
Begitu Gladys membuka pintu ruangan Mikael.
"Saat kamu fotocopy dokumen tadi, kamu lagi gapain ha?" Bentak Mikael.
Gladys melangkah menghampiri Mikael, jantungnya berdegup kencang mendengar Mikael yang membentaknya tanpa tau apa sebenarnya kesalahannya.
"Kenapa kamu diam? Jawab?" Bentak Mikael lagi.
"Ta ta tadi saya meminta tolong ke Mira untuk mengajarkan cara menggunakan mesin fotocopy. Setelah saya tau, saya melanjutkannya sendiri." Ujar Gladys gugup.
"Pantas saja salah, kamu bisa tidak kerja lebih teliti? kerjaan simple gini saja kamu bisa melakukan kesalahan. Untungnya rapat kali ini rapat internal mempertimbangkan keinginan klien. Bagaimana kalau rapat tadi itu dengan pihak eksternal dengan klien, bisa malu besar. Hal kecil gini saja kamu gak becus." Jelas Mikael yang masih merasa kesal.
"Ma maaf pak, kalau boleh tau apa kesalahan saya?" Tanya Gladys ragu.
"Kamu tanya apa kesalahan kamu? Lucu kamu. Sekarang kamu bawa dokumen ini dan cari tau apa kesalahan kamu."
"Baik Pak." Ujar Gladys lalu mengambil dokumen di atas meja Mikael lalu berpamitan.
Gladys telah kembali ke meja kerjanya dengan perasaan kesal karena terus di bentak tanpa tau apa kesalahnnya.
Teddy yang berada di samping Gladys, terus memperhatikan Gladys yang membolak balikkan berkas yang di fotocopynya tadi.
"Dys kamu tau gak apa kesalahan kamu?" Tanya Teddy.
"Teddy please jangan main tebak-tebakkan kek si boss, saya gak tau apa kesalahan saya tapi daritadi saya terus di bentak-bentak." Ujar Gladys geram.
"Coba deh kamu bandingin halaman dokumen asli ini dan dokumen fotocopy ini." Ujar Teddy.
Gladys terus membandingkan berkas tersebut lalu berhenti.
__ADS_1
"Gimana? sekarang kamu paham apa kesalahan kamu?" Tanya Teddy
"Iya, sekarang saya mengerti kesalahan saya. Saya tidak mencopy 2 halaman terakhir dokumen ini."
"Benar. Pak Mika paling benci yang namanya kesalahan, dia ingin semuanya perfect." Ujar Teddy.
"Terus sekarang saya harus gapain? biar pak Mika maafin saya." Tanya Gladys yang merasa bersalah.
"Mending kamu masuk ke ruangan Pak Mika dan minta maaf. Akui kesalahan kamu."
"Gimana kalau Pak Mika gak mau maafin? malah di bentak lag.i"
"Coba dulu."
Gladys terpaksa menuruti saran Teddy.
Tok tok tok
"Pak Mika saya sudah tau kesalahan saya dan saya ingin minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, saya akan bekerja sebaik mungkin." Ujar Gladys dengan satu tarikan napas.
Mikael yang masih fokus dengan semua dokumen-dokumen di depannya hanya menjawab "hmm" yang membuat Gladys menjadi bingung mendengarnya. Dia ingin bertanya tapi juga merasa takut.
"Saya anggap jawaban Pak Mika tadi sebagai tanda kalau Bapak telah memaafkan saya, terimakasih pak. Saya pamit dulu." Ujar Gladys lalu melangkah keluar dari ruangan Mikael.
Sementara Mikael yang mendengarnya tersenyum sambil melihat punggung Gladys yang telah menghilang di balik pintu.
Gladys kembali ke meja kerjanya dan dia disambut dengan pertanyaan Teddy.
"Gimana? Apa jawaban Pak Mika?"
__ADS_1
"Dia hanya menjawab hmm, dan saya tidak mengerti artinya. Jadi saya hanya mengatakan kalau Pak Mika telah memaafkan saya lalu saya keluar. Menurut kamu artinya apa?"
"I don't know." Jawab Teddy yang berusaha mencari artinya di kepalanya.
***
Gladys melihat jam di tangannya yang menujukkan pukul 05.00 sore.
"Teddy kamu belum mau pulang?" Tanya Gladys yang melihat Teddy masih fokus pada komputer di depannya.
"Bentar lagi. Nanggung kalau di tinggal sekarang." Jawab Teddy.
Mikael keluar dari ruangannya.
"Teddy besok saya minta daftar karyawan perusahaan lengkap dengan devisi mereka." Ujarnya
"Baik Pak." Ujar Teddy.
Kini Mikael melangkah menuju ke lift. Sementara Gladys yang mendengar perintah Mikael tadi membuatnya panik.
"Teddy apa saya akan dipecat?" Tanya Gladys.
"Maksud kamu? Kok kamu bisa berpikiran begitu?"
"Untuk apa coba pak Mika minta daftar karyawan kalau bukan untuk mecat saya." Jelas Gladys.
"hhhmmmm.... maybe yes maybe no."
"Berarti 50:50 dong." Ujar Gladys panik.
__ADS_1
Teddy tertawa melihat ekspresi Gladys yang terlihat lucu.