Between Real Or Fake

Between Real Or Fake
BROF #75


__ADS_3

Hari ini Mikael meminta Bi Jum untuk tinggal di apertemennya selama beberapa hari.


Tok tok tok


Karena tidak ada sahutan dari dalam Bi Jum memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Tuannya yang sekarang di tempati Gladys.


"Permisi Non, saya bawain makan malam." Ujar Bi Jum begitu dia memasuki kamar Tuannya.


"Maaf Bi Jum saya lagi gak nafsu makan." Tolak Gladys sopan.


"Tapi Non belum makan seharian loh." Ujar Bi Jum mengingatkan Gladys.


Mikael yang mendengarnya dari balik pintu langsung masuk ke dalam.


"Sini Bi. Biar saya saja." Ujar Mikael yang mengambil baki berisikan mangkuk bubur dan segelas air putih.


"Kalau begitu Bibi permisi dulu Tuan. Mau ke dapur." Pamit Bi Jum.


"Iya Bi Jum. Terimakasih." Ujar Mikael.


Bi Jum telah keluar dari kamar Mikael.


Mikael menaruh baki yang dipegangnya ke atas nakas lalu mengambil mangkok berisikan bubur.


"Kamu harus makan Dys. Lagian kamu juga harus minum obat. Saya suapin yah?" Bujuk Mikael.


"Saya benar-benar gak nafsu makan Kak Mika."Ujar Gladys memelas.


"Beberapa sendok aja. Gak perlu sampai habis, yang penting perut kamu terisi habis itu minum obat."


Dengan terpaksa Gladys menuruti keinginan Mikael, dia membuka mulutnya kecil agar bubur yang masuk ke mulutnya tidak banyak.


"Mulutnya di buka lebar gimana nih bubur bisa masuk." Ujar Mikael.


"Tapi saya...."


"Buka mulut kamu lebar atau kamu harus habisin semangkok bubur ini? Biarin aja kalau saya harus suapin kamu sampai besok pagi." Ancam Mikael.


"Aaa." Gladys membuka mulutnya lebar.


"Good girl." Mikael tersenyum lebar.


"Dasar kepala batu." Batin Mikael.


Benar saja baru beberapa suap Mikael menyuapi Gladys, wanita itu sudah menolak suapan berikutnya.


"Saya udah gak mau Kak Mika. Perut saya rasanya gak enak." Lirih Gladys.


"Ok saya berhenti suapin kamu. Kalau begitu sekarang kamu minum obat dulu, tadi Teddy sudah menebus semua resep obat kamu dari Dokter Nano." Ujar Mikael yang membuka satu persatu obat yang harus di minum Gladys.


Gladys menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Setelah meminum obat-obatnya, Mikael menyuruh Gladys untuk segera tidur.


***


Setelah 5 jam berlalu Mikael masuk ke dalam kamarnya sekedar mengecek keadaan Gladys. Ternyata wanita itu tengah tertidur pulas.

__ADS_1


Dia membuat segaris senyum di bibirnya. "Semoga kamu cepat sembuh dan melupakan laki-laki brengsek itu." Gumam Mikael lalu memperbaiki selimut Gladys yang sedikit berantakan.


"Good night Sayang."


Mikael keluar dari kamarnya, dia tidur di kamar tamu yang ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran kamarnya.


***


Keesokannya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukkan dari luar kamar yang di tempati Mikael.


"Ada apa Bi Jum?" Tanya Mikael dari dalam kamar.


"Ada Mas Teddy Tuan datang." Jawab Bi Jum.


"Suruh dia tunggu, saya segera keluar."


"Baik Tuan."


Bi Jum segera pergi dan menyampaikan pesan Tuannya pada Teddy.


Mikael segera bangun dari tempat tidur, dia memaksakan tubuhnya yang terasa berat untuk segera bangun dan bersiap untuk menemui sekretarisnya.


Setelah bersiap Mikael langsung melangkah menuju ke ruang tamunya.


"Kamu sadar gak sekarang baru jam berapa?" Tanya Mikael begitu melihat keberadaan Teddy dan langsung mendudukkan tubuhnya ke sofa tunggal miliknya.


"Jam 7.00." Jawab Teddy.


"Maaf Pak Mika. Lagian saya juga ke sini gak hanya urusan perusahaan tapi juga mau jenguk Gladys. Tapi kata Bi Jum Gladys masih tidur."


Hari ini Mikael memang memutuskan untuk tidak ke kantor. Alhasil Teddy lah yang ke apertemen Bossnya jika ingin meminta tanda tangan Mikael.


"Kamu bawa apaan?" Tanya Mikael yang melihat kantong plastik berwarna putih di samping Teddy.


Teddy memberikan map folder yang berisikan dokumen yang harus di tanda tangani Bossnya.


"Saya bawakan cokelat untuk Gladys." Jawab Teddy.


"Memangnya Gladys suka cokelat?" Tanya Mikael.


"Pak Mika gimana sih, selera pacar sendiri gak tau. Gladys itu suka sama cokelat, Roti cokelat, susu cokelat." Jawab Teddy.


"Saya baru tau kalau anak itu suka makan cokelat." Batin Mikael.


Setelah mendengar jawaban Teddy, dia membuka map folder yang di bawa sekretarisnya dan hanya fokus membaca dokumen di dalamnya.


"Bagaimana dengan sengketa tanah PT Makmur? sudah ada konfirmasi dari mereka mengenai pembangunannya?" Tanya Mikael lalu menandatangani dokumen yang baru saja selesai di bacanya.


"Belum ada Pak, kabar terakhir dari perwakilan mereka katanya pihak pengacara mereka sedang mengurusnya dan setelah semuanya beres kita bisa melanjutkan pembanguanan yang tertunda." Jelas Teddy.


"Setelah pembangunan selesai, saya tidak ingin ada kerja sama lagi dengan mereka. Jika bukan karena Papa, saya tidak ingin melanjutkannya lagi." Ujar Mikael.


"Baik Pak saya akan mengingatnya."

__ADS_1


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Mikael.


Teddy tersenyum malu-malu. "Belum Pak." Jawab Teddy.


"Yah sudah sebelum ke kantor kamu sarapan dulu."


Mikael melangkah menuju ke meja makan dan melihat Bi Jum yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan.


"Sarapannya udah Bi?" Tanya Mikael.


"Sudah Tuan."


"Kalau gitu saya lihat Gladys dulu. Bibi siapin sarapan untuk Teddy juga yah."


"Iya Tuan."


Mikael kembali melangkah, dia menuju ke kamarnya yang kini dipakai Gladys.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Berulang kali Mikael mengetuk pintu kamar, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam hingga Mikael membuka pintu kamar dan mendapati Gladys tidak berada di tempat tidur.


"Gladys." Panggil Mikael dan tetap tidak ada sahutan dari waniya itu


Mikael memutuskan untuk mengecek ke kamar mandi, namun di dalam kamar mandi tidak ada siapa-siapa. Mikael mulai panik dan mencoba mencari keberadaan Gladys ke walk-in closet namun hasilnya sama saja.


"Gladys kamu dimana?" Perasaan takut kini mulai menghantui Mikael, dia takut jika Gladys berbuat yang aneh-aneh mengingat emosi Gladys yang masih labil.


"Gladys." Panggil Mikael kembali yang mulai frustasi mencari keberadaan wanita itu.


Mikael melangkah keluar dari walk-in close, kini dia berdiri di dekat tempat tidur.


Balkon. Pikir Mikael lalu melangkah menuju ke balkon.


Benar saja, Mikael melihat Gladys dari balik pintu kaca sedang menutup mata dan merentangkan kedua tangannya membuat Mikael terkejut dan segera membuka pintu kaca untuk mendekati Gladys. Dia takut jika Gladys akan bunuh diri dengan lompat dari balkon.


"Gladys, kamu jangan nekat." Ujar Mikael pelan sambil sedikit demi sedikit melangkah mendekati Gladys. Namun ucapan Mikael tidak mendapat respon dari Gladys.


Saat posisinya benar-benar dekat dengan Gladys, Mikael langsung memeluk Gladys dan melangkah mundur, menjauh dari railing balkon.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Maaf yah Author tela**t sehari.


Mohon tetap dukung Author yah readers😉

__ADS_1


Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊


Terimakasih❣**


__ADS_2