
Aaron yang hendak masuk ke dalam ruangan Mika, tidak melihat keberadaan Gladys, dia hanya melihat Teddy yang sedang fokus pada laptopnya.
Apa Mika sedang keluar bersama Gladys. Pikir Aaron
"Boss ada kan?" Tanya Aaron.
"Ada, tapi..."
Aaron hanya ingin tau Bossnya ada atau tidak, setelah mendengar jawaban Teddy kalau Bossnya ada dia langsung melangkah menuju ke pintu CEO.
Baru setengah pintu terbuka, laki-laki itu sudah melihat pemandangan yang membuat siapapun yang melihatnya sangat terkejut. Dia melihat Bossnya yang terlihat seperti ingin mencium asistennya.
Mikael yang menyadari Aaron yang sedang membuka pintu ruangannya menatap sinis ke sahabatnya seakan dia mengatakan dengan tatapan matanya jika dia tidak ingin di ganggu.
"Sorry salah kamar." Ujar Aaron spontan lalu menutup pintu ruangan CEO rapat dengan cepat
Aaron kembali melangkah ke meja kerja Teddy.
"Hei Teddy Bear, kamu kenapa gak bilang kalau mereka sedang bermesraan di dalam?" Tanya Aaron yang merasa geram dengan Teddy.
"Bapak Aaron tadi saya sudah mau bilang kalau Pak Mika sepertinya sedang ingin berdua dengan pacarnya, tapi anda main nyelonong aja masuk." Jelas Teddy yang tidak ingin di tuduh oleh Aaron.
Sementara di dalam ruang CEO.
Gladys merasa panik dan malu karena Aaron pasti sudah melihat dia tadi menangis, di tambah lagi Mikael yang tadi memegang kedua pipinya.
"Sekarang gimana Kak? Kak Aaron pasti salah paham melihat kita, saya jadi malu. Kak Mika harus jelasin kek Kak Aaron." Rengek Gladys sembari menghapus air mata yang tersisa di pipinya.
"Biarin aja dia berpikir sesukanya. Kamu ini seperti orang yang sedang di grebek aja. Kita gak melakukan apa-apa sampai harus di jelasin segala." Jelas Mikael.
"Tapi Kak Mika saya merasa gak enak sama Aaron, saya malu."
"Kasih kucing aja kalau gak enak, nanti saya beliin yang baru." Canda Mikael.
"Kak Mika." Gladys kembali merengek, dia mengoyang-goyangkan tangan Mikael membuat laki-laki itu tersenyum melihat tingkah Gladys.
"Malah senyum." Ujar Gladys.
"Habisnya kamu kelihatan lucu. Bikin gemes tau gak." Mikael menjipit hidung Gladys di kedua jarinya.
"Kak Mika." Teriak Gladys.
"Udah ah saya mau keluar, Kak Aaron mungkin udah pergi juga." Lanjut Gladys.
"Dia masih ada di luar." Ujar Mikael.
Gladys tidak memperdulikan perkataan Mikael, dia tetap melangkah menuju ke pintu dan keluar dari ruangan CEO.
__ADS_1
"Hai Gladys." Sapa Aaron yang duduk tepat di meja kerja Gladys.
Gladys yang melihat keberadaan Aaron, spontan masuk kembali ke dalam ruangan CEO tanpa membalas sapaan Aaron padanya. Wanita itu berjalan mundur. Dia terkejut melihat keberadaan Aaron.
Baru saja Gladys berada di dalam ruang CEO, tubuh Gladys terbentur sesuatu. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan mendapati dada bidang Mikael.
"Kak Mika. Kak Aaron masih ada di luar." Bisik Gladys.
Mikael menyandarkan tubuh Gladys ke dinding yang berjarak sekitar 20 cm di belakang Gladys lalu merapatkan pintu ruangannya yang belum tertutup rapat tepat di samping Gladys berdiri saat ini.
Mikael mendekatkan wajahnya ke wajah Gladys, berlahan namun pasti wajah mereka semakin dekat membuat jantung Gladys berdetak tidak karuan dan tanpa sadar Gladys membelalak matanya.
"Saya kan sudah bilang, tapi kamu tidak percaya." Bisik Mikael ke telinga Gladys membuat Gladys yang menghembuskan napas legah karena dia berpikir jika Mikael akan menciumnya.
"Kamu tadi memikirkan apa, sampai menghembuskan napas panjang gitu?" Ledek Mikael lalu tersenyum jail. Dia memang sengaja mengerjai Gladys, seakan dirinya akan mencium wanita itu.
"Gak ada." Jawab Gladys berbohong, dia melihat ke sembarang arah.
Mikael menatap mata Gladys lekat, lalu turun ke hidung dan ke bibir merah Gladys yang nampak sangat menggoda baginya, membuat diri Mikael ingin mengecup bibir mungil itu. Tidak, Mikael menginginkan lebih dari hanya sekedar kecupan. Dia ingin menjelajahi dan menikmati bibir Gladys, bahkan bagian lain dari tubuh wanita cantik itu.
Mikael menjauhkan tubuhnya dari Gladys, dia tidak ingin lepas kendali dan membuat wanita yang di cintainya menjadi menjauh darinya lagi. Dia ingin melakukannya dengan persetujuan dari Gladys, tidak seperti yang sudah pernah terjadi.
"Aaron sudah pergi. Kamu bisa kembali ke meja kerja kamu" Ujar Mikael saat tidak mendengar suara Aaron lagi.
Mikael tidak ingin Gladys lebih lama lagi berada di dekatnya, dia takut lepas kendali dan terbawa suasana.
Gladys menuruti perkataan Mikael, dia langsung keluar dari ruang CEO.
Jarak Mikael dengannya tadi membuat dadanya terasa sesak.
"Tenang tenang tenang Dys." Ujar Gladys yang mengatur napasnya.
"Tarik napas buang." Canda Teddy yang tiba-tiba sudah berada di samping Gladys sembari mengambil gelas kosong lalu menuangkan kopi bubuk instan ke dalam gelas.
"Teddy, kamu bikin kaget saja." Ujar Gladys.
"Kamu tuh terlalu serius olahraga dadanya, sampai gak sadar saya masuk ke pantry." Ledek Teddy.
"Bay the way, kata Pak Aaron tadi dia lihat Pak Mika ingin mencium kamu, apa itu benar?" Tanya Teddy penasaran.
"Enggak, tadi Kak Mika bukan ingin cium saya." Ujar Gladys kikuk.
"Gak usah bohong, tadi Mira juga dengar kok cerita Pak Aaron."
"Dasar Pak Aaron suka cerita yang tidak-tidak, mana di sebar lagi." Gerutu Gladys.
"Kamu tenang aja, saya dan Mira gak akan cerita ke siapa-siapa kok. Mulut kita terkunci rapat-rapat."
__ADS_1
"Tapi kejadiannya benaran gak seperti yang di ceritain sama Kak Aaron." Ujar Gladys kesal sekaligus malu.
Gladys melangkah keluar dari pantry, dia kembali ke meja kerjanya.
***
"Serius amat kerjanya." Ujar Mira yang menghampiri Gladys ke meja kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Gldsya yang mengalihkan pandangannya ke Mira. "Kamu kenapa sih cengegesan gak jelas gitu, kek orang gila tau gak."
"Yaelah, bedain dong mana orang gila dan mana ornag yang sedang bahagia."
"Kamu bahagia kenapa?"
"Karena kamu."
"Jangan bilang karena gosip gak bener yang diceritain Kak Aaron tadi siang." Tebak Gladys.
Mira mengangguk tanda mengiyakan.
"Itu gak bener. Jangan di percaya dong" Ujar Gladys, memelas agar Mira tidak mempercayai perkataan Aaron.
"Biarin gak bener, tapi tadi kita habis dengar suara bisik-bisik mengairahkan dari balik pintu Pak Mika." Ledek Mira.
"APA? Kalian ini benar-benar yah, keponya kelewatan. Sampai nguping di balik pintu." Gerutu Gladys
Mira kembali tertawa geli. "Jujur aja kali, kalian ngapain di balik pintu?"
"Bisa diam gak itu mulut? Atau mau di sumbat dengan kertas?" Ancam Gladys geram.
"Gak usah marah, entar cepat tua loh."
"Udah ah Ra gak usah di bahas. Kita pulang yuk." Ajak Gladys yang telah selesai merapikan dokumen-dokumen di atas mejanya.
"Gladys." Panggil seseorang.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣