lagi." Gumamnya.
.
.
.
Bersambung.... ^^
__ADS_1